Detail literasi:
Di banyak ruang kelas, matematika kerap hadir sebagai pelajaran yang membuat dada sesak. Angka, rumus, dan soal cerita berdiri seperti tembok tinggi yang tampak sulit ditaklukkan. Bahkan sebelum guru mulai menjelaskan, sebagian murid sudah lebih dulu menyerah dalam diam. “Saya tidak berbakat matematika,” begitu kalimat yang sering terucap, seolah menjadi vonis atas diri mereka sendiri.
Padahal, belajar sejatinya bukan tentang cepat atau lambat, bukan pula tentang siapa yang paling pintar. Dalam pembelajaran mendalam, belajar adalah proses memahami, memaknai, dan menumbuhkan kesadaran berpikir. Belajar adalah perjalanan, bukan perlombaan. Dari kesadaran inilah, game edukatif hadir sebagai ikhtiar kecil untuk menghadirkan wajah matematika yang lebih ramah, lebih manusiawi, dan lebih selaras dengan fitrah belajar murid.
Game edukatif bukan sekadar permainan pengisi waktu. Ia adalah ruang belajar yang hidup. Saat murid bermain, mereka sebenarnya sedang berpikir: menyusun strategi, memilih langkah, mencoba kemungkinan, lalu belajar dari kesalahan. Proses itu berjalan alami, tanpa paksaan. Tanpa disadari, akal mereka bekerja dengan penuh kesadaran. Bukankah Al-Qur’an sejak awal telah mengajak manusia untuk menggunakan akalnya? “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Rum: 21). Berpikir, dalam pandangan ini, bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bagian dari ibadah.
Suasana kelas pun perlahan berubah. Ketegangan berganti senyum. Kecemasan berganti rasa ingin tahu. Fahri, murid kelas XII-1, mengungkapkan pengalamannya, “Kalau belajar pakai game rasanya kayak main, tapi kok tiba-tiba paham.” Kalimat sederhana itu menyimpan makna besar: ketika hati merasa aman, pikiran pun terbuka. Islam sendiri mengajarkan bahwa belajar bukan untuk memberatkan, melainkan memudahkan. Rasulullah SAW berpesan, “Mudahkanlah dan jangan mempersulit.” Nilai inilah yang hidup dalam pembelajaran matematika berbasis game.
Dalam game edukatif, murid tidak takut salah. Justru dari kesalahan itulah mereka belajar. Ketika gagal, muncul dorongan untuk mencoba lagi. Ketika berhasil, tumbuh rasa percaya diri. “Kalau salah di game, pengin coba lagi sampai bisa,” ujar Naufal, murid kelas XII-2. Di sanalah pembelajaran mendalam terjadi—ketika usaha tidak berhenti pada satu kegagalan. Sikap ini sejalan dengan firman Allah SWT, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm: 39).
Lebih dari sekadar menyenangkan, game edukatif membantu murid memahami konsep secara lebih bermakna. Rumus tidak lagi dihafal secara kering, tetapi dipahami alasan dan kegunaannya. “Dari game, saya jadi tahu kenapa rumus itu dipakai, bukan cuma hafal,” tutur Farah, murid kelas XII-1. Inilah makna ‘ilm dalam Islam: pengetahuan yang disertai pemahaman dan kesadaran, bukan hafalan tanpa makna.
Game edukatif juga menghadirkan keadilan dalam belajar. Setiap murid berjalan sesuai ritmenya. Yang cepat memahami dapat melaju, yang belum paham dapat mengulang tanpa rasa malu. “Enaknya bisa ngulang sendiri sampai paham,” tambah Farah. Bukankah keadilan dalam Islam berarti memberi ruang sesuai kemampuan masing-masing?
Ketika game dimainkan bersama, lahir pula nilai kebersamaan. Murid berdiskusi, berbagi strategi, dan saling membantu. “Kalau main bareng, bisa saling jelasin dan jadi lebih ngerti,” ujar mereka. Nilai ini sejalan dengan firman Allah SWT, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa” (QS. Al-Ma’idah: 2). Matematika pun tak lagi berdiri sendiri sebagai latihan logika, tetapi menjadi sarana pembentukan karakter.
Tentu, game bukan segalanya. Di balik semua itu, peran guru tetaplah kunci. Guru adalah penuntun yang membantu murid merefleksikan pengalaman bermain, mengaitkannya dengan konsep, dan menarik makna kehidupan darinya. Tanpa refleksi, game hanya akan menjadi hiburan. Dengan bimbingan guru, ia menjelma menjadi pembelajaran yang bermakna.
Pada akhirnya, game edukatif bukan hanya soal metode mengajar. Ia adalah cara memanusiakan proses belajar. Ketika murid belajar dengan gembira, berani mencoba, dan saling membantu, sejatinya mereka sedang menjalani nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an. Matematika pun tidak lagi sekadar pelajaran angka, tetapi menjadi sarana melatih akal, kesabaran, dan keikhlasan—sebuah jalan kecil menuju pembelajaran mendalam yang bernilai, bukan hanya untuk dunia, tetapi juga untuk akhirat.
Editor : Moh. Ernam