Menyulam Mimpi ke Negeri Ginseng (Seri ke-6) Songi Beoseot: Jamur Emas dari Hutan Gangwon

Ernawati Kristinningrum, S.T., M.Pd. | 04 Januari 2026

Detail literasi:

Kamis, 16 Oktober 2025, rangkaian kegiatan KLIC Indonesia 2025 belum berakhir meski Opening Ceremony telah resmi digelar. Seusai acara pembukaan yang sarat makna dan pertukaran budaya di Gangwon International Education Institute (GIEI), agenda berlanjut ke satu pengalaman yang tak kalah istimewa: wisata kuliner khas Provinsi Gangwon.

Bus rombongan membawa kami menuju wilayah yang dikenal sebagai penghasil jamur terbaik di Korea Selatan. Yangyang, sebuah kota di Provinsi Gangwon, selama ini tersohor sebagai rumah bagi jamur pinus berkualitas tinggi, 송이버섯 (songi beoseot)—ikon kuliner sekaligus kebanggaan daerah setempat.

Songi beoseot bukan jamur biasa. Di Korea, ia dikenal sebagai salah satu hasil hutan paling berharga. Aroma musim gugurnya yang khas, rasa lembut yang elegan, serta kelangkaannya menjadikan jamur ini masuk kategori bahan pangan premium. Tak heran jika ia kerap disebut sebagai “emas dari hutan”.

Berbeda dengan jamur budidaya, songi beoseot tumbuh secara alami di hutan pinus. Jamur ini hidup melalui hubungan simbiotik dengan akar pohon pinus—sebuah relasi alamiah yang membuatnya nyaris mustahil dibudidayakan secara massal. Ia hanya tumbuh di tanah yang bersih, memiliki drainase baik, kelembapan seimbang, dan hutan pinus yang sehat. Sedikit saja ekosistem terganggu, jamur ini bisa menghilang.

Provinsi Gangwon-do menjadi penghasil songi beoseot terbesar dan paling terkenal di Korea Selatan. Musim panennya pun singkat, hanya berlangsung pada awal musim gugur, sekitar September hingga Oktober. Para pencari jamur—biasanya penduduk lokal yang berpengalaman—menyusuri hutan dengan penuh kehati-hatian agar tidak merusak tanah dan akar pinus. Sebab, satu kesalahan kecil dapat memengaruhi keberlanjutan jamur di tahun-tahun berikutnya.

Nilai ekonomi songi beoseot sangat tinggi. Jamur berkualitas terbaik dapat dijual dengan harga fantastis, bahkan menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi, terutama ke Jepang. Namun lebih dari itu, jamur pinus memiliki makna budaya mendalam. Ia kerap dijadikan hadiah istimewa saat perayaan tradisional seperti Chuseok, sebagai simbol kesehatan, kemakmuran, dan penghormatan.

Setiap tahun, Yangyang juga menggelar Yangyang Songi Pine Mushroom Festival, sebuah perayaan panen yang mengundang wisatawan untuk merasakan langsung pengalaman memetik jamur pinus dari hutan. Beragam olahan khas pun hadir selama festival—mulai dari ramyeon jamur, roti jamur, mi soba jamur, hingga burger jamur—menunjukkan betapa jamur ini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas lokal.

Bagi delegasi KLIC Indonesia 2025, makan siang hari itu menjadi pengalaman yang benar-benar berkesan. Beragam olahan songi beoseot tersaji di meja. Ada jamur goreng tepung yang rasanya mengingatkan pada terong goreng tepung di tanah air, renyah di luar dan lembut di dalam. Ada pula irisan jamur segar yang disantap mentah dengan cocolan saus minyak wijen—rasanya mengejutkan, menyerupai daging ayam dengan sensasi ringan dan bersih.

Santapan siang itu bukan hanya lezat, tetapi juga menyehatkan. Di tengah udara sejuk Gangwon, kami menikmati hidangan yang berasal langsung dari alam, hasil dari hutan yang terjaga dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Alhamdulillah, sepanjang perjalanan di Korea Selatan, kami tidak hanya belajar tentang teknologi pendidikan dan sistem pembelajaran global, tetapi juga dikenalkan pada kekayaan budaya dan kuliner yang penuh filosofi. Dari semangkuk Seolleongtang hingga songi beoseot dari hutan pinus Yangyang, setiap hidangan membawa cerita.

Hari itu kami pulang dengan perut kenyang dan hati hangat—seraya berucap dalam hati, Kamsahamnida, Korea. Terima kasih atas pengalaman yang tak sekadar mengenyangkan, tetapi juga memperkaya.

 

Editor: Moh. Ernam

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo