PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS ANEKDOT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN MEDIA INSTAGRAM

R.P. Fida El Hijr, S.Pd. | 28 April 2026

Detail literasi:

Pendahuluan

Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah memiliki tujuan utama untuk mengembangkan keterampilan berbahasa, salah satunya adalah menulis. Materi teks anekdot menjadi bagian esensial dalam kurikulum karena mengajarkan siswa menyusun cerita singkat yang lucu dan mengesankan, namun tetap mengandung kritik atau sindiran terhadap isu publik, politik, maupun tokoh terkenal. Namun, pada kenyataannya, banyak siswa mengalami kesulitan signifikan dalam menulis teks anekdot. Tantangan tersebut tidak hanya terletak pada penguasaan struktur, tetapi juga pada kemampuan memilih diksi yang tepat serta mengemas kritik menjadi humor satir yang halus. Oleh karena itu, diperlukan metode penyelesaian yang efektif agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.

Perkembangan internet dan teknologi digital masih menjadi alat yang sangat dibutuhkan pada era ini. Era ini juga akan mengubah aktivitas manusia, termasuk dalam bidang pengetahuan, seni, khususnya bidang pendidikan. Seorang guru perlu memiliki pengetahuan teknologi, yakni guru harus mempu menggunakan teknologi informasi sebagai proses pembelajaran. Guru bahasa dan sastra Indonesia diharapkan mampu memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh era 4.0 dan guru juga harus mampu mengajak siswa agar mampu berpikir kreatif dengan menggunakan teknologi informasi sebagai media pembelajaran yang digunakan. Tantangan dan harapan yang dimiliki pada era 4.0 ini merupakan harapan baru yang berbeda dengan kemampuan guru dan siswa pada abad ke-20. Kemampuan penggunaan digital, metode belajar yang digunakan pada abad ini sangatlah berbeda. Diharapkan di era 4.0 siswa mampu belajar gaya dan cara yang berbeda disesuaikan dengan perkembangan teknologi saat ini.

Teknologi memiliki manfaat untuk manusia, salah satunya adalah media sosial. Media sosial yang populer saat ini adalah Instagram. Mike Krieger dan Kevin Systrom, merupakan pendiri Instagram. Instagram familiar dengan masyarakat, terutama di kalangan siswa. Hampir semua siswa pasti memiliki akun Instagram. Dari kebanyakan siswa, mereka menggunakan Instagramanya untuk membagikan foto-foto dan video. Mereka belum menyadari manfaat lain yang diberikan Instagram. Siswa dapat memanfaatkan Instagram untuk meningkatkan kreativitas dalam belajar dan juga dapat membangun suasana belajar yang menyenangkan.

Instagram termasuk salah satu media, yaitu media audiovisual, karena meghasilkan suatu objek yang dapat bergerak. Media audiovisual ini memiliki kemampuan lebih karena media ini menggunakan indra penglihatan dan pendengaran. Dengan menggunakannya media tersebut ke dalam suatu pembelajaran akan memberikan suasana baru yang lebih menarik dan tidak monoton. Siapapun bisa dengan sangat mudah untuk mendapatkan berbagai informasi dari media Instagram. Oleh karena itu, Instagram bisa digunakan sebagai media pembelajaran teks anekdot karena dapat membantu siswa mempermudah dalam mengembangkan tema dan alur cerita.

 

 

 

Pembahasan

Pardiyono berpendapat bahwa teks anekdot merupakan ungkapan tentang perasaan yang ada dalam kehidupan seseorang, ia berisi tentang peristiwa atau kejadian lucu. Ungkapan keadaan tersebut untuk diberitahukan  kepada  orang  lain  untuk  memberi tujuan agar dapat menghibur dan menumbuhkan rasa senang. Walaupun tujuan anekdot yaitu untuk menghibur, namun sebetulnya terdapat pesan tersendiri dari penulisnya, karena teks tersebut merupakan sindiran alami. Luxemburg mengungkapkan bahwa teks anekdot merupakan ungkapan suatu bahasa yang menurut pragmatik,  sintaksis, dan isi adalah satu kesatuan. Begitu juga dengan Keraf yang berpendapat bahwa teks anekdot merupakan serupa dengan cerpen yang mempunyai tujuan untuk menyampaikan pesan yang menarik dan lucu tentang seseorang atau hal lainnya.

Anekdot adalah teks yang berbentuk cerita. Di dalamnya mengandung humor sekaligus kritik. Karena berisi kritik, anekdot sering bersumber dari kisah-kisah faktual dengan tokoh nyata yang terkenal. Anekdot tidak semata-mata menyajikan hal yang lucu-lucu, guyonan, ataupun humor. Akan tetapi, terdapat pula tujuan lain di balik cerita lucunya itu, yakni berupa pesan yang diharapkan bisa memberikan pelajaran.

Dari beberapa pendapat menurut para ahli diatas, Chaer memperkuat bahwa anekdot adalah cerita singkat yang terbilang lucu tentang seorang sosok terkenal, yang masih ada maupun yang sudah tidak ada. Jadi, tokoh yang terdapat dalam anekdot merupakan tokoh nyata yang bersejarah melainkan bukan tokoh fiktif. Berdasarkan dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan, teks anekdot merupakan ungkapan tentang perasaan yang dituangkan kedalam cerpen yang dapat menarik dan dapat menghibur karena di dalamnya mengandung lelucon yang lucu serta sindiran berdasarkan keadaan dan kejadian yang ada.

Struktur Teks Anekdot

Struktur teks anekdot menurut Yustinah terdiri atas lima bagian yang menjadikan sebuah jalan cerita mempunyai tokoh dan latar tertentu. Kelima bagian tersebut, yaitu:

  1. Abstrak, yaitu bagian paragraf yang berada di awal, yang memiliki fungsi untuk menggambarkan tentang isi dari teks.
  2. Orientasi, yaitu bagian paragraf yang menunjukan cerita bagian awal atau latarbelakang dari terjadinya peristiwa tersebut.
  3. Krisis, yaitu paragraf yang menjadi suatu masalah yang unik atau berisi sindiran.
  4. Reaksi, yaitu bagian yang berisi cerita tentang penulis atau seseorang yang akan ditulis agar menyelesaikan permasalahan dengan humor yang terdapat pada bagian krisis.
  5. Koda, yaitu cerita bagian akhir yang memiliki keunikan tersendiri.

Kaidah Teks Anekdot

Yustinah berpendapat bahwa, untuk dapat mengerti teks anekdot, maka dibutuhkannya pengetahuan untuk mengetahui kaidah anekdot. Kaidah teks anekdot merupakan kaidah kebahasaan yang sangat penting untuk kita kaji supaya teks anekdot yang akan disusun bisa menjadi utuh. Kaidah tersebut yaitu:

  1. Mengambil dari masa lalu atau yang sudah lewat.
  2. Mengeluarkan pertanyaan yang efektif.
  3. Menggunakan kata sambung atau konjungsi.
  4. Menggunakan kata kerja.
  5. Menggunakan kalimat printah.

 

Problematika Menulis Teks Anekdot dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Keterampilan menulis membutuhkan proses berpikir kompleks (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dan penguasaan tiga aspek utama: isi (ide), organisasi (struktur), dan kebahasaan (diksi dan ejaan).  Pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi siswa, baik secara lisan maupun tulisan. Salah satu materi yang cukup menantang dalam Kurikulum Merdeka bagi siswa kelas X adalah menulis teks anekdot.

Anekdot bukan sekadar cerita lucu, melainkan cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, serta biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya dengan selipan kritik sosial. Namun, dalam praktiknya di ruang kelas, proses mengubah ide kritis menjadi sebuah narasi humor bukanlah perkara mudah. Anekdot bukan sekadar cerita lucu, melainkan cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, serta biasanya mengenai orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya dengan selipan kritik sosial. Namun, dalam praktiknya di ruang kelas, proses mengubah ide kritis menjadi sebuah narasi humor bukanlah perkara mudah.

Teks anekdot memiliki fungsi ganda sebagai sarana hiburan dan sebagai instrumen kritik sosial. Bagi siswa kelas X, materi ini merupakan jembatan untuk melatih kepekaan terhadap fenomena sosial di sekitar mereka. Siswa dituntut untuk berpikir kritis (critical thinking) dalam melihat ketimpangan, lalu mengemasnya dengan kreativitas literasi agar pesan yang disampaikan tidak terkesan menggurui atau kasar, melainkan melalui sindiran halus yang jenaka.

Faktor Penyebab Kesulitan Siswa

Salah satu kendala utama yang sering ditemui guru di lapangan adalah ketidakmampuan siswa membedakan antara "lucu" yang sekadar guyonan (joke) dengan "lucu" yang mengandung kritik (anekdot). Banyak siswa hanya fokus pada unsur komedi tanpa menyertakan makna tersirat atau sindiran terhadap layanan publik, perilaku pejabat, atau fenomena sosial. Hasilnya, tulisan mereka menjadi teks narasi humor kosong yang kehilangan esensi utamanya sebagai kritik sosial.

No.

Aspek Kesulitan

Deskripsi Rinci

1.

Aspek Ide (Isi)

Siswa kesulitan dalam menentukan objek kritik (topik aktual) dan mengemas kritik tersebut menjadi lucu (sulit membedakan humor biasa dengan kritik satir).

2.

Aspek Struktur

Siswa gagal mematuhi struktur wajib teks anekdot, khususnya dalam memunculkan krisis dan reaksi yang berfungsi sebagai klimaks humor dan kritik. Teks yang dihasilkan seringkali menjadi narasi biasa, bukan anekdot.

3.

Aspek Kebahasaan

Penguasaan diksi (pilihan kata) yang terbatas, sehingga anekdot menjadi kaku atau tidak menarik. Siswa kesulitan membuat kalimat sindiran yang halus (satir) dan cenderung menggunakan bahasa yang terlalu lugas atau kasar.

 

Menulis anekdot memerlukan bahan baku berupa pengamatan terhadap realitas. Siswa kelas X sering kali mengalami "kebuntuan ide" karena kurangnya literasi bacaan mengenai isu-isu terkini. Tanpa pemahaman yang baik tentang apa yang sedang terjadi di masyarakat, siswa sulit menemukan objek yang layak untuk dikritik. Hal ini diperparah dengan ketergantungan pada gadget yang membuat mereka lebih banyak mengonsumsi konten instan daripada melakukan observasi mendalam.

Kesulitan siswa dalam menulis teks anekdot dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama:

  • Siswa memilih topik yang tidak memiliki potensi kritik (misalnya, pengalaman pribadi biasa, bukan isu publik).
  • Siswa membuat cerita lucu, tetapi tidak mengandung kritikan sama sekali.
  • Teks yang ditulis terlalu panjang dan bertele-tele, kehilangan esensi cerita singkat yang mengesankan.

Untuk mengatasi kesulitan tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang berfokus pada pengembangan ide, penguasaan struktur, dan kreativitas kebahasaan.

Strategi Pengembangan Ide (Menggali Kritik Satir)

Metode

Langkah Implementasi

Fokus Pengembangan

Contextual Learning

Guru mengajak siswa mengamati isu-isu aktual di media (video berita/media sosial) yang layak dikritik secara humoris.

Potensi Kritik dan Isu Aktual

Mind Mapping

Siswa membuat peta pikiran untuk satu isu. Cabang peta berisi: Tokoh yang Dikritik, Masalah/Kesenjangan, dan Potensi Kelucuan.

Kreativitas Pemikiran

 

Orientasi Siswa pada Masalah (Eksplorasi Isu Viral)

Pada tahap ini, guru mengarahkan siswa untuk menjadi "pengamat sosial" melalui media sosial. Guru meminta siswa membuka Instagram dan mencari akun-akun berita atau informasi publik (seperti akun berita nasional, pendidikan, atau pemerintahan). Siswa diminta mengidentifikasi isu-isu aktual yang sedang viral dan memiliki potensi untuk dikritik secara humoris. Tujuannya adalah agar siswa mampu membedakan antara pengalaman pribadi biasa dengan isu publik yang memiliki nilai kritik sosial.

Guru membantu siswa memfokuskan masalah yang akan dijadikan bahan tulisan. Siswa dikelompokkan atau bekerja mandiri untuk memilih satu foto viral sebagai stimulus utama. Contoh topik yang dapat dipilih meliputi: penambangan liar, isu pertalite oplosan, pengangguran, lapangan pekerjaan, hingga fenomena ijazah palsu. Siswa menganalisis aspek apa dari foto tersebut yang paling menggelitik atau ironis untuk dijadikan bahan sindiran. Guru berperan sebagai fasilitator dalam membantu siswa mengonstruksi teks anekdot. Siswa mulai menyusun draf teks anekdot berdasarkan foto yang dipilih. Guru membimbing siswa agar tetap mengikuti struktur wajib teks anekdot, khususnya memastikan adanya bagian krisis (masalah unik) dan reaksi (penyelesaian yang lucu/menyindir) sebagai klimaks. Siswa diarahkan untuk menggunakan diksi yang satir namun tetap halus, guna menghindari bahasa yang terlalu lugas atau kasar.

Inilah tahap pemanfaatan media Instagram sebagai wadah publikasi. Siswa mengunggah foto viral yang telah dipilih ke dalam akun Instagram. Teks anekdot yang telah disusun diletakkan pada bagian caption unggahan tersebut. Siswa dapat menambahkan hashtag relevan untuk melihat sejauh mana tulisan mereka mendapat respon (interaksi) dari pembaca, yang mensimulasikan fungsi kritik sosial di dunia nyata. Guru dan siswa bersama-sama mengevaluasi hasil karya yang telah diunggah. Evaluasi dilakukan berdasarkan ketepatan struktur (abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda) serta ketajaman kritik yang dibungkus dengan humor. Siswa merefleksikan kesulitan yang mereka alami, seperti cara mengubah narasi biasa menjadi sindiran satir yang efektif.

Media instagram yang digunakan untuk keterampilan menulis teks anekdot peserta didik dapat menjadi referensi dalam keterampilan menulis teks anekdot yang lebih baik, inovatif dan tidak monoton, sehingga peserta didik pun semangat dan antusias dalam belajar. Peserta didik mengatakan bahwa setuju jika media instagram dijadikan penunjang pada pembelajaran teks anekdot bahasa Indonesia kelas X. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara terhadap peserta didik kelas X SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo setelah menggunakan media aplikasi instagram pada pembelajaran teks anekdot. Disimpulkan bahwa peserta didik tertarik melakukan kegiatan menulis teks anekdot. Peserta didik merasakan bahwa menggunakan aplikasi Instagram mempermudah mereka dalam menulis teks anekdot. Melalui aplikasi Instagram, peserta didik merasa lebih mampu mengembangkan ide-ide kreatif untuk menulis teks anekdot dengan lebih mudah, efektif dan menyenangkan.

 

Daftar Pustaka

Ambarsari, Zukhruf. “Pengunaan Instagram sebagai Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada Era 4.0”. Prosiding Seminar Nasional PBSI-III. Universitas Negeri Medan. 2020. PDF.

Arikunto, Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2013.

Arsyad, Azhar. Media Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada Press. 2012.

Chaer, Abdul. 2018. Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Kusnadi, Cecep. & Darmawan, Deddy. Pengembangan Media Pembelajaran. Jakarta: Kencana. 2020.

Lutfiyani, Maudina. “Penggunaan Media Stand Up Comedy Pada Pembelajaran Menulis Teks Anekdot Siswa SMK Walisongo 2 Depok Tahun Pelajaran 2022/2023”. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2024.

Maisyarah. “Keterampilan Menulis Teks Anekdot Menggunakan Instagram Akun Komikin_Ajah pada Peserta Didik Kelas X SMAN 7 Banjarmasin. Jurnal LOCANA, 4(2). 2021.

Putri, Wilga Secsio Ratsja, dkk. “Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku Remaja”. Jurnal UNPAD. 2016.

Salim & Syahrum. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Citapustaka Media.

2012.

Sari, Nur Eka. Media Flash Tiga Dimensi Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia.

Kuningan: Goresan Pena. 2022.

Sarosa, Samiaji. Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar. Jakarta: PT Indeks. 2012.

Yustinah. (2014). Produktif Berbahasa Indonesia SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga.

 

 

Lampiran pdf:

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo