Detail literasi:
Hujan turun sejak siang itu, menandai awal musim dingin di Sokcho. Usai menikmati makan siang di sebuah restoran jamur khas setempat, kami—delegasi KLIC Indonesia 2025—melanjutkan agenda berikutnya. Perjalanan sekitar dua puluh menit menuju Sokcho Middle School terasa singkat, meski udara dingin dan rintik hujan terus menemani. Justru suasana itulah yang menambah semangat kami untuk menyaksikan langsung praktik pendidikan Korea Selatan dari dekat.
Setibanya di Sokcho Middle School, sambutan hangat langsung kami rasakan. Dua murid dengan penuh percaya diri mempresentasikan profil dan aktivitas sekolah dalam bahasa Inggris. Tak lama berselang, Wakil Kepala Sekolah—yang mewakili Kepala Sekolah karena berhalangan hadir—melanjutkan paparan mengenai berbagai program unggulan sekolah.
Salah satu yang menarik perhatian kami adalah program pembelajaran setelah jam sekolah. Sejak kelas VII semester pertama, murid telah diarahkan berdasarkan minat dan cita-cita mereka. Prosesnya diawali dengan pembelajaran eksploratif, sehingga peserta didik dipersiapkan merancang masa depan sejak dini. Program-program tersebut disusun berdasarkan hasil penjaringan pendapat murid dan orang tua melalui survei daring.
Jenis program yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari seni dan olahraga seperti bulu tangkis, tari K-POP, webtoon, dan ilustrasi, hingga eksplorasi karier, AI dan koding, serta berbagai kegiatan pengembangan minat lainnya. Pemerintah Kota Sokcho juga memberikan dukungan pendanaan apabila terjadi kesenjangan pendidikan, sebagai bagian dari upaya mitigasi agar semua murid memperoleh kesempatan yang setara.
Pada semester kedua tahun pertama SMP, Sokcho Middle School secara khusus menyelenggarakan semester eksplorasi profesi. Beban ujian diringankan, sementara kelas pengalaman dan eksplorasi karier diperluas serta dipimpin aktif oleh murid. Pembelajaran berbasis gawai pintar menjadi ciri utama, dengan penekanan pada pengembangan kemampuan pemecahan masalah kreatif melalui proyek, koding, diskusi, dan presentasi. Sistem ini sekaligus mendorong tumbuhnya kemandirian belajar murid.
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi keunggulan tersendiri. Perangkat pintar memungkinkan pembimbingan individual dan meningkatkan partisipasi murid. Evaluasi diagnostik daring memberi umpan balik secara real time, serta memudahkan intervensi awal berbasis data melalui sistem remediasi yang dipersonalisasi.
Di akhir paparannya, Wakil Kepala Sekolah menegaskan dukungan Sokcho Middle School terhadap guru-guru, baik dari Korea maupun Indonesia, yang terus belajar demi terwujudnya pembelajaran yang berpusat pada murid. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ibu Sopha Julia, S.H., M.A., Ketua Tim Satuan Pendidikan Kerja Sama Ditjen PAUDASMEN, yang menekankan bahwa pembelajaran mendalam mencakup KLIC—koding, AI, literasi, dan numerasi—serta pentingnya pelatihan AI bagi setiap guru.
Setelah sesi presentasi, kami diajak berkeliling area sekolah. Dari ruang kelas, perpustakaan, studio seni, ruang guru, hingga lapangan olahraga yang luasnya mengingatkan kami pada Stadion Delta Sidoarjo. Namun, satu lokasi yang paling menyita perhatian adalah ruang makan sekolah.
Di Sokcho Middle School, seperti sekolah-sekolah lain di Korea Selatan, seluruh murid mendapatkan fasilitas makan siang gratis. Program ini sejalan dengan konsep Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia. Bedanya, di Korea pengelolaan MBG dilakukan oleh masing-masing pemerintah daerah, sementara sekolah mengatur menu dan pemenuhan gizi secara mandiri. Setiap sekolah memiliki tenaga ahli gizi yang bekerja sama dengan guru, dan menu disusun bergilir setiap hari. Bahkan, dalam satu bulan murid diberi kesempatan untuk memberikan ulasan terhadap menu yang disajikan.
Hal yang lebih menarik, orang tua turut berkolaborasi dengan pihak sekolah dalam memantau pelaksanaan MBG. Prosesnya semi swalayan: murid berbaris tertib, mengambil perlengkapan makan, kemudian menerima makanan dari tim MBG yang didampingi guru. Setelah makan bersama di jam istirahat siang, murid mencuci perlengkapan makan mereka sendiri dan meletakkannya kembali di rak untuk digunakan keesokan hari. Kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab benar-benar ditanamkan dalam aktivitas sederhana ini.
Kunjungan kami ditutup dengan pertukaran cendera mata. Bapak Anang Rahardananto, S.T., M.M. dari Kemendikdasmen menyerahkan cendera mata kepada Wakil Kepala Sekolah Sokcho Middle School sebagai simbol awal persahabatan dan kerja sama. Meski lelah setelah berkeliling di tengah hujan yang tak kunjung reda, kami pulang dengan perasaan gembira—membawa pulang pengalaman berharga dan inspirasi dari praktik pendidikan di Negeri Ginseng.
Sampai jumpa pada pengalaman esok hari.
Editor : Moh. Ernam