Detail Berita:
Smamda.sch.id – Mengenal budaya Jepang tidak hanya melalui bahasa, tetapi juga melalui seni dan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Hal inilah yang dipelajari siswa kelas X SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (SMAMDA) melalui praktik Shod?, seni kaligrafi Jepang yang mengajarkan fokus, kesabaran, ketelitian, dan pengendalian diri.
Kegiatan pembelajaran yang diikuti seluruh siswa kelas X.1 hingga X.12 ini dilaksanakan di Auditorium Ki Bagus dan Auditorium Nyai Walidah sebagai bagian dari pembelajaran Bahasa Jepang. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mengenal seni menulis huruf Jepang menggunakan kuas dan tinta, tetapi juga belajar memahami nilai-nilai karakter yang melekat dalam praktik budaya Jepang.
Kegiatan dipandu oleh Hata Chihiro, asisten pembelajaran Bahasa Jepang di SMAMDA. Melalui pendampingannya, siswa memperoleh pengalaman belajar budaya Jepang secara langsung sekaligus memahami makna dan filosofi di balik seni Shod?.
Pada sesi pembukaan, Hata-sensei memperkenalkan karya kaligrafinya yang menuliskan namanya menggunakan huruf kanji. Ia menjelaskan bahwa Shod? bukan sekadar seni menulis indah, melainkan juga sarana untuk melatih konsentrasi, kedisiplinan, ketekunan, dan ketenangan. "Setiap goresan membutuhkan perhatian, gerakan yang terkendali, serta kesabaran agar menghasilkan tulisan yang baik," Ungkap Hatta.
Selanjutnya, siswa dikenalkan dengan berbagai peralatan Shod?, meliputi shitajiki sebagai alas, bunchin sebagai pemberat kertas, fude atau kuas, washi atau kertas kaligrafi, serta sumi atau tinta. Pengenalan ini membantu siswa memahami fungsi setiap peralatan sebelum memulai praktik.
Hata-sensei kemudian mendemonstrasikan teknik dasar menulis kaligrafi Jepang. Siswa mempelajari posisi tubuh yang tegap, cara memegang kuas dengan benar, serta menjaga posisi kuas tetap tegak ketika membuat goresan. Mereka juga berlatih mengatur tekanan kuas untuk menghasilkan garis tebal dan tipis.
Dalam sesi praktik, siswa diberikan dua pilihan karakter kanji, yaitu ? (?kii) yang berarti besar dan ? (chikara) yang berarti kekuatan. Setiap siswa memilih salah satu karakter untuk ditulis menggunakan peralatan yang telah disediakan. Melalui latihan tersebut, siswa belajar mengendalikan gerakan tangan, memperhatikan arah goresan, serta memperbaiki tulisan secara bertahap.
Setelah berlatih, setiap siswa diminta menuliskan satu karakter terbaik pada kertas HVS sebagai hasil karya pembelajaran. Proses ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan pemahaman terhadap teknik dasar yang telah dipelajari sekaligus menghargai setiap tahapan dalam menghasilkan karya.
Kegiatan ditutup dengan refleksi. Siswa menyampaikan kesan dan pengetahuan baru yang diperoleh selama mengikuti praktik Shod?. Melalui refleksi ini, siswa diajak menghubungkan pengalaman berkesenian dengan kehidupan sehari-hari, terutama pentingnya bersikap teliti, tidak terburu-buru, dan mempertimbangkan langkah sebelum mengambil keputusan.
Melalui pembelajaran Shod?, SMAMDA berupaya menghadirkan pembelajaran Bahasa Jepang yang lebih kontekstual, menarik, dan bermakna. Pendampingan Hata Chihiro memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal budaya Jepang melalui pengalaman praktik secara langsung.
Lebih dari sekadar menghasilkan tulisan kaligrafi, kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk belajar bahwa hasil yang baik membutuhkan proses, latihan, dan kesungguhan. Nilai fokus, kesabaran, ketelitian, disiplin, dan pengendalian diri diharapkan dapat diterapkan siswa, baik dalam kegiatan belajar maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Editor : Khusnul Isa