Detail literasi:
Hari masih menyisakan dingin ketika rombongan KLIC Indonesia 2025 meninggalkan Bongdae Elementary School. Rabu, 15 Oktober 2025, selepas sambutan hangat dan rangkaian kegiatan di sekolah dasar tersebut, perjalanan dilanjutkan menuju tempat peristirahatan. Bus kembali melaju membelah jalanan Provinsi Gangwon selama kurang lebih satu jam hingga akhirnya berhenti di Marinabay Sokcho.
Setibanya di penginapan, kami diberi waktu sekitar 40 menit untuk check-in dan menata barang di kamar. Waktu yang singkat, namun cukup untuk meletakkan koper, menyegarkan diri, dan menarik napas sejenak setelah hari panjang yang penuh kesan. Tak lama berselang, rombongan kembali bersiap. Agenda berikutnya menanti: jamuan makan malam dengan menu khas Korea.
Malam itu, kami disuguhi Seolleongtang (설렁탕), hidangan sup tradisional Korea yang sarat sejarah dan makna budaya. Disajikan dalam mangkuk besar dengan kuah putih susu yang mengepul hangat, Seolleongtang menjadi teman sempurna di udara dingin Sokcho.
Seolleongtang dikenal sebagai sup tulang sapi yang dimasak melalui proses panjang dan penuh kesabaran. Kuahnya yang khas dihasilkan dari perebusan tulang kaki sapi, tulang sumsum, dan potongan daging selama berjam-jam, bahkan bisa lebih dari sepuluh jam. Dari proses inilah kolagen dan sari tulang larut perlahan, menciptakan rasa gurih alami tanpa perlu banyak bumbu.
Bukan sekadar makanan, Seolleongtang menyimpan cerita panjang dalam sejarah Korea. Hidangan ini diyakini berasal dari era Dinasti Joseon, berakar dari ritual Seonnongje, sebuah upacara persembahan kepada langit yang dilakukan oleh raja untuk memohon hasil panen yang melimpah. Daging dan tulang sapi dari ritual tersebut kemudian dimasak dan dibagikan kepada masyarakat. Dari tradisi inilah Seolleongtang berkembang menjadi hidangan rakyat yang bertahan hingga kini.
Di hadapan kami, Seolleongtang disajikan bersama nasi putih, irisan daging sapi empuk, dan mie tipis yang menyatu di dalam kuah. Hidangan pendamping seperti kkakdugi (kimchi lobak) dan baechu kimchi melengkapi sajian, menghadirkan rasa segar dan sedikit asam yang menyeimbangkan kekayaan kuah. Karena kuahnya cenderung ringan, kami bebas menyesuaikan rasa dengan menambahkan garam, lada, dan daun bawang sesuai selera.
Di Korea, Seolleongtang dikenal sebagai makanan yang menghangatkan tubuh dan menyehatkan. Sup ini kerap dikonsumsi saat musim dingin atau ketika tubuh terasa lelah. Kandungan protein, kolagen, dan mineralnya dipercaya baik untuk stamina dan daya tahan tubuh. Tak heran jika hidangan ini sering disajikan kepada mereka yang sedang dalam masa pemulihan.
Malam itu, semangkuk Seolleongtang terasa lebih dari sekadar makan malam. Ia menjadi penutup hari pertama yang panjang—menghangatkan tubuh, menenangkan pikiran, sekaligus menghadirkan pengalaman budaya yang otentik.
Namun, hari belum benar-benar berakhir.
Selepas makan malam, semangat para delegasi masih menyala. Kami kembali berkumpul untuk latihan dan persiapan penampilan dalam acara pembukaan KLIC Indonesia 2025 yang akan digelar esok hari di Gangwon International Education Institute (GIEI). Hingga sekitar pukul 21.00 waktu setempat, ruangan dipenuhi diskusi, tawa, dan koordinasi kecil yang tak jarang diselingi rasa kantuk.
Malam pun berlanjut dengan kegiatan packing suvenir. Satu per satu cendera mata dipersiapkan untuk seluruh pihak yang terlibat dalam KLIC Indonesia 2025. Di balik kelelahan, terselip rasa tanggung jawab dan kebersamaan—bahwa setiap detail kecil adalah bagian dari upaya menjaga kehormatan dan makna kerja sama pendidikan lintas negara.
Hari itu ditutup dengan tubuh yang letih, namun hati yang penuh. Dari sambutan sekolah, semangkuk Seolleongtang, hingga malam panjang penuh persiapan, kami belajar bahwa perjalanan KLIC Indonesia 2025 bukan hanya tentang agenda resmi, melainkan tentang proses—menyulam mimpi melalui pengalaman, budaya, dan kebersamaan.
Editor : Moh. Ernam