Menyulam Mimpi ke Negeri Ginseng (Seri ke-5) Tarian Nusantara dan Alunan Gayageum: Harmoni Budaya di Pembukaan KLIC Indonesia 2025

Ernawati Kristinningrum, S.T., M.Pd. | 04 Januari 2026

Detail literasi:

Kamis, 16 Oktober 2025, siang itu menjadi titik penting perjalanan KLIC Indonesia 2025. Setelah menyelesaikan rangkaian tour Camp School Gangwon International Education Institute (GIEI), seluruh delegasi bergerak menuju ruang pertemuan utama. Di sanalah, acara pembukaan resmi KLIC Indonesia 2025 akan digelar—sebuah momentum yang bukan hanya seremonial, tetapi sarat makna kerja sama pendidikan lintas negara.

 

Acara dibuka dengan suasana khidmat. Lagu kebangsaan Republik Korea dan Indonesia Raya dikumandangkan, menggema di ruang pertemuan GIEI. Dua lagu, dua bangsa, satu semangat: membangun masa depan pendidikan melalui kolaborasi.

 

Opening Ceremony KLIC Indonesia 2025 dihadiri dan diresmikan oleh jajaran penting dari Korea dan Indonesia, di antaranya Mrs. Mi Yong Byun selaku Superintendent of Gangwon International Education Institute (GIEI), Mr. Seonggwan Park selaku Director of Gangwon State Office of Education (GSOE), Mr. Cheolhyeon Gwon selaku Supervisor of GSOE, serta Mrs. So Hee Paek selaku Supervisor of GIEI. Dari pihak Indonesia hadir Ibu Amaliah Fitriah selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Seoul, Bapak Anang Rahardhananto dari Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Bapak Ahmad Fadilah Nurdin dari Direktorat SMK, Bapak Irfana Steviano dari Direktorat Guru Pendidikan Dasar, Ibu Evy Margaretha selaku Ketua Tim Kerja Sama Bilateral Biro Perencanaan dan Kerja Sama Sekretariat Jenderal Kemendikdasmen, serta Ibu Sopha Julia selaku Ketua Tim Satuan Pendidikan Kerja Sama Ditjen PAUD Dikdasmen.

 

Pembukaan resmi KLIC Indonesia 2025 ditandai dengan sambutan dan peresmian oleh Mrs. Mi Yong Byun dan Mr. Seonggwan Park. Dalam suasana yang penuh kehangatan, sejumlah pejabat Indonesia turut menyampaikan pesan yang menggugah.

 

Ibu Amalia S.Sos., M.Phil., Ph.D., Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Seoul, menyampaikan ucapan selamat datang kepada para guru Indonesia di Korea, khususnya di Provinsi Gangwon. Ia mengajak peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar dari pengalaman Korea, bertukar gagasan, dan membawa wawasan baru demi inovasi pembelajaran di Indonesia. Menurutnya, program KLIC menjadi contoh nyata kerja sama digital Indonesia–Korea yang mendorong pendidikan inklusif, kreatif, dan berbasis teknologi.

 

Senada dengan itu, Ibu Evy Margaretha, MPP., menegaskan bahwa prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah saat ini mencakup pendidikan wajib 13 tahun, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan pendidikan karakter, serta literasi, numerasi, sains, dan teknologi. Ia menyampaikan bahwa sejak 2021 hingga 2025, program KLIC telah memberikan kontribusi nyata melalui pelatihan literasi digital, kecerdasan buatan, education technology, dan big data bagi guru Indonesia, serta diharapkan terus berkembang pada periode 2024–2027.

 

Sambutan dari pihak Indonesia ditutup oleh Bapak Irfana Steviano, M.Pd., yang mewakili Direktorat Guru Pendidikan Dasar sekaligus mewakili Direktorat Pendidikan Menengah. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Gangwon, GIEI, serta seluruh pihak Korea yang telah menerima guru-guru Indonesia dengan hangat dan penuh penghormatan.

 

Setelah rangkaian sambutan usai, suasana berubah menjadi hening penuh antisipasi. Sebuah pertunjukan musik tradisional Korea pun dimulai. Seorang perempuan mengenakan hanbok anggun duduk di tengah panggung, memetik senar Gayageum (가야금)—alat musik tradisional Korea yang terbuat dari kayu dan dikenal dengan karakter bunyinya yang lembut namun kuat. Alunan Gayageum mengalir perlahan, membius siapa pun yang mendengarnya. Kamera-kamera terangkat, menangkap setiap nada yang mencerminkan keindahan seni dan jiwa Korea Selatan.

 

Tepuk tangan belum sepenuhnya reda, ketika panggung kembali hidup. Kali ini, giliran peserta KLIC Indonesia 2025 menampilkan Tarian Nusantara. Dayung bersambut. Kolaborasi budaya pun terjadi. Dengan formasi rapi—buah dari latihan keras dan semangat kebersamaan—para peserta menampilkan ragam tarian daerah Indonesia. Formasi pembuka menghadirkan bendera Korea dan Indonesia, disusul tarian dari Sumatera Barat, Dayak, Batak, Bali, dan Betawi. Atraksi silat memperkuat nuansa ketangguhan, sebelum akhirnya ditutup dengan tarian Papua dan lagu “Gebyar-Gebyar” sebagai pamungkas.

 

Ruang pertemuan GIEI bergemuruh oleh tepuk tangan. Apresiasi datang tidak hanya dari delegasi Indonesia, tetapi juga dari para pejabat Korea yang menyampaikan kekaguman atas penampilan peserta KLIC Indonesia 2025. Tarian Nusantara malam itu bukan sekadar pertunjukan, melainkan representasi identitas, kebanggaan, dan persahabatan.

 

Opening Ceremony KLIC Indonesia 2025 pun resmi ditutup dengan prosesi saling tukar cendera mata antara pihak Indonesia dan Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan menyampaikan harapan agar pelatihan teknologi bagi dua puluh lima guru Indonesia dapat terus berlanjut dan memberi dampak nyata bagi kemajuan pendidikan di masa depan.

 

Sebagai simbol persahabatan antarguru, delegasi Indonesia menyerahkan cendera mata khas Nusantara, termasuk teh bunga telang dan cangkir lurik hijau khas Indonesia yang dikemas dalam tas daun lontar. Cendera mata tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Mr. Hosung Lee dan Mrs. Ahreum Yi—sebuah penanda bahwa hubungan yang terjalin bukan hanya formal, tetapi juga personal dan berbudaya.

 

Hari itu, di panggung GIEI, Gayageum dan Tarian Nusantara bertemu. Dua budaya saling menyapa, berpadu dalam harmoni. KLIC Indonesia 2025 resmi dibuka, dan perjalanan panjang penuh pembelajaran pun benar-benar dimulai.

 

Editor : Moh. Ernam

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo