Muludan, Saatnya Meneladani Rasulullah

Wigatiningsih, M.Pd | 31 Agustus 2026

Detail literasi:

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu momentum bagi umat Islam untuk mengingat kembali keteladanan Rasulullah. Kelahiran beliau tidak sekadar diperingati melalui berbagai kegiatan keagamaan, tetapi semestinya menjadi pengingat untuk menerapkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah merupakan teladan bagi umat Islam. Kemuliaan akhlak dan keteladanan beliau bahkan mendapat pengakuan dari tokoh di luar Islam. Michael H. Hart menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh pertama dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History.

Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi atau yang dikenal dengan istilah muludan berlangsung dalam beragam bentuk. Kegiatan tersebut digelar di masjid, musala, lembaga pendidikan, balai desa, hingga rumah-rumah warga.

Rangkaian acaranya pun beragam. Ada pengajian, tahlil, pembacaan selawat, hadrah, hingga tradisi berbagi makanan. Semua kegiatan tersebut pada dasarnya memiliki semangat yang sama, yaitu mengungkapkan rasa syukur sekaligus kecintaan kepada Rasulullah.

Muludan Jangan Sekadar Ramai

Niat melaksanakan Maulid Nabi tentu baik. Kecintaan kepada Rasulullah diwujudkan melalui pembacaan selawat, pengajian, dan berbagai kegiatan keagamaan.

Namun, peringatan Maulid Nabi semestinya juga menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak. Keramaian sebuah acara jangan sampai justru menghilangkan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah.

Salah satunya ketika pembagian makanan atau hidangan dilakukan. Berebut makanan di tengah banyak jamaah bukanlah gambaran akhlak yang seharusnya diteladani.

Tidak jarang makanan yang dibagikan menjadi rusak atau bahkan terbuang karena terinjak. Padahal, makanan tersebut telah disiapkan oleh sohibul bait dengan biaya dan tenaga yang tidak sedikit.

Kondisi tersebut tentu patut menjadi bahan renungan. Semangat berbagi seharusnya tidak berujung pada makanan yang mubazir. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an bahwa pemboros merupakan saudara setan (QS Al-Isra: 27).

Karena itu, serunya muludan bukan berarti harus berebut hidangan. Serunya muludan adalah ketika kita mampu membawa pulang nilai-nilai keteladanan Rasulullah.

Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa peringatan Maulid Nabi tidak berhenti pada seremonial, tetapi harus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

Sepulang dari acara muludan, semestinya ada perubahan dalam diri. Kita berusaha meneladani sifat Rasulullah: siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Dengan begitu, Maulid Nabi tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan menerapkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Editor: Moh. Ernam

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo