MASA DEPAN BAHAS DALAM PANDANGAN STOIKISME

R.P. Fida El Hijr, S.Pd. | 24 Februari 2026

Detail literasi:

MASA DEPAN BAHAS DALAM PANDANGAN STOIKISME

R.P. Fida’ El Hijr[1]

Alamat Surel elhijr5@gmail.com

 

Abstrak

Dinamika perkembangan zaman di era digitalisasi telah memicu kekhawatiran mengenai masa depan bahasa, mulai dari maraknya istilah asing, rendahnya literasi, hingga ancaman hilangnya bahasa daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi masa depan bahasa melalui perspektif Stoikisme, sebuah aliran filsafat Yunani-Romawi yang berfokus pada ketangguhan mental dan pengendalian diri. Metode yang digunakan adalah analisis konseptual terhadap prinsip-prinsip utama Stoikisme, seperti dikotomi kendali, Amor Fati, Premeditatio Malorum, dan Arete (kebajikan).

Hasil pembahasan menunjukkan bahwa melalui prinsip dikotomi kendali, individu diajak untuk fokus pada penggunaan bahasa pribadi yang baik daripada mencemaskan perubahan pola komunikasi masyarakat yang berada di luar kendali. Konsep Amor Fati memandang evolusi dan adaptasi bahasa sebagai bagian dari hukum alam yang harus diterima dengan ketenangan. Sementara itu, Premeditatio Malorum berfungsi sebagai sarana antisipasi terhadap risiko "kematian bahasa" guna memicu kesadaran untuk merawat identitas bahasa saat ini. Terakhir, penerapan empat pilar kebajikan kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan kesederhanaan menjadi standar moral dalam berkomunikasi di tengah gempuran disinformasi. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa masa depan bahasa tidak ditentukan oleh kebijakan eksternal semata, melainkan oleh komitmen individu dalam menggunakan bahasa secara sadar dan bermartabat. Stoikisme memberikan landasan optimisme rasional dalam menghadapi ketidakpastian budaya di masa depan.

 

Kata Kunci: Stoikisme, Amor Fati, Premeditatio Malorum, Arete, Dikotomi Kendali.

 

Abstract

The dynamics of the times in the era of digitalization have sparked concerns about the future of language, ranging from the proliferation of foreign terms, low literacy levels, to the threat of losing regional languages. This study aims to explore the future of language through the perspective of Stoicism, a Greco-Roman philosophy that focuses on mental resilience and self-control. The method used is a conceptual analysis of the main principles of Stoicism, such as the dichotomy of control, Amor Fati, Premeditatio Malorum, and Arete (virtue).

The discussion results indicate that through the principle of the dichotomy of control, individuals are encouraged to focus on using good personal language rather than worrying about changes in societal communication patterns that are beyond their control. The concept of Amor Fati views the evolution and adaptation of language as part of the laws of nature that must be accepted with calmness. Meanwhile, Premeditatio Malorum serves as a means of anticipating the risk of the 'death of language' to trigger awareness in preserving the current language identity. Finally, the application of the four pillars of virtue—wisdom, justice, courage, and moderation—becomes a moral standard in communication amid the onslaught of disinformation. The conclusion of this study is that the future of language is not determined solely by external policies, but by the individual’s commitment to using language consciously and with dignity. Stoicism provides a foundation of rational optimism in facing cultural uncertainties in the future.

 

Keywords: Stoicism, Amor Fati, Premeditatio Malorum, Arete, Dichotomy of Control.

 

Masa depan bahasa dalam zaman serba cepat ini sering kali melahirkan kosa kata, frasa, atau klausa baru. Bagi kalangan akademisi  masa depan bahasa selalu menjadi hal menarik untuk mengetahui perkembangan bahasa. Adanya kosa kata, frasa, dan klausa baru disetiap tahun atau setiap generasi menjadi hal yang menarik bagi perkembangan bahasa. Penggunaan bahasa Indonesia baku dikalangan pemuda dan pemudi juga menjadi problem baru dalam era digitalisasi. Masa depan bahasa daerah yang juga mulai ditinggalkan oleh penuturnya, karena tidak ada lagi yang menggunakan sebagai bahasa ibu atau bahasa pertama dalam keluarga. Rendahanya literasi dikalangan pelajar juga membuat masa depan bahasa menjadi terabaikan.

Mengatasi permasalahan di atas, maka dalam penelitian ini akan dibahas pandangan stoikisme memandang masa depan bahasa dan relevansinya dengan kondisi saat ini. Stoikisme atau yang dikenal Stoa merupakan suatu aliran filsafat Yunani-Romawi kuno yang memberikan dukungan dalam menghadapi emosi negatif dan membentuk ketangguhan mental untuk menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan hidup.[2] Stoicisme adalah suatu aliran filsafat yang berfokus pada konsep kebahagiaan hidup dan cara menghindari pikiran-pikiran stres serta kejenuhan[3]. Filosofi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan seseorang bergantung pada faktor-faktor yang dapat diatur dan dikendalikan.

Seperti yang diketahui bahwa kegelisahan maupun kebahagiaan itu berkaitan erat dengan masa depan atau sesuatu yang diharapkan dan belum terjadi. Menurut inti ajaran stoikisme[4], kebahagiaan manusia terletak pada keseluruhan  kesiapan  untuk  menyesuaikan  diri  dengan  hukum  alam,   mencapai kebebasan yang tidak terikat oleh faktor eksternal dan mampu tetap merdeka meskipun dihadapkan pada penderitaan dan kesulitan (Kodoati, 2023: 94).

Stoa hadir sebagai pendekatan untuk mengatasi dan mengelola kehidupan dengan cara mengontrol aspek-aspek yang dapat dikendalikan. Pengendalian di sini bukan hanya terkait dengan kemampuan untuk mencapai sesuatu, melainkan lebih kepada keterampilan menjaga dan mempertahankan hal tersebut. Dalam menghadapi dan mengelola kehidupan dengan lebih efektif, filsafat Stoa memberikan ajaran mengenai prinsip stoik. Filsafat ini mendorong individu untuk menerima setiap situasi dengan ketenangan dan ketabahan. Meskipun tidak secara langsung menghilangkan kegelisahan, prinsip- prinsip stoik yang diajarkan oleh filsafat Stoa dapat memberikan bantuan kepada individu dalam menghadapi dan mengelola perubahan zaman. Filsafat Stoa mengajarkan pentingnya memfokuskan perhatian pada aspek-aspek yang dapat diatur, dengan maksud menghindari terjadinya perubahan baru yang kerap kali dipicuh oleh kekhawatiran terhadap hal-hal di luar kendali. Dengan memusatkan perhatian pada sikap dan tindakan yang dapat dikendalikan, hal tersebut dapat mengurangi perubahan yang tidak perlu yang timbul akibat kekhawatiran yang tidak relevan.

Dalam konteks filsafat Stoa, manusia diajarkan untuk menerima takdir atau nasib sebagai prinsip. Namun, perlu diingat bahwa penerimaan ini bukan berarti hanya berserah diri tanpa melakukan usaha. Sebaliknya, konsep ini mengajarkan bahwa manusia tidak memiliki kendali penuh terhadap setiap peristiwa di dunia ini. Dengan menyadari bahwa  tidak  semua  hal  dapat  diatur, hal itu dapat mengurangi tingkat perubahan bahasa dan kehilangan bahasa daerah yang disebabkan oleh era digitalisasi dan rendahnya literasi.

   Secara umum, prinsip-prinsip stoikisme menyatakan bahwa kebahagiaan dapat diperoleh ketika manusia hidup dengan arete. Arete dapat diartikan sebagai usaha maksimal untuk mengekspresikan sifat dan hakikat dasar manusia secara optimal. Saat manusia memiliki tujuan yang tinggi, pendekatan stoik memiliki peran dalam membimbing bagaimana manusia seharusnya dapat memisahkan antara yang baik dan buruk, serta fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan. Stoikisme ini dianggap sebagai seni hidup yang memberikan pengajaran mengenai pencapaian kebahagiaan melalui pemahaman rasional atau nalar terhadap cara hidup manusia sejalan dengan alam.

Ajaran stoikisme sangat implementatif dan relevan dalam konteks kehidupan saat ini, karena stoikisme tidak hanya bersifat teoretis tetapi juga praktis, yang kemudian diwujudkan melalui latihan-latihan konkret. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dibahas lebih lanjut terkait dengan pandangan filsafat stoikisme tentang konsep masa depan dan bagaimana relevansinya dengan kondisi saat ini.

Muncul kekhawatiran bahwa bahasa nasional kita akan tergerus oleh istilah asing, bahasa "gaul" yang tak terkontrol, atau perubahan pola komunikasi akibat kecerdasan buatan. Namun, ribuan tahun lalu, para filsuf Stoik telah merumuskan cara hidup yang memungkinkan kita menghadapi ketidakpastian termasuk ketidakpastian budaya dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.

 

Dikotomi Kendali dalam Krisis Berbahasa

Prinsip paling fundamental dalam Stoikisme adalah dikotomi kendali. Epictetus dalam Msnampiring, menegaskan bahwa kebahagiaan bergantung pada kemampuan kita membedakan apa yang bisa kita ubah dan apa yang tidak. Dalam konteks permasalahan bahasa Indonesia, kita sering merasa cemas melihat fenomena "anak Jaksel" atau dominasi Bahasa Inggris di ruang publik. Namun, seorang Stoik akan bertanya: Apakah saya bisa mengontrol bagaimana jutaan orang lain berbicara? Jawabannya adalah tidak."Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, dan ada hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita" (Epictetus dalam Manampiring, 2019).

Kekacauan tata bahasa di media sosial berada di luar kendali kita. Yang berada di bawah kendali kita adalah cara kita sendiri menggunakan bahasa tersebut. Daripada menggerutu tentang penurunan standar literasi bangsa yang sering kali di luar kendali personal, Stoikisme mengajak kita untuk menjadi teladan, menulis dengan baik, membaca karya sastra yang bermutu, dan menjaga kesantunan berbahasa kita sendiri.

 

 Amor Fati: Mencintai Evolusi Bahasa

Bahasa adalah organisme yang hidup, ia tumbuh dan berubah. Banyak orang merasa masa depan bahasa Indonesia suram karena kehilangan kemurniannya. Di sini, konsep Amor Fati (mencintai takdir) berperan. Marcus Aurelius sering mengingatkan bahwa alam semesta adalah tentang perubahan. Ia menulis "Segala sesuatu berubah. Kamu sendiri pun sedang dalam proses perubahan yang konstan, begitu pula seluruh alam semesta” (Manampiring, 2019). Alih-alih memusuhi perubahan bahasa sebagai sebuah ancaman, Stoikisme mengajak kita melihatnya sebagai bagian dari evolusi zaman. Jika Bahasa Indonesia menyerap kosakata baru dari teknologi atau budaya global, itu bukanlah "kematian" bahasa, melainkan adaptasi. Mencintai takdir berarti menerima bahwa bahasa tidak akan pernah statis, dan tugas kita adalah memastikan bahwa esensi dari komunikasi yakni penyampaian kebenaran dan kebajikan tetap terjaga di dalamnya.

 

Premeditatio Malorum: Menyiapkan Diri atas Hilangnya Identitas

Teknik Premeditatio Malorum atau prapemikiran akan hal buruk mengajak kita membayangkan skenario terburuk agar kita tidak terkejut. Bayangkan sebuah masa depan di mana bahasa Indonesia hanya menjadi bahasa sekunder karena kalah saing dengan bahasa global atau “bahasa gaul”. Seneca menjelaskan "Seseorang yang tidak mengharapkan kemalangan akan merasa lebih menderita. Inilah mengapa kita harus memikirkan segala kemungkinan" (Manampiring, 2019).

Dengan membayangkan kemungkinan terburuk ini, kita tidak menjadi pesimis, melainkan menjadi waspada. Kesadaran akan risiko "kematian bahasa" di masa depan justru memicu kita untuk lebih mencintai dan menggunakan bahasa tersebut sekarang juga. Jika kita tahu sesuatu itu rentan, kita akan memperlakukannya dengan lebih hormat.

 

Kebajikan (Virtue) sebagai Standar Komunikasi

Masa depan bahasa Indonesia di tengah gempuran hoaks dan ujaran kebencian adalah permasalahan serius. Bagi Stoik, tujuan tertinggi hidup adalah Arete (kebajikan/keunggulan). Dalam berbahasa, ini berarti menerapkan empat pilar Stoikisme:

1.       Kebijaksanaan (Wisdom): Berpikir sebelum berbicara atau mengunggah status. Apakah kata-kata ini benar?

2.       Keadilan (Justice): Menggunakan bahasa untuk membela kebenaran, bukan untuk menipu atau memfitnah.

3.       Keberanian (Courage): Berani menggunakan Bahasa Indonesia yang baik di lingkungan yang mungkin menganggapnya "kaku" atau "tidak keren".

4.       Kesederhanaan (Temperance): Menahan diri dari keinginan untuk berkomentar kasar di ruang digital.

 

Simpulan

Dunia masa depan mungkin akan dipenuhi oleh istilah-istilah teknis yang semakin menjauhkan kita dari akar budaya. Namun, Marcus Aurelius mengingatkan kita untuk tidak gentar "Jangan biarkan masa depan mengganggumu. Kamu akan menghadapinya dengan senjata alasan yang sama yang saat ini mempersenjataimu" (Manampiring, 2019). Permasalahan bahasa seperti rendahnya minat baca atau maraknya disinformasi adalah tantangan batin bagi akademisi bahasa. Seorang Stoik memandang masa depan bahasa Indonesia dengan optimisme rasional. Kita tidak berharap semua orang akan menjadi ahli bahasa, tetapi kita yakin bahwa selama kita memiliki akal budi, kita bisa menggunakan bahasa sebagai alat untuk mencapai harmoni.

Masa depan bahasa Indonesia tidak ditentukan oleh kebijakan pemerintah semata, melainkan oleh setiap kata yang kita pilih untuk diucapkan hari ini. Stoikisme mengajarkan bahwa kita tidak perlu cemas akan arah zaman yang tidak menentu. Masa depan adalah kumpulan dari momen "saat ini". Jika saat ini kita menggunakan bahasa Indonesia dengan penuh kesadaran, martabat, dan kebajikan, maka masa depan bahasa kita sedang berada di tangan yang tepat.

Hadapilah masa depan bahasa kita bukan dengan keluhan tentang bagaimana orang lain merusaknya, tetapi dengan komitmen tentang bagaimana kita sendiri merawatnya. Sebab, bagi seorang Stoik, kemurnian jiwa jauh lebih penting daripada kemurnian tata bahasa, namun jiwa yang baik akan selalu berusaha mengekspresikan diri dengan cara berbahasa yang paling terhormat.

 

 

Daftar Pustaka

Alwasilah, C. 2008. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Bakker, Anton dan Acamad Charriss Zubair. 2011. Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Kanius.

Creswell, Jhon W. 2013. Research design pendekatan kualitatif, kuantitatif dan mixed. Yogyakarta: Pustaka pelajar.

Chaer, A. 2015. Filsafat Bahasa. Jakarta: Rineka Cipta.

Epafras,  Leonard Chrysostomos. 2022.  (Stois[-k]isme) Filosofi hidup anti galau?. PDF.

Manampiring, Henry. 2019. Filosofi Teras. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.

Kodoati, Michael Carlos. 2023. Epikureanisme Dan Stoikisme: Etika Helenistik Untuk Seni Hidup Modern. Media: Jurnal Filsafat Dan Teologi, 4.1.

Syarifuddin, A., Fitri, H. U., & Mayasari, A. (2021). Konsep Stoisisme Untuk Mengatasi Emosi Negatif Menurut Henry Manampiring. Bulletin of Counseling and Psy. PDF.  

 


[1] Pendidik SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo.

[2]Henry Manampiring, Filosofi Teras, (Jakarta: Kompas, 2019), h. 2.

[3] Henry Manampiring, Filosofi Teras, (Jakarta: Kompas, 2019), h. 17

[4] Michael Carlos Kodoati, "Epikureanisme Dan Stoikisme: Etika Helenistik Untuk Seni Hidup Modern", Media: Jurnal Filsafat Dan Teologi, 4.1 (2023), h. 94.

 

Lampiran pdf:

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo