Lima Murid SMAMDA Sidoarjo Raih Dua Penghargaan di Kompetisi Esai Hukum Nasional | Smamda Sidoarjo - The Outstanding School
Lima murid SMAMDA (dari kiri) Fahim, Sausan, Sherlyca, Aura, dan Habiburrahman usai mengikuti presentasi final AMPHI Law Essay Competition (ALEC) Vol. 3 Tahun 2026. (Dok. Pribadi/smamda.sch.id) Lima murid SMAMDA (dari kiri) Fahim, Sausan, Sherlyca, Aura, dan Habiburrahman usai mengikuti presentasi final AMPHI Law Essay Competition (ALEC) Vol. 3 Tahun 2026. (Dok. Pribadi/smamda.sch.id)

Lima Murid SMAMDA Sidoarjo Raih Dua Penghargaan di Kompetisi Esai Hukum Nasional

Silwana Mumtaza | 06 November 2026

Detail Berita:

 

 

*SMAMDA.SCH.ID* – Lima murid SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Sidoarjo berhasil meraih dua penghargaan sekaligus dalam AMPHI Law Essay Competition (ALEC) Vol. 3 Tahun 2026. Tim yang terdiri atas Aura Bintang Az Zahra, Habiburrahman Dzaky Amran, Muhammad Fahim Elmillah, Sausan Khansa Kirana, dan Sherlyca Armintha Putri ini memperoleh penghargaan Best Legal Analysis dan Bronze Medal.

 

Kompetisi esai hukum tingkat nasional yang diselenggarakan Asosiasi Mahasiswa Peneliti Hukum Indonesia (AMPHI) tersebut diikuti 60 tim dari berbagai sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga. Babak penyisihan berlangsung secara daring pada Agustus hingga September 2026, sedangkan grand final dilaksanakan pada 24–25 Oktober 2026.

 

Pada kompetisi tersebut, tim SMAMDA mengangkat esai berjudul “Perlindungan Hukum terhadap Replikasi Suara Manusia oleh Kecerdasan Buatan (AI) di Indonesia”.

 

“Topik ini membahas pentingnya perlindungan hukum terhadap penggunaan dan replikasi suara manusia melalui teknologi kecerdasan buatan yang semakin berkembang,” jelas Aura.

 

Perjalanan menuju penghargaan tersebut diawali dengan penyusunan esai berdasarkan subtema AI & Emerging Technologies. Setelah melalui proses seleksi, tim SMAMDA berhasil melaju ke babak final. Peserta kemudian diminta membuat poster yang merangkum gagasan utama esai, menyiapkan materi presentasi, dan mempertanggungjawabkan hasil analisis di hadapan dewan juri.

 

“Bagian paling menegangkan bagi kami adalah ketika memasuki babak final, terutama saat sesi tanya jawab dengan dewan juri. Kami dituntut untuk memahami esai secara menyeluruh serta mampu mempertanggungjawabkan setiap argumentasi yang telah disampaikan,” ungkap Habiburrahman.

 

Persiapan dilakukan melalui riset, pengumpulan referensi hukum, penyusunan argumentasi, hingga revisi esai secara bersama-sama. Setelah dinyatakan lolos final, mereka melanjutkan persiapan dengan menyusun presentasi, membuat poster, serta melakukan simulasi tanya jawab.

 

Kerja sama dan komunikasi menjadi bagian penting selama proses kompetisi. Tim berusaha saling membantu, melengkapi, serta terbuka terhadap masukan dan evaluasi.

 

“Menurut kami, kunci keberhasilan tim adalah kerja sama, komunikasi, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar. Kami tidak hanya berfokus pada pembagian tugas, tetapi juga saling berinisiatif dan membantu ketika menghadapi kesulitan,” jelas Fahim.

 

Selain usaha dan kerja keras, tim juga meyakini pentingnya doa dan restu orang tua. Menjaga ibadah, terutama salat lima waktu dan salat sunah, menjadi bagian dari ikhtiar mereka dalam meraih keberhasilan.

 

Guru pembimbing, Ibrahim Musthofa, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian kelima murid tersebut. Menurutnya, prestasi ini bukan sekadar keberhasilan memperoleh penghargaan, melainkan juga bukti kemampuan murid dalam berpikir kritis, analitis, serta berani menyampaikan gagasan untuk merespons persoalan hukum di masyarakat.

 

“Dalam proses pembimbingan, saya tidak hanya mengarahkan mereka untuk menghasilkan esai yang baik, tetapi juga mendorong agar mampu membangun argumentasi hukum yang logis, berbasis regulasi, dan memiliki solusi terhadap persoalan yang diangkat,” tuturnya.

 

Ia berharap pencapaian ini menjadi langkah awal bagi murid untuk terus mengembangkan potensi, tidak cepat berpuas diri, serta tumbuh menjadi generasi muda yang memiliki kesadaran hukum, integritas, dan kepedulian terhadap masa depan bangsa.

 

Ke depan, tim SMAMDA berharap pengalaman mengikuti ALEC dapat menjadi bekal untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mengikuti berbagai kompetisi lainnya.

 

Mereka juga berpesan kepada teman-teman agar tidak takut mencoba dan menikmati setiap proses yang dijalani.

 

“Jangan pernah takut untuk mencoba dan jangan terlalu terpaku pada hasil akhir. Setiap pencapaian besar selalu dimulai dari satu langkah kecil. Jalani prosesnya dengan sungguh-sungguh, belajar dari kesalahan, terbuka terhadap masukan, dan jangan ragu bekerja sama dengan orang lain,” pesan Sausan.

 

 

*Editor: Moh. Ernam*

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo