Tampilan Game Map media pembelajaran digital Inverse Code: Al-Jabar Escape Room karya Elok Kartika Sari dan Merissa Indah Fitria yang meraih medali emas Lomba Inovasi Media dan Pembelajaran PPPMI 2026, Kamis (1/10/2026). (Elok Kartika Sari/smamda.sch.id) Tampilan Game Map media pembelajaran digital Inverse Code: Al-Jabar Escape Room karya Elok Kartika Sari dan Merissa Indah Fitria yang meraih medali emas Lomba Inovasi Media dan Pembelajaran PPPMI 2026, Kamis (1/10/2026). (Elok Kartika Sari/smamda.sch.id)

Kembangkan Gim Edukasi Fungsi Invers, Dua Guru Smamda Raih Emas PPPMI 2026

Elok Kartika Sari | 21 Oktober 2026

Detail Berita:


SMAMDA.SCH.ID – Dua guru Matematika SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Sidoarjo, Elok Kartika Sari dan Merisa Indah Fitria, meraih medali emas dalam Lomba Inovasi Media dan Pembelajaran Perkumpulan Pascasarjana Pendidikan Matematika Indonesia (PPPMI) 2026. Keduanya meraih penghargaan melalui media pembelajaran digital interaktif berjudul Inverse Code: Al-Jabar Escape Room.

Kompetisi Divisi A1 Media Digital Interaktif jenjang S2 tersebut berlangsung di Bali pada Kamis (1/10/2026). Elok dan Merisa saat ini juga menempuh pendidikan S2 Pendidikan Matematika di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Inverse Code: Al-Jabar Escape Room merupakan media pembelajaran berbasis gim yang mengajak murid memahami fungsi invers melalui petualangan, pemecahan kode, dan berbagai tantangan matematika. Media ini dapat diakses secara gratis melalui https://game-inverse-code.netlify.app/ dengan koneksi internet.

Elok menjelaskan, gagasan pengembangan media tersebut berangkat dari keinginan menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih menarik dan dekat dengan pengalaman murid.

“Kami ingin murid tidak hanya belajar fungsi invers dengan menghafal langkah-langkahnya. Kami mencoba menghadirkan konsep ‘invers’ sebagai sebuah perjalanan untuk menemukan jalan kembali. Dari gagasan itulah kemudian lahir konsep Inverse Code: Al-Jabar Escape Room,” ungkapnya.

Konsep tersebut dikemas melalui permainan yang memadukan cerita sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam, terutama kontribusi Al-Khawarizmi dalam perkembangan aljabar. Murid diajak menjelajahi sejumlah ruangan, menemukan petunjuk, dan menyelesaikan kode dengan menerapkan konsep fungsi invers.

Merisa mengatakan, unsur permainan dirancang untuk membangun rasa ingin tahu murid sekaligus mendorong mereka menggunakan pemahaman matematika untuk menyelesaikan tantangan.

“Kami ingin ada rasa penasaran. Jadi ketika murid menemukan sebuah kode, mereka tidak merasa sedang mengerjakan soal matematika biasa, tetapi merasa sedang menyelesaikan sebuah misi. Di situlah kami berharap konsep matematika bisa lebih mudah mereka maknai,” tuturnya.

Pengalaman mengajar di Smamda menjadi bekal penting bagi keduanya dalam mengembangkan media tersebut. Mereka berupaya memastikan gim tidak sekadar menarik secara visual, tetapi juga memiliki tujuan pembelajaran yang jelas.

Bagi Elok dan Merisa, respons murid menjadi salah satu hal yang paling berarti selama pengembangan media. Ketika mengikuti permainan, murid didorong untuk mencoba, berdiskusi, dan menggunakan pemahaman tentang fungsi invers agar dapat melanjutkan misi.

“Medali emas ini tentu menjadi kebahagiaan bagi kami. Namun, ketika melihat murid menikmati prosesnya, berdiskusi, mencoba kembali ketika salah, dan akhirnya berhasil menyelesaikan tantangan, itu juga menjadi kepuasan tersendiri. Kami merasa media yang dibuat benar-benar menemukan tempatnya dalam pembelajaran,” ujar Elok.

Melalui inovasi ini, keduanya berupaya memadukan matematika, teknologi, permainan, dan sejarah ilmu pengetahuan dalam satu pengalaman belajar. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu murid memahami konsep matematika secara lebih kontekstual sekaligus meningkatkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran.

Merisa berharap karya tersebut dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan, tidak hanya untuk kepentingan kompetisi.

“Kami berharap karya ini tidak berhenti pada kompetisi. Semoga semakin banyak guru yang berani mencoba, bereksperimen, dan membuat pembelajaran sesuai dengan kebutuhan murid. Tidak harus selalu sempurna; yang penting ada kemauan untuk terus memperbaiki dan membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna,” pungkasnya.

Prestasi Elok dan Merisa menjadi kontribusi guru Smamda dalam mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi. Capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa kreativitas guru dapat menjadi salah satu jalan untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih interaktif dan bermakna bagi murid.


Editor: Moh. Ernam

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo