Malam Muhasabah Baitul Arqom, Murid SMAMDA Sidoarjo Belajar Melepaskan “Genggaman Kaca”

Daviqa Sukmawati | 12 Maret 2026

Detail Berita:

SMAMDA.SCH.ID – Lampu Auditorium Ki Bagus Hadikusumo tampak redup pada Selasa malam (10/3/2026). Suasana hening menyelimuti ruangan ketika ratusan murid kelas XI SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Sidoarjo duduk bersila mengikuti sesi muhasabah diri dalam rangkaian kegiatan Baitul Arqom 2 Putri.
Malam itu bukan sekadar sesi motivasi biasa. Melalui tausiah yang disampaikan Ustaz Suhady Fajaray, para murid diajak menengok kembali perjalanan hidup mereka—tentang harapan, luka hati, hingga mimpi masa depan yang ingin diraih.
Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut berlangsung penuh keheningan dan perenungan. Beberapa murid tampak menunduk, sementara yang lain menyimak dengan wajah serius setiap pesan yang disampaikan. Sesi dialog menjadi bagian yang paling hidup. Para murid dengan berani mengungkapkan kegelisahan yang selama ini mereka rasakan.
Khanza (XI-11) menjadi salah satu yang mengangkat tangan. Ia mempertanyakan tentang keadilan nasib—apakah anak yatim atau mereka yang berasal dari keluarga sederhana dapat meraih kesuksesan yang sama seperti orang lain.
Pertanyaan tersebut dijawab dengan tegas oleh Ustaz Suhady. Menurutnya, latar belakang keluarga bukanlah penentu masa depan seseorang. “Allah tidak tidur. Allah siap menyukseskan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Ingatlah, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika mereka sendiri tidak memiliki tekad untuk berubah,” ujarnya.
Suasana semakin menyentuh ketika Niken (XI-4) mengungkapkan kesulitannya untuk benar-benar memaafkan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Menanggapi hal tersebut, Ustaz Suhady menyampaikan sebuah analogi sederhana yang langsung mengena di hati para murid.
Ia mengibaratkan dendam seperti pecahan kaca yang digenggam erat di tangan. Selama kaca itu terus digenggam, tangan sendirilah yang akan terluka. “Jika kita ingin sembuh, kita harus berani membuka tangan dan melepaskan kaca itu. Memaafkan bukan hanya untuk orang lain, tetapi untuk menyembuhkan hati kita sendiri,” jelasnya.
Dialog malam itu juga menyentuh persoalan luka batin dan trauma masa lalu yang disampaikan oleh Habibah (XI-12). Menurut Ustaz Suhady, seseorang yang pernah disakiti tidak seharusnya menjadi mata rantai yang meneruskan rasa sakit tersebut kepada orang lain. “Jika kita tahu rasanya terluka, maka jangan sampai kita menyakiti orang lain. Mengikhlaskan apa yang sudah terjadi adalah cara untuk memutus rantai luka itu,” pesannya.
Sesi muhasabah kemudian ditutup dengan doa bersama. Suasana auditorium semakin hening, sementara sebagian murid tampak larut dalam perenungan.
Melalui kegiatan ini, Baitul Arqom tidak hanya menjadi ruang pembinaan spiritual, tetapi juga menjadi tempat bagi para murid untuk belajar memahami diri, memaafkan masa lalu, dan menata langkah menuju masa depan yang lebih baik.

Editor: Moh. Ernam

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo