Satu almamater, satu semangat. Guru Matematika Smamda Sidoarjo bersama alumni Smamda (dua dari kanan) yang kini menjadi guru matematika, di Forum Guru Matematika Jawa Timur, Kamis (22/1/2026). (Dok pribadi/smamda.sch.id) Satu almamater, satu semangat. Guru Matematika Smamda Sidoarjo bersama alumni Smamda (dua dari kanan) yang kini menjadi guru matematika, di Forum Guru Matematika Jawa Timur, Kamis (22/1/2026). (Dok pribadi/smamda.sch.id)

Guru Matematika Smamda Sidoarjo Menimba Inspirasi di Forum Guru Matematika Jawa Timur

Suwidiyanti | 23 Januari 2026

Detail Berita:


SMAMDA.SCH.ID — Perubahan dunia tidak pernah dimulai dari kebetulan. Ia lahir dari ide, tumbuh dari logika, dan mengakar kuat pada matematika. Kesadaran inilah yang mengiringi langkah guru matematika SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Smamda), yang diwakili oleh Alim Wijaya, Suwidiyanti, dan Furqon, saat mengikuti Forum Guru Matematika Jawa Timur, Kamis (22/1/2026).

Forum ini menjadi ruang temu gagasan, refleksi, sekaligus penguatan peran guru sebagai penggerak perubahan pendidikan.

Acara dibuka dengan sesi motivasi yang menggugah dari Budi Santoso, M.Pd., C.Ht., Expert Team Prestasi Pendidik Indonesia. Dengan gaya komunikatif dan penuh energi, ia mengajak para guru untuk berhenti sekadar mengajar dan mulai menumbuhkan.

“Guru hebat bukan soal siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang mau terus naik level,” tegasnya, disambut antusias para peserta.

Dalam pemaparannya, Budi Santoso menjelaskan empat strategi pembelajaran yang dapat diterapkan guru, yakni leveling, reward, target, dan love.

Strategi leveling mengajak guru memahami realitas kelas yang diisi murid dengan latar belakang, kemampuan, dan minat yang beragam. Oleh karena itu, pembelajaran tidak bisa diseragamkan. Guru dituntut untuk berinovasi dan menyesuaikan strategi belajar sesuai kebutuhan murid.

Ketika murid menyukai permainan gim, pendekatan pembelajaran pun dapat mengadopsi prinsip leveling. Murid memulai dari tahap dasar, naik level setelah berhasil, serta menghadapi tantangan yang sesuai dengan kemampuannya.

Dalam proses tersebut, reward berfungsi sebagai penguat. Apresiasi tidak selalu berupa hadiah materi, tetapi pengakuan atas usaha dan keberhasilan murid. “Reward terbaik guru adalah melihat muridnya berani berpikir dan bermimpi,” ungkap Budi Santoso. Apresiasi yang tepat membuat murid merasa dihargai dan termotivasi untuk melangkah ke level berikutnya.

Sementara itu, target berperan sebagai kompas pembelajaran. Setiap level memiliki tujuan yang jelas, terukur, dan bermakna sehingga proses belajar tidak berjalan tanpa arah. Ketika murid memahami apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara mencapainya, mereka akan belajar dengan kesadaran, bukan keterpaksaan.

Dari sinilah love dalam pembelajaran tumbuh secara alami. Cinta belajar tidak dipaksakan, tetapi lahir dari pengalaman berhasil, diapresiasi, dan merasa mampu. Pembelajaran yang berjenjang, apresiatif, dan berorientasi tujuan menjadikan kelas sebagai ruang yang aman dan menyenangkan—tempat murid ingin kembali belajar, bukan sekadar harus belajar.

“Love dalam pembelajaran itu bukan diajarkan, tetapi dialami. Jika murid merasa aman, dihargai, dan bahagia, di situlah cinta belajar tumbuh,” tegas Budi Santoso. Cinta inilah yang menjadikan ruang kelas bukan sekadar tempat menyampaikan rumus, melainkan ruang tumbuhnya makna.

Salah satu peserta, Furqon, menilai forum ini sangat relevan dengan kebutuhan guru masa depan.
“Forum ini membuka perspektif baru bahwa prestasi dan pembelajaran yang menyenangkan bisa berjalan bersama,” ujarnya.

Forum Guru Matematika Jawa Timur menjadi energi baru bagi para pendidik untuk terus berinovasi. Dengan kompetensi yang diasah, target yang jelas, dan cinta yang dihadirkan dalam pembelajaran, guru matematika diharapkan mampu melahirkan generasi yang kritis, tangguh, dan berkarakter. Sebab pada akhirnya, dunia berubah oleh ide. Ide lahir dari logika. Dan logika tumbuh dari matematika.


Editor: Moh. Ernam

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo