Detail Berita:
SMAMDA.SCH.ID-Di sudut Laboratorium Biologi SMA Muhammadiyah 2 (SMAMDA) Sidoarjo, lima siswi kelas XI-4 pernah memulai sesuatu yang sederhana: mengeringkan daun sukun. Siapa sangka, dari proses yang tampak biasa itu, lahir sebuah penelitian yang mengantarkan mereka meraih *Medali Silver* di ajang National Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair 2026 (NISEEF) yang digelar di Semarang pada 10–12 Februari 2026.
Ajang yang diselenggarakan oleh Indonesia Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro ini mempertemukan para pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia untuk beradu gagasan dalam bidang riset dan inovasi. Enam bidang lomba menjadi panggung lahirnya ide-ide kreatif: Ilmu Sosial, Sains Inovatif, Lingkungan, Kewirausahaan, Mekanika, dan Aplikasi Industri.
Namun bagi tim KIR Biologi SMAMDA, perjalanan menuju Semarang dimulai dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: kutu kucing (Ctenocephalides felis) pada hewan peliharaan di rumah.
Ide yang Lahir dari Kepekaan
Adiba Mufliha, ketua tim sekaligus siswi kelas XI-4, mengisahkan bahwa kegelisahan melihat hewan peliharaan yang terserang kutu memunculkan pertanyaan sederhana: adakah solusi alami yang lebih ramah lingkungan?
Di sisi lain, daun sukun banyak ditemukan di sekitar rumah, tetapi belum banyak dimanfaatkan secara maksimal. Dari situlah muncul gagasan untuk menguji efektivitas ekstrak daun sukun sebagai pengendali ektoparasit kutu kucing.
“Kami ingin membuktikan bahwa bahan alami di sekitar kita bisa menjadi solusi yang efektif dan lebih ramah lingkungan,” ujar Adiba.
Bersama Almira Safa Qotrunnada, Calysta Aira Nugraha, Dhafina Hurien Lazuardi, dan Rafah Abidah Karim, Adiba memulai penelitian yang berlangsung selama tiga bulan.
Proses Ilmiah yang Tak Sederhana
Penelitian mereka bukan sekadar eksperimen singkat. Daun sukun dikumpulkan, dikeringkan, lalu dicacah hingga menjadi partikel kecil. Proses maserasi menggunakan alkohol 95 persen selama dua kali 24 jam dilakukan untuk mengekstraksi senyawa aktif tanpa merusaknya melalui pemanasan.
Setelah disaring dan dievaporasi hingga diperoleh ekstrak murni, barulah dilakukan uji efektivitas terhadap kutu kucing. Setiap tahap dijalani dengan ketelitian dan kesabaran. Mereka mencatat data, mengamati perubahan, dan berdiskusi untuk memastikan hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Calysta mengaku pengalaman ini membuka wawasan baru bagi mereka.
“Kami belajar menulis karya tulis ilmiah dengan benar, melakukan metode maserasi yang belum kami dapatkan di kelas, dan mempresentasikan hasil penelitian di hadapan dosen Universitas Diponegoro yang menjadi juri. Itu pengalaman yang sangat berharga,” tuturnya.
### Tahfidz dan Sains Berjalan Beriringan
Menariknya, kelima siswi ini berasal dari kelas program unggulan Tahfidz SMAMDA. Prestasi ini menjadi bukti bahwa penguatan nilai-nilai keislaman dapat berjalan seiring dengan penguasaan sains dan riset modern.
Medali Silver yang mereka raih bukan hanya simbol kemenangan, tetapi juga pengakuan bahwa kerja keras, ketekunan, dan keberanian mencoba hal baru dapat membawa hasil yang membanggakan.
Lebih dari itu, keberhasilan ini menjadi pesan kuat bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar dan rumit. Ia bisa berawal dari kepekaan melihat masalah kecil di sekitar kita—dan keberanian untuk mencari jawabannya melalui proses ilmiah.
Dari daun sukun yang sederhana, lima siswi SMAMDA membuktikan bahwa langkah kecil di laboratorium sekolah dapat mengantarkan mereka ke panggung nasional. Dan mungkin, menginspirasi lahirnya peneliti-peneliti muda berikutnya.
Editor : Moh. Ernam