Pratiwi Samsugiyarni, S.Pd. (kiri), bersama Almeera Aydina Lafendi (XI-10) dan Aulia Tiara Putri Wicaksono (XI-1) mengabadikan momen di kompleks Wat Arun, Bangkok, Thailand, di sela persiapan mengikuti Thailand International Science Invention and Innovation Fair (TISIIF) 2026. (Pratiwi Samsugiyarni/smamda.sch.id) Pratiwi Samsugiyarni, S.Pd. (kiri), bersama Almeera Aydina Lafendi (XI-10) dan Aulia Tiara Putri Wicaksono (XI-1) mengabadikan momen di kompleks Wat Arun, Bangkok, Thailand, di sela persiapan mengikuti Thailand International Science Invention and Innovation Fair (TISIIF) 2026. (Pratiwi Samsugiyarni/smamda.sch.id)

Belajar Mandiri di Negeri Gajah Putih: Pengalaman Guru dan Murid Smamda Sidoarjo Menggunakan Transportasi Publik Bangkok

Pratiwi Syamsugiarni | 02 Agustus 2026

Detail Berita:

 

 

SMAMDA.SCH.ID-Perjalanan ke Thailand kali ini bukan sekadar tentang berpindah negara untuk mengikuti kompetisi internasional. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi pengalaman belajar yang mengajarkan keberanian, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi di negeri orang.

 

Saya bersama dua murid SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Sidoarjo, Almeera Aydina Lafendi (XI-10) dan Aulia Tiara Putri Wicaksono (XI-1), mendapat kesempatan mewakili Indonesia dalam ajang Thailand International Science Invention and Innovation Fair (TISIIF) 2026. Perjalanan dimulai pada Rabu pagi (29/7) dari Bandara Internasional Juanda, Surabaya, menuju Bangkok dengan transit di Bandara Changi, Singapura.

 

Setelah menunggu sekitar tiga jam di ruang transit, perjalanan dilanjutkan menuju Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Meski sempat mengalami turbulensi yang membuat pesawat mendarat sedikit lebih lambat dari jadwal, kami bersyukur tiba dengan selamat sekitar pukul 20.00 waktu setempat.

 

Setibanya di Bangkok, antrean panjang di area imigrasi menjadi tantangan pertama. Malam itu bandara dipadati wisatawan mancanegara yang datang untuk berlibur di Thailand. Setelah melewati proses pemeriksaan dokumen, tantangan berikutnya pun dimulai, yaitu memanfaatkan transportasi publik menuju penginapan.

 

Rasa waswas sempat muncul. Selain baru pertama kali menggunakan transportasi umum di Bangkok, kendala bahasa juga menjadi kekhawatiran karena tidak semua warga Thailand terbiasa menggunakan bahasa Inggris. Namun, kami sepakat untuk menjadikan perjalanan ini sebagai bagian dari pengalaman belajar.

 

Life is an adventure, so let's dive in.

 

Dari area kedatangan, kami turun ke lantai satu menuju area shuttle bus dan taksi. Berbekal informasi dari internet serta bantuan petugas bandara, kami akhirnya menemukan rute yang tepat. Meski sempat beberapa kali naik dan turun eskalator karena salah memahami petunjuk, perjalanan justru terasa semakin seru.

 

Kami kemudian menaiki Shuttle Bus Route F, layanan bus gratis yang menghubungkan Bandara Suvarnabhumi dengan Bus Station Suvarnabhumi.

 

Dari terminal tersebut, perjalanan dilanjutkan menggunakan Bus 554 menuju kawasan Rangsit. Bus ini mengingatkan kami pada Bus Suroboyo di Surabaya. Penumpang dapat membayar menggunakan uang tunai maupun e-money. Tarif yang kami bayarkan sebesar 37 Baht atau sekitar Rp20.500.

 

Perjalanan menuju Rangsit memakan waktu sekitar satu jam 20 menit. Kawasan ini berada di Provinsi Pathum Thani, lokasi penyelenggaraan kompetisi TISIIF 2026. Meski cukup jauh dari pusat Kota Bangkok, perjalanan terasa nyaman sambil menikmati suasana malam dan aktivitas masyarakat setempat.

 

Saat jam menunjukkan pukul 22.30 waktu setempat, kami menyadari tidak ada lagi bus yang menuju hotel. Akhirnya kami memesan transportasi daring melalui aplikasi Bolt. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Thailand, aplikasi ini layak menjadi pilihan karena tarifnya relatif lebih murah dibandingkan penyedia layanan lainnya.

 

Dengan biaya sekitar 120 Baht atau kurang lebih Rp60.000, kami memperoleh kendaraan berukuran besar yang setara dengan Toyota Hiace sehingga seluruh barang bawaan dapat terangkut dengan nyaman.

 

Pengalaman menggunakan transportasi publik di Bangkok mengajarkan bahwa keberanian mencoba, kemampuan mencari informasi, serta kerja sama tim menjadi bekal penting ketika berada di negara lain. Selain lebih hemat, transportasi umum juga menjadi cara terbaik untuk mengenal kehidupan masyarakat setempat dari jarak yang lebih dekat.

 

Hari pertama di Negeri Gajah Putih menjadi pembuka perjalanan yang penuh cerita sebelum mengikuti kompetisi internasional. Setiap perjalanan ternyata bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi juga tentang proses belajar yang menumbuhkan kemandirian, kemampuan beradaptasi, dan rasa percaya diri. Masih banyak pengalaman menarik yang menanti untuk dijelajahi di Thailand.

 

Editor: Moh. Ernam

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo