Menyulam Mimpi ke Negeri Ginseng (Seri ke-9) Penerapan Micro:Bit dan Hiking dengan Pemandangan Tumpukan Batu di Gunung Seorak

Ernawati Kristinningrum, S.T., M.Pd. | 04 Januari 2026

Detail literasi:

Menyulam Mimpi ke Negeri Ginseng (Seri ke-9)
Penerapan Micro:Bit dan Hiking dengan Pemandangan Tumpukan Batu di Gunung Seorak

Jumat, 17 Oktober 2025.

Pagi itu kami telah menuntaskan satu bab penting: belajar Airo AI di Seorak High School. Teknologi, data, dan kecerdasan buatan masih terasa hangat dalam pikiran. Usai menunaikan salat Jumat secara mandiri, perjalanan KLIC Indonesia 2025 berlanjut—kali ini bukan menuju ruang kelas, melainkan menuju alam terbuka.

Tujuan kami adalah Seoraksan, gunung ikonik di Provinsi Gangwon yang termasuk jajaran tertinggi dalam Pegunungan Taebaek. Gunung ini berada di kawasan Seoraksan National Park, tidak jauh dari Kota Sokcho. Sejak memasuki gerbang taman nasional, suasana langsung berubah. Udara terasa lebih jernih, lebih dingin, dan lebih hidup. Hamparan hutan yang mulai berubah warna menyambut kami dengan nuansa musim gugur yang dramatis.

Namun, ada satu pemandangan yang terus menarik perhatian sepanjang jalur pendakian: tumpukan-tumpukan batu yang tersusun rapi. Tidak hanya satu atau dua, melainkan puluhan, bahkan ratusan, berdiri dalam diam di berbagai sudut jalur. Dalam tradisi Korea, tumpukan batu ini bukan sekadar susunan acak. Ia adalah simbol doa dan harapan. Secara turun-temurun, masyarakat menumpuk batu sebagai bentuk permohonan kepada Dewa Gunung—meminta keselamatan, kesehatan, dan keberkahan. Di era modern, maknanya meluas: simbol refleksi, tekad, dan impian.

Kami sempat saling berpandangan dan bertanya dalam hati: mengapa agenda KLIC harus mendaki gunung? Bukankah fokus kami adalah teknologi pendidikan?

Jawabannya baru terasa ketika Micro:Bit dikeluarkan dari tas masing-masing.

Perangkat kecil hasil on-site training di Jakarta itu kini berpindah dari ruang pelatihan ke medan nyata. Micro:Bit digunakan untuk menghitung jumlah langkah selama pendakian—dari kaki gunung hingga titik pandang tertinggi. Sebuah eksperimen sederhana, tetapi sarat makna. Teknologi tidak berdiri sendiri; ia hidup ketika diintegrasikan dengan pengalaman.

Pendakian dimulai melalui jalur menuju Ulsanbawi, salah satu titik paling terkenal di Seoraksan. Tangga-tangga besi yang menanjak tajam menjadi ujian pertama. Setiap langkah terasa berat, terutama ketika sudut kemiringan semakin curam. Nafas mulai teratur dalam ritme mendaki: tarik, hembus, langkah. Tarik, hembus, langkah.

Beberapa ratus meter sekali, kami berhenti. Bukan hanya untuk beristirahat, tetapi untuk menikmati panorama yang perlahan terbuka. Lembah hijau membentang, tebing granit menjulang kokoh, dan kabut tipis bergerak perlahan di antara celah-celah batu. Pemandangan itu terasa seperti lukisan hidup.

Micro:Bit terus merekam langkah. Angka-angka bertambah tanpa terasa. Setiap digit menjadi simbol usaha. Setiap hitungan menjadi saksi ketekunan.

Di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan pendaki lokal. Dengan wajah cerah dan perlengkapan lengkap, mereka menyapa, “Annyeonghaseyo,” sambil sedikit membungkuk. Budaya mendaki di Korea terasa sangat tertib. Jalur bersih, sampah hampir tidak terlihat, dan setiap orang berjalan dengan kesadaran menjaga alam. Interaksi sederhana itu membuat perjalanan terasa hangat, meski kami berasal dari negara berbeda.

Semakin tinggi, tangga semakin menantang. Otot kaki mulai terasa, keringat bercampur udara dingin. Namun semangat justru menguat. Ada sesuatu yang berbeda ketika kita tahu setiap langkah memiliki tujuan, bukan hanya mencapai puncak, tetapi juga memahami prosesnya.

Akhirnya, titik pandang tertinggi tercapai.

Kami berdiri terpaku. Dari ketinggian, pegunungan berlapis-lapis terlihat hingga ke cakrawala. Di kejauhan, garis Laut Timur membentang samar. Angin berhembus cukup kencang, membawa rasa lega yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

 

Saat itu, Micro:Bit menunjukkan angka akhir langkah pendakian kami.

Angka tersebut bukan sekadar data. Ia adalah cerita. Tentang usaha, tentang konsistensi, tentang bagaimana langkah kecil—jika dilakukan terus-menerus—mampu membawa kita ke tempat yang lebih tinggi.

Pendakian di Seoraksan menjadi metafora perjalanan pendidikan. Setiap tanjakan melatih kesabaran. Setiap jeda mengajarkan refleksi. Setiap puncak memberi perspektif baru. Teknologi seperti Micro:Bit hanyalah alat; yang terpenting adalah bagaimana manusia menggunakannya untuk memberi makna pada perjalanan.

Menjelang sore, kami menuruni jalur dengan perasaan campur aduk—lelah, tetapi bahagia. Tubuh mungkin terasa berat, namun hati terasa ringan. Kami kembali menuju Marinabay Sokcho Hotel dengan membawa lebih dari sekadar foto dan angka langkah.

Kami membawa pengalaman.

Sampai jumpa di kegiatan esok hari—karena perjalanan menyulam mimpi ini masih panjang.

 

Editor: Moh. Ernam

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo