Saat Dunia Berlari, Masihkah Guru Berjalan?

Suwidiyanti, M.Pd. | 06 Mei 2026

Detail literasi:

Di tengah derasnya arus digitalisasi, satu pertanyaan penting patut kita renungkan: apakah pendidikan kita masih relevan dengan dunia yang akan dihadapi murid?

Kita masih menemukan ruang-ruang kelas yang berjalan dengan pola lama—guru menjelaskan, murid mencatat, lalu menghafal. Sementara di luar sana, dunia bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa ditawar. Teknologi berkembang pesat, kecerdasan buatan semakin canggih, dan keterampilan masa depan tidak lagi sama dengan masa lalu.

Di sinilah letak persoalannya: bukan pada murid yang kurang siap, tetapi pada keberanian guru untuk berubah.

Langkah yang dilakukan oleh guru-guru SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (SMAMDA) menjadi contoh nyata bahwa perubahan itu mungkin dan bisa dimulai dari sekarang. Pada Rabu, 29 April 2026, tiga guru SMAMDA Naimul Hajar, Suwidiyanti, dan Elok Kartika Sari mengikuti pelatihan koding yang diselenggarakan oleh Marshal Cavendish Education, dengan dukungan Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur. Kegiatan ini dilaksanakan di MA Muhammadiyah 9 Lamongan.

Pelatihan yang berlangsung secara interaktif ini memperkenalkan berbagai modul penting dalam dunia pemrograman. Materi yang disajikan meliputi Game Development, Mobile App Development, Website Development, Python Fundamentals, hingga pengenalan Artificial Intelligence (AI) untuk tingkat sekolah menengah. Tidak hanya itu, peserta juga dikenalkan dengan modul terbaru seperti AI berbasis blok (block-based AI), C++ Programming, serta konsep dasar Machine Learning.

Salah satu sesi yang paling menarik adalah saat peserta didemonstrasikan penggunaan Python dan langsung diberi kesempatan untuk mencoba koding melalui platform berbasis web. Tanpa perlu instalasi yang rumit, para guru dapat langsung menulis dan menjalankan kode, mencoba berbagai perintah sederhana, hingga memahami alur logika pemrograman secara nyata.

Materi yang disusun secara sistematis, dilengkapi dengan video pembelajaran, membuat proses belajar menjadi lebih mudah diikuti. Namun yang lebih penting dari itu semua adalah pengalaman belajar itu sendiri, ketika guru mencoba, melakukan kesalahan, berdiskusi, dan akhirnya menemukan pemahaman.

Di situlah perubahan sebenarnya terjadi.

Untuk memperkuat makna tersebut, Naimul Hajar menyampaikan refleksinya:
“Pelatihan ini membuka cara pandang kami bahwa koding bukan sesuatu yang sulit atau jauh dari dunia Pendidikan, justru ini bisa menjadi alat untuk membuat pembelajaran lebih menarik, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan zaman.”

Koding, dalam konteks ini, bukan sekadar keterampilan teknis. Ia adalah cara berpikir cara menyusun logika dan cara menghadapi masalah secara sistematis. Inilah yang dikenal sebagai computational thinking, sebuah kemampuan yang sangat dibutuhkan di era digital.

Pertanyaannya, apakah kita masih akan membiarkan murid hanya menjadi pengguna teknologi? Ataukah kita mulai menyiapkan mereka menjadi pencipta?

Pengalaman guru-guru SMAMDA dalam pelatihan ini menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Ia bisa dimulai dari ruang pelatihan, dari layar laptop, dari satu baris kode pertama yang ditulis dengan penuh rasa ragu.

Namun dari situlah keberanian tumbuh.

Semangat belajar harus menjadi bagian dari nilai hidup seorang guru. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Mujadilah ayat 11:

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Ayat ini mengingatkan bahwa belajar bukan sekadar kebutuhan profesional, tetapi juga bagian dari ibadah.

Guru yang terus belajar akan mengajar dengan cara yang berbeda lebih empatik, lebih relevan, dan lebih memahami proses belajar murid. Karena mereka sendiri telah merasakan bagaimana sulitnya memulai sesuatu yang baru.

Jika kita ingin menciptakan generasi yang kritis, kreatif, dan adaptif, maka guru harus menjadi yang pertama bergerak. Bukan menunggu, tetapi mengambil langkah.

Karena sesungguhnya, ancaman terbesar dalam pendidikan bukanlah teknologi yang berkembang terlalu cepat, melainkan ketidakmauan untuk belajar hal baru.

Guru yang terus belajar adalah guru yang menyalakan masa depan. Sebaliknya, guru yang berhenti belajar, tanpa disadari sedang menjauhkan murid dari masa depan mereka.

Langkah kecil dari pelatihan koding di SMAMDA ini mungkin terlihat sederhana. Namun dari situlah lahir sebuah harapan: bahwa pendidikan masih memiliki masa depan selama gurunya tidak berhenti belajar.

Lampiran pdf:

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo