Menyulam Mimpi ke Negeri Ginseng (Seri ke-4) Belajar Tanpa Batas di Camp School Gangwon International Education Institute

Ernawati Kristinningrum, S.T., M.Pd. | 04 Januari 2026

Detail literasi:

Gerimis kecil menyapa pagi Sokcho. Kamis, 16 Oktober 2025, pukul 07.00 waktu Korea Selatan, udara terasa semakin sejuk—pertanda musim dingin kian mendekat. Di restoran Marinabay Sokcho Hotel, seluruh delegasi KLIC Indonesia 2025 telah berkumpul untuk sarapan pagi. Di sela aroma kopi hangat dan hidangan sederhana, obrolan ringan mengalir, bercampur antusiasme menyambut agenda penting hari itu.

Pukul 08.00 hingga 09.00, kegiatan dilanjutkan dengan latihan performance untuk persiapan pembukaan resmi KLIC Indonesia 2025. Gerak, suara, dan koordinasi kembali diasah. Meski masih menyisakan rasa lelah dari malam sebelumnya, semangat kebersamaan membuat latihan berjalan penuh energi.

Sekitar pukul 09.40, bus rombongan tiba di Gangwon International Education Institute (GIEI). Kedatangan kami disambut ramah oleh para staf GIEI yang kemudian mengajak delegasi mengikuti tour gedung. Kunjungan dibagi menjadi tiga kelompok kecil agar eksplorasi lebih fokus dan interaktif.

Pada kelompok pertama, kami dipandu oleh Clowie, salah satu guru GIEI asal Amerika Serikat yang mendapat kesempatan mengajar selama tiga bulan di institusi tersebut. Dengan gaya tutur yang hangat dan komunikatif, Clowie memperkenalkan berbagai program unggulan GIEI, salah satunya Camp School—program pembelajaran internasional yang menjadi jantung aktivitas global di lembaga ini.

Kami diajak mengintip ruang-ruang kelas yang tengah aktif. Di satu ruangan, siswa asal Amerika tampak serius mempelajari materi alat musik. Di kelas lain, sekelompok siswa dari Ukraina terlihat antusias belajar bahasa Jepang dengan metode yang menyenangkan dan interaktif. Tak jauh dari sana, kelas lain diisi siswa dari benua Afrika dengan latar budaya yang beragam. Bahasa boleh berbeda, asal negara pun tak sama, namun semangat belajar menyatukan semuanya.

Clowie menjelaskan bahwa Camp School GIEI merupakan program intensif berdurasi dua malam tiga hari yang dapat diikuti oleh siswa dari berbagai negara. Menariknya, program ini gratis tanpa dipungut biaya. Seluruh kebutuhan peserta—mulai dari pembelajaran, fasilitas, hingga akomodasi—ditanggung sepenuhnya oleh GIEI. Para siswa juga disediakan asrama yang berada dalam satu kawasan dengan gedung utama GIEI, sehingga mobilisasi selama kegiatan berlangsung menjadi lebih mudah dan aman.

Tujuan utama Camp School, lanjut Clowie, adalah memberikan pengalaman belajar khas Korea Selatan yang didukung oleh teknologi pendidikan mutakhir. Di sinilah siswa internasional tidak hanya belajar materi akademik, tetapi juga berinteraksi lintas budaya, membangun kemandirian, dan merasakan atmosfer pendidikan global yang inklusif.

Pertanyaan pun muncul: bagaimana cara mengikuti Camp School di GIEI? Clowie menjelaskan bahwa program ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan kementerian pendidikan masing-masing negara. Calon peserta cukup mengakses informasi dan persyaratan melalui kementerian pendidikan di negara asal, karena setiap negara memiliki kebijakan seleksi yang berbeda. GIEI berperan sebagai penyelenggara dan menerima data peserta yang telah diseleksi oleh kementerian pendidikan negara terkait. Dengan kata lain, proses seleksi sepenuhnya menjadi kewenangan negara masing-masing.

Tak hanya Clowie, kebanggaan tersendiri juga hadir ketika kami mengetahui adanya guru GIEI asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia, yang turut mendapat kesempatan mengajar selama tiga bulan di GIEI. Kehadirannya menjadi bukti bahwa guru Indonesia mampu bersaing dan berkontribusi di panggung pendidikan internasional. Sebuah inspirasi yang menguatkan keyakinan para delegasi bahwa kolaborasi global bukanlah mimpi yang terlalu jauh.

Kunjungan ke Camp School GIEI pagi itu membuka cakrawala baru. Pendidikan tak lagi dibatasi oleh tembok kelas atau sekat negara. Di GIEI, kami menyaksikan bagaimana keberagaman dirangkul, teknologi dimanfaatkan, dan pembelajaran dirancang untuk membentuk warga dunia.

Hari masih panjang, namun sejak pagi itu satu hal sudah tertanam kuat: di Gangwon, kami tidak hanya menjadi tamu, melainkan saksi dari sebuah ekosistem pendidikan global yang hidup—tempat mimpi-mimpi lintas bangsa dirajut bersama.

 

Editor    : Moh. Ernam

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo