Islam dan problematika para pemuda

Viqie Ixbal Maulana, Lc., M.Pd. | 15 Juni 2026

Detail literasi:

Menakar Ulang "Arti Kebebasan": Refleksi Pemikiran Syekh Al-Buthi

Sebagian orang beranggapan bahwa jika laki-laki dan perempuan bebas bergaul tanpa sekat, ketertarikan seksual lambat laun akan mereda, lalu menyisakan persahabatan yang murni. Sekilas, argumen ini terdengar logis. Namun, benarkah realitasnya demikian?

Syekh Ramadan Al-Buthi, seorang ulama dan pemikir besar, memberikan jawaban yang menukik langsung ke akar masalahnya.

Kejenuhan, Bukan Kemenangan Moral

Beliau tidak menampik bahwa suatu rangsangan bisa berkurang pengaruhnya karena terlalu sering dilihat atau dihadapi. Namun, penurunan respons ini memiliki makna yang berbeda:

"Sikap tidak acuh terhadap berbagai rangsangan hanyalah akibat dari kenikmatan yang tersedia murah dan tersebar di mana-mana."

Dalam kutipannya beliau berpendapat 

(إن عدم الاكتراث والتأثر بمظاهر الإغراء إنما هو نتيجة انتشار اللذة رخيصة في كل مكان)

Ketika seseorang menjadi tidak acuh, itu bukan karena ia berhasil menaklukkan hawa nafsunya melalui kesadaran moral yang lebih tinggi. Melainkan karena ia telah terlalu sering memuaskannya (baik secara visual maupun interaksi) hingga berada di titik jenuh.

Saat sesuatu dianggap biasa, bukan berarti daya rusaknya hilang. Manusia mungkin terbiasa melihatnya, tetapi tidak pernah benar-benar terbebas dari pengaruhnya.

Menganggap bahwa hawa nafsu akan hilang hanya karena terbiasa melihat lawan jenis dalam interaksi tanpa batas, menurut Syekh Al-Buthi, ibarat sebuah ilusi yang naif. Beliau mengumpamakannya secara analogis:

Seperti orang yang membayangkan bisa melawan rasa laparnya hanya dengan melihat piring-piring makanan lezat yang bertebaran di etalase toko sepanjang kiri dan kanan jalan.

(كمن يتصور إمكان زهد الجائع في الطعام بمجرد أن تتنأثر أطباقه الشهية أمام عينيه في واجهات المحلات عن يمين الشارع ويساره)

Apakah rasa lapar seseorang akan hilang hanya dengan melihat makanan? Tentu tidak. Begitu pula dengan syahwat.

Lantas, bagaimana dengan konsep "persahabatan murni" antar lawan jenis dalam lingkaran kebebasan tersebut? Syekh Al-Buthi mempertanyakan istilah ini. Jangan-jangan, apa yang disebut persahabatan itu hanyalah "jeda sesaat" (fase lelah) setelah manusia terlalu lama hanyut dalam kebebasan yang tanpa batas.

Masalah terbesar zaman ini mungkin bukanlah kurangnya kebebasan, melainkan terlalu banyaknya rangsangan. Kita perlu menyadari bahwa tidak semua hal yang membuat nafsu kita terbiasa, akan membuat hati kita tenang.

Pada akhirnya, apa yang sering kali dielu-elukan oleh dunia modern sebagai "kebebasan", bisa jadi hanyalah bentuk lain dari perbudakan yang lebih halus.

Lantas mana yang lebih menenangkan?

Pemuda A: Menjalani aktivitas sehari-hari dengan tenang, tanpa harus terus-menerus dibombardir oleh rangsangan visual maupun interaksi seksual di lingkungannya.

Pemuda B: Setiap hari disuguhi berbagai godaan dan rangsangan di sekitarnya, namun ia dituntut untuk menahannya karena tetap tidak bisa menyalurkannya sesuka hati.

Di antara keduanya, siapa yang jiwanya lebih dekat kepada ketenangan?

Tabi' Al Islam wa Musykilatus Syabab

 

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo