Menyulam Mimpi ke Negeri Ginseng (Seri ke-10) Alunan “Gemu Fa Mi Re” Mengiringi Closing Ceremony dan Demo Memasak Gimbap

Ernawati Kristinningrum, S.T., M.Pd. | 04 Januari 2026

Detail literasi:

Sabtu, 18 Oktober 2025.

Pagi itu terasa sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya. Udara musim gugur di Gangwon tetap sejuk dan segar, tetapi suasana hati kami membawa nuansa yang lebih dalam. Hari itu adalah hari terakhir rangkaian kegiatan KLIC Indonesia 2025 di Provinsi Gangwon. Selama beberapa hari berada di wilayah ini, kami telah belajar banyak hal—tentang teknologi pendidikan, budaya belajar di Korea, hingga pengalaman berinteraksi langsung dengan para pendidik dan siswa. Maka pagi itu menjadi momen penting untuk menutup perjalanan dengan kenangan yang indah.

Bertempat di aula Gangwon International Education Institute (GIEI), para delegasi KLIC Indonesia 2025 berkumpul bersama panitia dan fasilitator dari Korea untuk mengikuti closing ceremony. Acara ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan kami di Gangwon sekaligus bentuk apresiasi atas kerja sama yang terjalin selama program berlangsung.

Awalnya suasana berlangsung cukup formal. Sambutan demi sambutan disampaikan dengan penuh kehangatan. Para perwakilan GIEI menyampaikan rasa senang karena dapat berbagi pengalaman pendidikan dengan delegasi dari Indonesia. Sebaliknya, delegasi KLIC Indonesia juga mengungkapkan rasa terima kasih atas kesempatan belajar yang begitu berharga.

Namun suasana berubah menjadi sangat meriah ketika tiba-tiba terdengar alunan lagu Gemu Fa Mi Re dari pengeras suara aula.

Lagu daerah yang berasal dari Nusa Tenggara Timur itu langsung memancing senyum para delegasi Indonesia. Tanpa perlu banyak aba-aba, beberapa peserta mulai berdiri dan mengajak yang lain untuk menari bersama mengikuti gerakan khas lagu tersebut. Gerakan yang sederhana namun penuh energi itu segera menyebar ke seluruh ruangan.

Yang membuat momen ini semakin istimewa adalah ketika panitia dari GIEI juga ikut bergabung. Mereka mencoba menirukan gerakan tarian dengan penuh antusias. Tawa pecah di berbagai sudut ruangan ketika beberapa gerakan dilakukan dengan cara yang unik dan lucu.

Dalam sekejap, aula yang sebelumnya terasa formal berubah menjadi ruang penuh kegembiraan. Delegasi Indonesia dan panitia Korea menari bersama tanpa memikirkan perbedaan bahasa atau budaya. Musik menjadi bahasa universal yang menyatukan semuanya.

Alunan “Gemu Fa Mi Re” di sebuah lembaga pendidikan di Korea Selatan menjadi simbol kecil persahabatan antarbangsa. Lagu dari Indonesia bergema di negeri orang, dan semua orang menikmatinya dengan hati terbuka. Kebersamaan yang tercipta dari momen sederhana itu terasa sangat hangat dan tulus.

Setelah sesi foto bersama dan salam perpisahan, kegiatan belum selesai. Kami kemudian diajak menuju ruang dapur praktik di GIEI untuk mengikuti agenda berikutnya: demo memasak makanan khas Korea, yaitu Gimbap.

Begitu memasuki dapur, suasana kembali berubah menjadi penuh semangat. Di atas meja telah tersusun berbagai bahan dengan rapi: nasi hangat, lembaran rumput laut kering (gim), telur dadar, wortel, timun, lobak kuning, serta beberapa pilihan isian seperti tuna. Para instruktur dari GIEI dengan ramah menjelaskan bahwa gimbap merupakan salah satu makanan yang sangat populer di Korea.

Makanan ini sering dibawa sebagai bekal untuk piknik, perjalanan, atau kegiatan luar ruangan seperti hiking. Selain praktis, gimbap juga mudah disiapkan dan memiliki rasa yang gurih serta menyegarkan.

Sekilas gimbap memang terlihat mirip dengan sushi. Namun para instruktur menjelaskan bahwa keduanya memiliki perbedaan mendasar. Nasi pada gimbap dibumbui dengan minyak wijen dan sedikit garam sehingga menghasilkan aroma yang khas dan gurih. Sementara itu, nasi sushi menggunakan cuka beras yang memberikan rasa asam segar.

Setelah penjelasan singkat, tibalah saat yang paling ditunggu: praktik langsung membuat gimbap.

Langkah pertama adalah meratakan nasi di atas lembaran rumput laut. Kemudian berbagai bahan isian disusun memanjang di bagian tengah—mulai dari telur, sayuran, hingga tuna. Setelah itu, lembaran rumput laut digulung perlahan menggunakan alas bambu hingga membentuk gulungan panjang yang padat.

Proses menggulung ternyata tidak semudah yang terlihat. Beberapa peserta harus mencoba beberapa kali agar gulungan nasi tidak terbuka. Ada pula yang tertawa ketika isiannya hampir “melarikan diri” dari dalam gulungan. Namun justru di situlah letak keseruannya.

Suasana dapur dipenuhi percakapan, canda, dan rasa penasaran mencoba teknik menggulung yang benar. Para instruktur dengan sabar membantu memperbaiki posisi gulungan hingga akhirnya semua peserta berhasil membuat gimbap mereka sendiri.

Dalam sesi praktik ini, kami membuat dua jenis gimbap: gimbap tuna dan gimbap sayuran. Setelah selesai digulung, gimbap dipotong menjadi beberapa bagian kecil seukuran sekali suap. Potongan-potongan tersebut menampilkan warna yang indah dari berbagai isian di dalamnya—kuning telur, oranye wortel, hijau sayuran, dan putih nasi yang kontras dengan rumput laut hitam di bagian luar.

Yang menarik, hasil gimbap buatan kami tidak langsung dimakan di tempat. Semua gulungan dikemas dengan rapi dalam kotak bekal untuk dibawa dalam perjalanan selanjutnya.

Tradisi membawa gimbap sebagai bekal memang sangat umum di Korea. Banyak keluarga menyiapkannya ketika hendak pergi piknik, melakukan perjalanan jauh, atau mendaki gunung. Praktis, lezat, dan mudah dinikmati di mana saja.

Hari itu kami merasakan bahwa makanan juga bisa menjadi jembatan budaya. Dari menari bersama hingga memasak bersama, setiap kegiatan menciptakan kedekatan yang tidak dapat dibangun hanya melalui pertemuan formal.

Menjelang siang, kegiatan di GIEI pun berakhir. Namun kenangan dari pagi itu masih terasa kuat—alunan “Gemu Fa Mi Re”, tawa di dapur, serta aroma gimbap yang baru saja dipotong.

Dengan membawa kotak bekal gimbap di tangan, kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya: Arte Museum.

Rangkaian kegiatan KLIC Indonesia 2025 di Gangwon memang telah ditutup, tetapi cerita yang kami bawa pulang baru saja dimulai.


Editor    : Moh. Ernam

Berita Lain Semua Berita

Literasi GTK Semua Literasi

Copyright © 2023 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo