Detail literasi:
Di balik setiap inovasi, selalu ada kegelisahan seorang guru yang tak ingin muridnya tertinggal. Ada doa yang diselipkan dalam setiap rancangan pembelajaran, serta harapan yang disematkan pada setiap strategi baru yang dicoba. Inovasi lahir bukan dari ambisi untuk tampil, melainkan dari kepedulian untuk memperbaiki.
Semangat itulah yang terasa kuat dalam Lomba Inovasi Guru pada ajang Olympicad yang digelar di Makassar pada 12–14 Februari 2026. Panggung tersebut bukan sekadar ruang kompetisi, melainkan ruang perjuangan gagasan—tempat para guru menghadirkan karya terbaik demi satu tujuan: menjadikan pembelajaran lebih bermakna.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Ia menjadi ruang temu ide dan refleksi bersama tentang arah pendidikan hari ini—yang penuh kreativitas dan semangat kolaborasi, namun tetap menyisakan pekerjaan rumah untuk terus meningkatkan kualitas serta dampaknya.
Beragam karya berupaya menjawab persoalan nyata di kelas, mulai dari rendahnya motivasi belajar, kesulitan memahami konsep abstrak, hingga kebutuhan diferensiasi pembelajaran. Guru tidak lagi sekadar membuat alat bantu, melainkan merancang ekosistem belajar yang utuh dan terintegrasi.
Di antara deretan karya tersebut, MOPERCOMKA (Monopoli Permutasi dan Kombinasi Berbasis Karakter Budaya) menghadirkan pesan kuat bahwa matematika dapat diajarkan secara menyenangkan tanpa kehilangan kedalaman konsep. Inovasi ini tidak berhenti pada modifikasi permainan, tetapi dirancang sebagai pembelajaran terintegrasi yang memadukan pemahaman kombinatorial secara mendalam dengan penguatan karakter, nilai-nilai keislaman, konteks budaya, serta dukungan teknologi melalui media interaktif.
Kekuatan MOPERCOMKA terletak pada integrasinya. Murid tidak hanya bermain, tetapi juga menganalisis kemungkinan, menyusun strategi, berdiskusi, dan melakukan refleksi. Proses berpikir menjadi pusat pembelajaran.
Dampaknya terlihat pada perubahan suasana kelas. Murid lebih aktif, percaya diri dalam mengemukakan pendapat, dan terlibat secara emosional. Matematika tidak lagi dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang menekan, melainkan sebagai tantangan intelektual yang menyenangkan. Ketika pembelajaran mampu menyentuh ranah kognitif sekaligus afektif, di situlah inovasi menemukan maknanya.
Keberhasilan MOPERCOMKA meraih medali perak kategori Karya Inovasi yang dipresentasikan oleh Suwidiyanti, Guru Matematika SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (SMAMDA), dalam Olympicad Makassar 2026 menjadi penanda bahwa inovasi berbasis integrasi memiliki daya saing di tingkat nasional. Prestasi tersebut bukan sekadar simbol capaian, melainkan legitimasi bahwa pembelajaran yang dirancang dengan kedalaman, karakter, dan relevansi kontekstual memiliki tempat di panggung nasional.
Namun demikian, seiring meningkatnya kualitas karya, standar penyelenggaraan lomba perlu terus ditingkatkan. Transparansi dan konsistensi rubrik penilaian menjadi penting agar peserta memahami indikator secara objektif. Perbedaan perspektif juri merupakan keniscayaan akademik, tetapi kejelasan parameter akan memperkuat rasa keadilan dan profesionalitas.
Penekanan pada evidence of impact juga perlu diperkuat. Inovasi berbasis proses jangka panjang tidak selalu tampak spektakuler dalam presentasi singkat. Data peningkatan hasil belajar, perubahan perilaku murid, serta refleksi peserta didik semestinya memperoleh bobot yang proporsional dalam penilaian.
Lebih jauh lagi, Olympicad akan semakin bermakna apabila tidak berhenti pada seleksi juara. Ruang dialog, bedah inovasi, serta pendampingan pascalomba akan menjadikannya sebagai gerakan transformasi, bukan sekadar kompetisi tahunan. Inovasi yang baik tidak cukup diapresiasi; ia perlu direplikasi dan disebarluaskan agar memberi dampak yang lebih luas.
Yang paling menginspirasi dari panggung Makassar sesungguhnya bukan siapa yang berdiri di podium, melainkan keberanian para guru untuk keluar dari zona nyaman. Mereka datang membawa gagasan, mempresentasikannya dengan keyakinan, menerima kritik dengan lapang, dan pulang membawa refleksi. Budaya akademik seperti inilah yang menjadi fondasi kemajuan pendidikan. Inovasi sejati bukan tentang siapa yang paling meriah, melainkan siapa yang paling berdampak hari ini di ruang kelas dan esok dalam perjalanan masa depan para murid.
Editor: Moh. Ernam