Detail literasi:
Sabtu, 18 Oktober 2025.
Langkah kami berlanjut setelah menutup rangkaian kegiatan di Gangwon International Education Institute dengan penuh kehangatan. Kotak bekal gimbap masih kami genggam, namun rasa penasaran membawa energi baru. Tujuan berikutnya adalah sebuah ruang di mana teknologi, seni, dan imajinasi bertemu: ARTE Museum Gangneung.
Begitu memasuki area museum, suasana langsung berubah. Dunia luar yang basah oleh rintik hujan seakan tertinggal di balik pintu. Di dalam, kami disambut oleh ruang gelap yang perlahan dipenuhi cahaya—bukan cahaya biasa, tetapi cahaya yang hidup, bergerak, dan bercerita.
ARTE Museum dikenal sebagai salah satu museum seni media imersif terbesar di Korea Selatan, yang dikembangkan oleh d'strict. Konsepnya sederhana namun kuat: menghadirkan keindahan alam dan budaya melalui teknologi digital yang mampu menyentuh emosi pengunjung.
Di setiap sudut ruangan, kami tidak sekadar melihat karya seni—kami masuk ke dalamnya.
Pada satu ruang, kami berdiri di tengah hamparan ombak yang bergerak dinamis, seolah-olah lautan benar-benar hidup di sekeliling kami. Suara debur air berpadu dengan cahaya biru yang menari di dinding dan lantai, menciptakan ilusi yang begitu nyata. Di ruang lain, bunga-bunga bermekaran secara digital, tumbuh dan menghilang mengikuti langkah pengunjung. Setiap gerakan kami seolah menjadi bagian dari karya itu sendiri.
Pameran di ARTE Museum tidak memiliki jalur kaku. Kami bebas menjelajah, berhenti, dan menikmati setiap instalasi sesuai ritme masing-masing. Ada yang terpaku cukup lama di satu ruangan, ada pula yang berkeliling dengan penuh rasa ingin tahu. Semua terasa personal.
Kami pun mulai menyadari, inilah bentuk lain dari pembelajaran.
Jika sebelumnya kami belajar AI di ruang kelas, kini kami melihat bagaimana teknologi yang sama digunakan untuk membangun pengalaman estetika yang mendalam. Seni tidak lagi statis. Ia bergerak, berinteraksi, dan melibatkan manusia sebagai bagian dari cerita.
Dalam benak kami, muncul perbandingan dengan pengalaman serupa di Indonesia, seperti di Rumah Atsiri, Tawangmangu, Jawa Tengah. Meski skalanya berbeda, keduanya menunjukkan satu hal yang sama: teknologi mampu menghidupkan pengalaman, menjadikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.
Setelah berkeliling cukup lama, rasa lelah mulai terasa. Namun kelelahan itu segera terbayar ketika panitia dari GIEI mengajak kami menuju ARTE Cafe, sebuah ruang santai yang tetap mengusung konsep teknologi imersif.
Di sinilah pengalaman kembali berlanjut, namun dalam bentuk yang berbeda.
Kami duduk di meja yang tampak sederhana, tetapi seketika berubah ketika pesanan datang. Sorotan cahaya digital muncul di atas meja, menampilkan visual yang bisa disesuaikan dengan pilihan pengunjung. Melalui pemindaian barcode pada menu menggunakan ponsel, kami dapat mengatur tema visual yang ingin ditampilkan.
Teknologi benar-benar menyatu dengan pengalaman menikmati minuman.
Segelas milk tea tersaji dengan tampilan yang menarik, ditemani efek visual yang bergerak lembut di permukaan meja. Rasanya tidak hanya dinikmati oleh lidah, tetapi juga oleh mata dan suasana. Hal sederhana seperti minum teh pun terasa menjadi pengalaman yang berkesan.
Kami saling tersenyum, menyadari bahwa teknologi tidak selalu harus rumit. Kadang, ia hadir dalam hal-hal kecil yang memperkaya pengalaman manusia.
Di luar, hujan masih turun. Namun di dalam ARTE Museum, waktu terasa berjalan lebih lambat. Kami larut dalam keindahan, dalam cahaya, dalam suara, dan dalam kebersamaan.
Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 16.00 waktu Korea Selatan. Saatnya kembali.
Kami melangkah keluar museum dengan perasaan yang berbeda. Bukan hanya karena telah melihat sesuatu yang indah, tetapi karena kami memahami bahwa teknologi memiliki banyak wajah—sebagai alat belajar, sebagai media seni, dan sebagai jembatan pengalaman.
Perjalanan hari itu ditutup dengan kembali ke Marinabay Sokcho Hotel untuk beristirahat. Energi perlu dijaga, karena masih ada cerita yang menanti di hari berikutnya.
Di bawah langit Gangwon yang masih basah oleh hujan, kami mengucap pelan dalam hati:
Gamsahamnida.
Terima kasih, untuk pengalaman yang tak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan.