MEMAKNAI TENTANG KECERDASAN

Ifta Zuroidah, S.E., M.M. | 16 Januari 2022

Detail literasi:

MEMAKNAI TENTANG  KECERDASAN

Ifta Zuroidah,SE,MM

 iftazuroidahsmamda@gmail.com

         Membicarakan inteligensi, hal ini tidak akan mengacu pada kemampuan untuk memdapatkan nilai yang bagus dalam test tertentu, bisa juga berprestasi disekolah atau diluar sekolah ; semua ini hanyalah indicator untuk sesuatu hal yang bisa penting atau tidak. Inteligensi yang dimaksudkan disini adalah suatu gaya hidup, cara berperilaku dalam situasi yang baru, asing dan membingungkan. Tes intelegensi yang dilakukan tidak akan focus pada seberapa besar pengetahuan cara bertindak, melainkan cara kita berperilaku ketika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan.

       Orang cerdas, orang takut, orang gagal bahkan tua atau muda, ketika menghadapi suatu persoalan atau situasi baru pastinya akan membuka diri terhadap situasi atau persoalan yang dihadapi, mencoba memahami sesuai pikiran dan mempersepsikan segala sesuatu menurut kesanggupannya. Ketika dia memikirkan persoalannya, maka akan memikirkan dirinya sendiri tentang apa yang akan mungkin terjadi pada dirinya. Selalu terfokuskan pada persoalan dan situasi baru itu dengan penuh keberanian, imajinatif,pandai, percaya diri atau paling tidak pernah mempunyai harapan. Ketika mengalami kegagalan, tidak akan merasa malu atau takut akan kesalahan kesalahannya melainkan akan mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi.

       Mengamati kemudian membandingkan bagaimana anak anak yang cerdas, tidak cerdas, atau kurang cerdas merupakan masing masing individu yang sangat berbeda. Anak yang cerdas selalu ingin tahu tentang realita dan hidup, sigap untuk berhubungan dengan yang lain, merengkuhnya serta menyatukan diri dengan yang lainnya. Tidak ada tembok pemisah atau rintangan antara dirinya dan lingkungannya. Lalu anak yang bodoh sangat kurang ingin tahu, jauh kurang tertarik dengan apa yang sedang terjadi dan apa yang nyata, serta cenderung hidup dalam dunia fantasi. Anak yang cerdas akan senang melakukan pecobaan, mencoba hal hal baru bahkan menciptakan inovasi baru, bahkan hidup sesuai rumus aka nada yang lebih dari satu cara. Anak yang bodoh biasanya akan takut mencoba cara apapun, bahkan membutuhkan usaha yang keras untuk mampu meyakinkan dirinya untuk mau mencoba bahkan hanya sekali saja, bila percobaan dilakukan dan itu gagal sudah tanpa ada percobaan lagi dalam arti selesai.

     Apa yang terjadi dengan kapasitas belajar dan perkembangan intelektual?, orang orang dewasa, merusak banyak kapsitas dan intelektual dan kreativitas anak-anak dengan banyak hal yang dilakukan terhadap mereka, atau hal yang ingin kita lakukan untuk mereka. Kita merusak kapasitas intelektual dan kreativitas anak-anak dengan membuat mereka takut, takut karena tidak bisa melakukan apa yang diinginkan, takut melakukan kesalahan, takut gagal, takut salah. Dengan demikian kita sudah membuat anak takut untuk berspekulasi, takut melakukan percobaan, serta takut untuk mencoba hal hal sulit dan asing. Kadang, kita menyukai anak yang dating pada kita dengan perasaan takut, penurut, sopan kendati kita juga tidak begitu menyukai anak dengan rasa seperti itu yang mana akan bisa mengancam gambaran diri kita sebagai orang yang baikdan pantas disayang, dank arena itu tidak perlu ditakuti. Kita menganggap ideal tipe anak “baik” yang cukup takut terhadap kita sehingga melakukan apa saja yang kita inginkan, tanpa membuat kita merasa bahwa takut terhadap kitalah yang membuat mereka melakukan.

     Dalam banyak cara kita meruntuhkan keyakinan anak-anak bahwa berbagai hal masuk akal, atau harapan mereka bahwa semua bisa masuk akal, atau harapan mereka bisa terbukti dan masuk akal. Kadang kita akan melakukan sesuatu dengan hal yang tidak bisa dipahami oleh anak dengan pokok persoalan yang berubah-ubah dan kadang tidak ada hubungannya akan tetapi kita mencoba untuk mengintegrasikan dengan peralatan yang artifisial dan tidak relevan. Bahkan kita secara terus menerus melakukan hal yang selalu membingungkan anak dengan menghadapkan mereka  dengan hal hal yang tidak masuk akal, ambigu, serta kontradiktif. Bahkan tanpa kita sadari juga kita sudah melakukan tanpa tahu apa yang sudah kita lakukan, setelah mendengar omong kosong yang kita berikan kepada anak-anak yang seakan akan itu sudah bermakna. Kadang kala juga kita seakan membuat anak anak agar bertindak bodoh, bukan hanya menakut nakuti  serta membingungkan mereka tetapi juga dengan membuat mereka bosan dengan memenuhi hari hari mereka dengan tugas tugas menjemukan dan repetitive yang tidak menarik perhatian atau membangkitkan intelegensi mereka. Hari kita akan merasakan bahagia ketika menyaksikan anak anak yang begitu rajin mengerjakan berjam jam tugas-tugas yang dipaksakan, dan kita akan lebih puas dan bahagia lagi jika seseorang mengatakan kepada kita bahwa anak-anak sangat tidak suka terhadap apa yang sedang mereka kerjakan.

       Dibalik banyak hal yang kita lakukan terletak beberapa gagasan yang bisa diungkapkan yaitu : (1) dari begitu banyaknya pengetahuan manusia, ada bagian dan potongan tertentu yang dapat disebut sebagai bagian esensial yang perlu diketahui setiap orang. (2) seseorang dapat dianggap berpendidikan dan memenuhi syarat hidup secara intelegen dalam dunia modern dewasa ini serta menjadi anggota masyarakat yang berguna bergantung seberapa banyak dia menguasai pengetahuan esensial seperti ini. (3) karenanya tugas sekolahlah memasukkan sebanyak mungkin pengetahuan esensial ini kedalam pemikiran anak-anak. Maka kita akan selalu memasukkan fakta-fakta, rumus-rumus, dan gagasan-gagasan tertentu kedalam kepala anak anak di sekolah terlepas dari apakah itu menarik bagi mereka atau tidak, dan kalaupun ada banyak hal lain yang lebih menarik untuk bisa dipelajari.

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2021 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo