Detail literasi:
Ahad, 19 Oktober 2025.
Perjalanan hari itu belum usai. Setelah menikmati pesona alam di Nami Island, seluruh delegasi KLIC Indonesia 2025 melanjutkan perjalanan menuju Seoul. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan lokasi, tetapi juga perpindahan suasana—dari alam yang tenang menuju pusat sejarah dan budaya Korea Selatan.
Destinasi berikutnya adalah Gyeongbokgung Palace, istana terbesar dan paling megah di antara lima istana utama yang ada di Seoul. Istana ini dibangun pada tahun 1395 pada masa Dinasti Joseon dan memiliki makna “istana yang diberkati oleh langit.” Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Gyeongbokgung merupakan simbol kejayaan peradaban Korea—tempat raja memerintah, pusat kebudayaan berkembang, dan saksi berbagai peristiwa penting, termasuk lahirnya aksara Hangeul pada masa Raja Sejong.
Setibanya di area sekitar istana, kami tidak langsung masuk. Seluruh delegasi terlebih dahulu diarahkan menuju tempat persewaan hanbok, pakaian tradisional Korea yang menjadi identitas budaya negeri ini. Momen ini langsung disambut dengan antusias. Para peserta sibuk memilih warna, motif, dan desain hanbok yang paling sesuai dengan selera masing-masing.
Tawa dan kegembiraan pun pecah di sana. Tidak sedikit yang saling memberi saran, memadukan warna, hingga mencoba berbagai gaya. Dalam sekejap, kami berubah menjadi “warga kerajaan” versi modern, siap menjelajah istana dengan balutan budaya Korea yang autentik.
Dengan mengenakan Hanbok, kami berjalan bersama menuju gerbang istana. Menyebrangi zebra cross di pusat kota Seoul dengan rombongan sekitar 30 orang, kami tampak mencolok sekaligus membanggakan. Rasanya seperti sebuah parade kecil—perpaduan budaya Indonesia dan Korea dalam satu langkah yang harmonis.
Memasuki area Gyeongbokgung Palace, keindahan arsitektur langsung menyambut. Bangunan dengan atap melengkung khas, halaman luas berbatu, serta latar pegunungan di kejauhan menciptakan suasana yang megah sekaligus tenang. Kami diberi waktu sekitar satu jam untuk menjelajah dan mengabadikan momen.
Di sela-sela kegiatan tersebut, terjadi percakapan yang sangat berharga bersama para perwakilan dari Kementerian Pendidikan Indonesia.
Ibu Evy Margaretha, MPP, selaku Ketua Tim Kerja Sama Bilateral, menyampaikan bahwa program KLIC bukan sekadar pelatihan biasa. Program ini dirancang sebagai Training of Trainers, di mana para peserta diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu mendiseminasikan ilmu kepada guru lain.
Beliau menegaskan bahwa tidak semua guru Indonesia mendapatkan kesempatan ini. Oleh karena itu, para peserta memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh ke dalam proses pembelajaran di sekolah masing-masing. Harapannya, dampak dari program ini dapat meluas, tidak hanya di satu sekolah, tetapi juga dalam komunitas pendidikan yang lebih luas seperti MGMP.
Senada dengan itu, Ibu Sopha Julia, S.H., M.A., menyoroti keunikan KLIC 2025 yang melibatkan peserta dari berbagai daerah, termasuk luar Pulau Jawa. Hal ini menjadi langkah penting dalam pemerataan kualitas pendidikan, meskipun di sisi lain juga menghadirkan tantangan, terutama dalam distribusi bantuan dan fasilitas ke daerah-daerah yang lebih terpencil.
Tidak hanya dari pihak kementerian, kami juga mendapatkan perspektif menarik dari Kak Tiara, penerjemah Bahasa Korea–Indonesia yang telah mendampingi program KLIC sejak 2023. Ia mengungkapkan kebanggaannya melihat keberagaman karakter peserta tahun ini.
Menurutnya, hal tersebut sangat terlihat saat penampilan Tari Nusantara pada pembukaan KLIC di GIEI. Para peserta tampil percaya diri, memperkenalkan budaya Indonesia dengan penuh semangat, hingga mendapatkan apresiasi luar biasa dari masyarakat Korea. Momen itu menjadi bukti bahwa identitas budaya Indonesia mampu bersinar di panggung internasional.
Lebih jauh, ia berharap para guru Indonesia dapat mengambil nilai-nilai positif dari sistem pendidikan Korea, terutama dalam hal kedisiplinan, etos kerja, dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.
Percakapan demi percakapan itu berlangsung di tengah latar megah istana. Seolah menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu ruang.
Sementara itu, kami terus berjalan menyusuri setiap sudut istana. Bangunan-bangunan megah dengan gaya arsitektur tradisional Korea terasa seperti rumah besar kerajaan. Setiap sudut menawarkan sudut pandang yang indah untuk diabadikan. Tidak heran jika waktu satu jam terasa begitu singkat.
Rasa lelah hampir tidak terasa. Setiap langkah justru menghadirkan rasa kagum baru. Mengenakan hanbok di tengah istana bersejarah memberikan pengalaman yang sulit dilupakan—seolah kami benar-benar menjadi bagian dari cerita masa lalu Korea.
Menjelang sore, tepat pukul 16.30 waktu Korea, seluruh delegasi kembali berkumpul dan menuju bus. Perjalanan hari itu dilanjutkan menuju hotel di pusat kota Seoul.
Setibanya di Shilla Stay Mapo sekitar pukul 17.30, kami melakukan check-in dan bersiap beristirahat. Hari yang panjang akhirnya ditutup dengan rasa syukur dan kepuasan.
Satu hari, begitu banyak cerita.
Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.
Gamsahamnida.