Detail Berita:
Smamda.Sch.Id — Pendakwah kondang Ustaz Wijayanto menyampaikan tausiyah dalam Tabligh Akbar yang merupakan rangkaian acara memperingati Milad ke-50 tahun SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Smamda), Jumat (16/1/2026).
Membuka tausiyahnya, Ustaz Wijayanto menyampaikan ucapan selamat milad ke-50 tahun Smamda. "Selamat milad, barakallah fii umrik, mudah-mudahan Allah Swt berikan keberkahan di dalam 50 tahun Smamda, barakallah fii umrik," ucapnya.
"Mudah-mudahan thola umruhu wa hasuna amaluhu, dipanjangkan usia dan diperbanyak kebaikan-kebaikan yang ada di Smamda ini," sambung ustaz yang juga seorang dosen itu.
Menurut Ustaz Wijayanto, ucapan milad selalu dikaitkan dengan keberkahan, karena dalam kehidupan yang menjadi prioritas dan harus dipentingkan adalah keberkahan.
Pentingnya Pemimpin yang Kompeten
Dalam kesempatan itu, Ustaz Wijayanto menegaskan pentingnya sosok pemimpin yang benar-benar memahami permasalahan dan mampu memimpin serta mengambil keputusan yang tepat dalam setiap langkah.
"(Misalnya) Smamda ini mau bagus atau tidak itu tergantung pada pimpinan-pimpinan yang ada di sini, dan alhamdulillah ternyata banyak prestasi. Maka, alhamdulillah Smamda berada di bawah orang yang pas," kelakarnya.
Menukil hadis "idza wusidal amru ila ghairi ahlihi fantadziris sa'ah," ia menegaskan bahwa jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka akan menghasilkan kerusakan dan kehancuran.
Menurut Ustaz Wijayanto, sosok pemimpin harus menjadi teladan, termasuk pemimpin di lingkungan sekolah maupun di dalam keluarga. "Jadilah pribadi yang mempesona, jadilah panutan, uswah dan qudwah," tandasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan dan pembinaan di lingkungan keluarga. Sekolah, menurutnya, hanya membantu mendidik dan memberikan wawasan pengetahuan, tetapi yang paling penting adalah bagaimana pendidikan di keluarganya.
"Karena sukses seperti apapun di sekolah, (juga) sangat tergantung pada rumah (keluarga). Sulitnya sekarang ini matching (menyesuaikan) antara yang dididik di sekolah dan di rumah," sorotnya.
"Jangan sampai ini di sekolah diajari doa Musa, ternyata di rumah perilakunya Firaun," sebut Ustaz Wijayanto.
Menciptakan Lingkungan dan Suasana yang Baik
Lebih lanjut, Ustaz Wijayanto menilai bahwa setiap orang memiliki keterpengaruhan, baik ia terpengaruh oleh orang lain maupun ia memengaruhi orang lain. Sebab itu, ia menekankan pentingnya membangun lingkungan dalam suasana yang baik dan kondusif.
"Orang punya asas keterpengaruhan, maka tugas orang tua harus membangun bi'ah, suasana agama, bi'ah yang hasanah," katanya.
"Kalau ingin betul-betul anak-anak kita menjadi anak yang menjadi anak surgawi, yang nanti bukan sekadar anak yang masuk surga, tetapi nanti bisa mengangkat orang tuanya menuju surga yang lebih tinggi adalah kalau ada suasana agama di semua tempat," imbuhnya.
Darurat Masalah Perundungan
Tak cuma itu, Ustaz Wijayanto juga menyoroti masalah perundungan (bullying) anak-anak, yang menjadi persoalan kritis di berbagai negara.
Ia menceritakan pengalamannya selama beberapa kali ke Jepang. "Di Jepang itu problem utama di sekolah sekarang adalah bullying. Di Jepang saya enam kali bicara di Jepang mengenai ini di banyak kota," kisahnya.
Kasus bunuh diri di Jepang, kata dia, umumnya disebabkan oleh alasan kebosanan kehidupan lantaran tidak memiliki kelompok untuk bersosialisasi, tekanan dan beban kerja yang tinggi, masalah asmara atau percintaan, serta masalah perundungan.
Menurutnya, problem utama persoalan perundungan yang berujung pada kasus bunuh diri adalah terkait pembinaan karakter. "Problem utamanya adalah pembinaan karakter. Sulit menghasilkan siswa ataupun sarjana yang berkarakter," sorotnya.
Meski begitu, ia mengaku yakin bahwa di lingkungan pendidikan Muhammadiyah tidak akan ditemukan masalah perundungan, sebab telah menanamkan pendidikan karakter yang unggul dan islami, sesuai nilai-nilai kemuhammadiyahan.
"Kalau di Smamda ini tidak ada, karena pendidikan karakternya sudah ditanamkan, bagus, ngajinya rutin dan bagus, sekolahnya punya masjid, salat lima waktunya terjaga," tandas Ustaz Wijayanto.
Editor : Khusnul Isa