Menyulam Mimpi ke Negeri Ginseng (Seri ke-15) Menyematkan Harapan di Love Lock Namsan Tower

Ernawati Kristinningrum, S.T., M.Pd. | 04 Januari 2026

Detail literasi:

Senin, 20 Oktober 2025.

Usai mendapatkan wawasan berharga tentang sistem pendidikan Korea di KBRI Seoul, perjalanan delegasi KLIC Indonesia 2025 belum usai. Hari itu justru semakin terasa lengkap, karena kami akan mengunjungi salah satu ikon wisata paling terkenal di Seoul—sebuah tempat yang tidak hanya menyuguhkan keindahan, tetapi juga sarat makna: N Seoul Tower.

Angin dingin berhembus lembut, menemani langkah kami menuju area keberangkatan cable car. Suhu yang cukup rendah tidak menyurutkan semangat para delegasi. Justru, suasana inilah yang membuat pengalaman terasa semakin autentik—merasakan langsung atmosfer musim gugur menuju dingin di negeri empat musim.

Perjalanan menuju puncak Gunung Namsan kami tempuh dengan cable car. Dari dalam kabin, pemandangan kota Seoul perlahan terbentang luas. Gedung-gedung tinggi, jalanan yang tertata rapi, serta perpaduan warna dedaunan musim gugur menciptakan lanskap yang begitu memanjakan mata. Beberapa delegasi tak henti mengabadikan momen ini melalui kamera ponsel mereka, seakan tak ingin melewatkan satu detik pun keindahan yang tersaji.

Sesampainya di puncak, berdirilah megah N Seoul Tower, yang juga dikenal sebagai Namsan Tower. Menara ini bukan sekadar bangunan tinggi, melainkan simbol kota Seoul yang menyatukan keindahan alam, teknologi, dan budaya dalam satu ruang.

Dari area observatorium terbuka, kami disuguhkan panorama kota Seoul dari ketinggian. Langit yang cerah membuat pandangan semakin luas, memperlihatkan betapa teraturnya tata kota di Korea Selatan. Di kejauhan, tampak perpaduan antara modernitas dan alam yang berjalan harmonis—sesuatu yang menjadi ciri khas negeri ini.

Namun, daya tarik utama yang paling menyita perhatian kami adalah area Love Locks.

Di sebuah pagar panjang yang mengelilingi area menara, ribuan bahkan jutaan gembok warna-warni tergantung rapi. Inilah yang dikenal sebagai simbol cinta abadi—tempat di mana pasangan dari berbagai penjuru dunia menyematkan harapan dan doa untuk hubungan mereka.

Fenomena Love Lock ini bukan hanya sekadar tren wisata, tetapi telah menjadi bagian dari budaya populer di Korea. Setiap gembok yang terpasang menyimpan cerita—tentang cinta, harapan, janji, bahkan mimpi yang ingin diwujudkan bersama.

Kami, para delegasi KLIC Indonesia 2025, tentu datang bukan sebagai pasangan yang ingin mengabadikan cinta romantis. Namun, di tempat ini, kami menemukan makna yang lebih luas.

Beberapa dari kami mulai saling bercanda, “Kalau bukan cinta, kita kunci apa di sini?”

Lalu muncul jawaban yang sederhana namun dalam: harapan dan komitmen.

Harapan untuk pendidikan Indonesia yang lebih maju.
Komitmen untuk menjadi guru yang terus belajar.
Dan tekad untuk mengimplementasikan ilmu yang didapat dari program KLIC.

Momen itu terasa reflektif. Di tengah keramaian wisatawan, kami justru menemukan ruang hening untuk merenung—bahwa perjalanan ini bukan sekadar kunjungan luar negeri, tetapi perjalanan batin sebagai pendidik.

Selain Love Locks, kawasan N Seoul Tower juga dilengkapi berbagai fasilitas menarik. Terdapat restoran berputar yang memungkinkan pengunjung menikmati hidangan sambil melihat panorama 360 derajat kota Seoul. Ada pula toko suvenir dengan berbagai pernak-pernik khas Korea, serta spot foto dengan desain artistik yang sangat Instagramable.

Beberapa delegasi memanfaatkan waktu untuk berkeliling, membeli cendera mata, atau sekadar menikmati suasana. Tawa, canda, dan kebersamaan terasa begitu hangat, seolah mengalahkan dinginnya udara Seoul.

Menjelang sore, cahaya mulai berubah. Perlahan, lampu-lampu kota mulai menyala, menciptakan pemandangan yang semakin dramatis. N Seoul Tower pun ikut memancarkan iluminasi warna-warni yang menambah kesan romantis dan magis.

Saat itulah kami benar-benar menyadari—tempat ini bukan hanya tentang wisata, tetapi tentang pengalaman.

Perjalanan ke Namsan Tower menjadi penutup hari yang sempurna. Dari pagi yang penuh wawasan di KBRI Seoul, hingga sore yang sarat makna di puncak Gunung Namsan, semuanya membentuk satu rangkaian cerita yang utuh.

Cerita tentang belajar, tentang melihat dunia, dan tentang menemukan makna di setiap langkah perjalanan.

Dengan langkah perlahan, kami meninggalkan kawasan menara, kembali menaiki cable car menuju bawah. Namun, ada satu hal yang pasti tertinggal di sana—bukan benda, melainkan kenangan dan harapan yang telah kami “kunci” di tempat itu.

Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Gamsahamnida.

 

Editor: Moh. Ernam

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo