Detail literasi:
Ahad, 19 Oktober 2025.
Pukul 07.00 waktu Korea Selatan menjadi penanda dimulainya hari yang cukup emosional. Pagi itu, seluruh delegasi KLIC Indonesia 2025 bersiap dengan koper masing-masing. Batas waktu packing bersamaan dengan sarapan pagi di Marinabay Sokcho Hotel. Ada rasa haru yang menyelimuti—Sokcho dan Provinsi Gangwon bukan sekadar tempat singgah, tetapi telah menjadi ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang membangun kebersamaan.
Namun perjalanan belum usai. Kami tidak pulang ke Indonesia. Kami justru akan melanjutkan perjalanan menuju ibu kota, Seoul, untuk rangkaian kegiatan berikutnya.
Pagi itu juga menjadi momen yang kembali menegaskan budaya disiplin masyarakat Korea. Pukul 08.00, tiga sosok yang sudah sangat akrab bagi kami—Mrs. So Hee Paek, Miss Nayoung Cho, dan Mr. Yongjin Baek—telah siap menunggu di lobi hotel. Padahal jadwal keberangkatan masih pukul 09.30. Datang lebih awal bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari etos kerja dan penghargaan terhadap waktu.
Selama menunggu, suasana hangat terasa. Canda ringan, obrolan santai, hingga momen penuh makna terjadi secara alami. Delegasi dari SMAMDA Sidoarjo pun sempat memberikan cendera mata kecil, disertai jargon khas: “SMAMDA DO THE BEST!” Sebuah ungkapan sederhana, namun penuh semangat dan identitas.
Tepat pukul 09.30, bus pun berangkat membawa kami meninggalkan Sokcho. Perjalanan menuju Nami Island memakan waktu sekitar dua jam. Sepanjang perjalanan, pemandangan musim gugur mengiringi langkah kami—daun-daun yang mulai menguning, gerimis tipis, dan udara dingin yang terasa menenangkan.
Tak terasa, kami tiba di kawasan Chuncheon, sebuah kota yang menjadi gerbang menuju Pulau Nami. Pulau ini terletak di tengah Sungai Bukhan dan terkenal dengan bentuknya yang menyerupai bulan sabit. Untuk mencapainya, kami harus menyeberang menggunakan kapal feri.
Perjalanan sekitar 20 menit di atas feri menjadi salah satu momen yang paling berkesan. Angin dingin berhembus lembut, air sungai beriak tenang, dan langit mulai cerah setelah sebelumnya diselimuti gerimis.
Di atas dek kapal, kesempatan berharga pun hadir: wawancara santai dengan perwakilan dari Kementerian Pendidikan.
Bapak Anang Rahardananto, S.T., M.M. menyampaikan bahwa KLIC 2025 memiliki keunikan tersendiri. Pesertanya berasal dari berbagai jenjang usia—dari guru junior hingga senior—serta latar belakang keilmuan yang beragam, mulai dari sosial, sains, hingga seni budaya. Keragaman inilah yang menjadi kekuatan, karena setiap peserta saling melengkapi dalam perspektif dan pengalaman.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa program KLIC tidak berhenti di Korea. Akan ada tindak lanjut berupa webinar dan diseminasi ilmu, baik melalui MGMP maupun komunitas pembelajaran lainnya. Harapannya, seluruh peserta dapat menjadi agen perubahan di daerah masing-masing.
Hal senada disampaikan oleh Bapak Irfana Steviano, M.Pd., yang menyoroti perluasan jangkauan peserta KLIC 2025. Tahun ini, delegasi berasal dari 11 provinsi, termasuk dari luar Pulau Jawa. Ini menjadi langkah penting dalam pemerataan kualitas pendidikan.
Beliau berharap para peserta mampu menyebarluaskan hasil pembelajaran KLIC, khususnya dalam bidang koding, AI, literasi, dan numerasi. Lebih dari itu, para delegasi diharapkan menjadi motor penggerak inovasi pendidikan di wilayah masing-masing.
Diskusi di atas feri terasa ringan namun sarat makna. Angin dingin yang menyapa, suhu sekitar 16°C, dan pemandangan Sungai Bukhan yang indah menjadi latar sempurna bagi percakapan tersebut.
Kehangatan juga terasa dari sosok Mrs. So Hee Paek yang dengan ramah menyapa, “Hello Indonesia, Hello SMAMDA,” sambil melambaikan tangan ke arah kamera. Sapaan sederhana, namun meninggalkan kesan yang mendalam.
Sesampainya di Pulau Nami, keindahan alam langsung menyambut kami. Deretan pohon dengan daun yang menguning membentuk lorong alami yang memukau. Nuansa musim gugur terasa begitu kuat—tenang, hangat, sekaligus romantis.
Pulau ini memang terkenal sebagai lokasi syuting drama legendaris Winter Sonata, yang membuatnya semakin populer di kalangan wisatawan internasional. Jalur pohon metasequoia yang ikonik menjadi salah satu spot favorit untuk berfoto sekaligus menikmati suasana.
Berjalan menyusuri pulau kecil berbentuk bulan sabit ini memberikan pengalaman yang berbeda. Kami merasakan langsung perbedaan antara alam tropis Indonesia dan alam subtropis Korea. Sebuah pengalaman yang kelak dapat kami bagikan kepada para siswa sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual.
Menjelang siang, kami kembali menyeberang dan menikmati makan siang di restoran tepi Sungai Bukhan. Suasana hangat kembali tercipta dalam kebersamaan.
Salah satu momen yang tak terlupakan terjadi ketika Mrs. So Hee Paek memuji bros kupu-kupu yang saya kenakan, “Wow, so beautiful.” Spontan, saya melepas bros tersebut dan menyematkannya di pakaian beliau. Sebuah gestur sederhana, namun penuh makna—tentang berbagi, tentang kedekatan, dan tentang persahabatan lintas budaya.
Perjalanan hari itu pun berlanjut. Kami kembali menuju bus untuk melanjutkan destinasi berikutnya.
Dengan hati yang penuh, kami melangkah maju.
Sampai jumpa di cerita selanjutnya.