Detail Berita:
SMAMDA.SCH.ID – Perundungan yang terjadi di lingkungan pendidikan menjadi pengingat pentingnya membangun pertemanan yang sehat dan saling menghargai. Tindakan yang dianggap sebagai candaan oleh pelaku dapat berdampak serius bagi korban. Karena itu, budaya senioritas yang menindas dan kebiasaan merendahkan orang lain tidak boleh dianggap wajar.
Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Smamda Sidoarjo, Muhammad Arsyad Adli, mengajak murid membangun lingkungan pertemanan yang positif. Menurut murid kelas XII-1 ini, perundungan tidak hanya berkaitan dengan perilaku pelaku dan korban, tetapi juga dipengaruhi lingkungan sosial, pola asuh keluarga, serta pengawasan di sekitarnya.
“Perundungan bisa terjadi ketika ada kesempatan dan pengawasan yang kurang. Karena itu, lingkungan pertemanan perlu diperhatikan agar perilaku seperti ini tidak dibiarkan,” ujarnya.
Selektif Memilih Teman
Arsyad mengingatkan murid agar tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan utama dalam pergaulan. Menurutnya, memilih teman perlu mempertimbangkan pengaruh pertemanan terhadap perilaku dan kebiasaan sehari-hari.
“Kita harus bisa menyaring pergaulan, bukan sekadar mencari teman supaya terlihat tenar. Kalau ada teman yang mengarah pada perilaku negatif, kita perlu berusaha mengajaknya kembali kepada kebaikan,” tuturnya.
Ia juga menilai kemampuan bersosialisasi perlu terus dikembangkan, seiring kemudahan murid mengakses informasi melalui teknologi. Membaca buku, berdiskusi, dan mengikuti figur publik yang menyuarakan isu sosial dapat membantu murid memahami perasaan orang lain serta menyikapi perbedaan secara bijaksana.
Tolak Senioritas yang Menindas
Ketua Tapak Suci Smamda, Habibi Hamzah, murid kelas XII-8, menyoroti senioritas yang kerap digunakan untuk menekan orang lain. Menurutnya, perbedaan usia, posisi, maupun kekuatan fisik tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan teman.
“Kita harus menolak perundungan dengan tegas. Jangan sampai posisi sebagai kakak kelas atau merasa lebih kuat membuat kita merendahkan orang lain,” tegasnya.
Habibi mengingatkan bahwa perundungan dapat membuat korban kehilangan kepercayaan diri dan mengalami tekanan psikologis. Tindakan tersebut juga dapat membawa konsekuensi bagi pelaku.
Ia mengajak murid membentuk kelompok pertemanan yang tidak hanya memberi manfaat bagi anggotanya, tetapi juga bagi sekolah dan lingkungan sekitar. Perbedaan suku, ras, maupun agama, lanjutnya, bukan alasan untuk memperlakukan seseorang secara tidak adil.
“Pintar memilih teman itu penting, tetapi kita juga harus saling menghargai. Akan lebih baik jika kita membentuk kelompok yang bisa memberi manfaat bagi orang lain,” katanya.
Utamakan Adab dan Kepedulian
Ketua Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Smamda, Danang Syamsuddin Machmud, murid kelas XII-12, menilai perundungan dapat muncul ketika seseorang merasa lebih berani lalu memanfaatkan kelemahan orang lain. Lingkungan pertemanan yang tidak mengedepankan adab juga dapat memperbesar risiko munculnya perilaku tersebut.
“Jangan melihat kekurangan orang lain sebagai bahan untuk mengejek. Kita seharusnya memberikan dukungan dan hal-hal positif kepada teman,” ujarnya.
Danang menambahkan, dampak perundungan tidak hanya dirasakan korban. Perilaku tersebut juga dapat merusak kepercayaan dan hubungan sosial pelaku dengan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, ia mengajak murid mengganti budaya senioritas yang menindas dengan hubungan yang dilandasi adab, kepedulian, dan rasa hormat.
Berani Melapor kepada Sekolah
Koordinator Bimbingan dan Konseling (BK) Smamda, Umi Habibah, menegaskan bahwa murid yang mengalami atau mengetahui tindakan perundungan dapat melapor kepada guru, wali kelas, maupun BK. Sekolah akan menindaklanjuti laporan berdasarkan pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.
“Siswa tidak perlu takut untuk melapor. Sekolah akan menindaklanjuti setiap laporan dengan serius agar perundungan tidak terus berulang dan siswa merasa aman di lingkungan sekolah,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan, BK Smamda melakukan pemantauan terhadap kondisi dan interaksi sosial murid untuk mendeteksi potensi perundungan sejak dini. Pendampingan juga diberikan kepada murid yang terindikasi menjadi korban maupun pelaku.
Umi menjelaskan, upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah. Murid yang menyaksikan temannya direndahkan atau disakiti diharapkan tidak membiarkan kejadian tersebut, tetapi mengambil langkah yang aman dengan melaporkannya kepada pihak sekolah.
“Kita ingin setiap siswa merasa diterima, dihargai, dan terlindungi. Karena itu, jangan menganggap perundungan sebagai candaan, apalagi membiarkannya terjadi berulang kali,” pesannya.
Melalui ajakan tiga ketua ortom dan pendampingan BK, Smamda mendorong tumbuhnya budaya pertemanan yang sehat, beradab, dan saling menghargai. Kepedulian terhadap teman menjadi bagian penting dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua murid.
Editor: Moh. Ernam