Profil SMAMDA Organisasi dan Kepemimpinan


A. Organisasi SMAMDA Sidoarjo
SMAMDA Sidoarjo sebagai Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan berada di bawah naungan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sidoarjo. Dalam pelaksanaannya di bawah tanggung jawab kepala sekolah dengan dibantu oleh 5 (lima) wakil kepala sekolah (urusan kurikulum, urusan kesiswaan, urusan sarana prasarana, urusan ISMUBA, dan urusan humas personalia); 2 (dua) kepala bagian (tata usaha dan keuangan); 11 (sebelas) kepala unit (perpustakaan, kalab. fisika, kalab. kimia, kalab. biologi, kalab. komputer, kalab. multimedia, kalab.bahasa, kalab. Ismuba, kalab. IPS, kanit ekstra kurikuler, kanit usaha); di samping itu juga dibantu oleh penanggungjawab RSBI, wakil manajemen mutu, koordinator, wali kelas, guru, dan karyawan.

Secara organisatoris SMAMDA Sidoarjo ditata dalam struktur yang fungsional dan efektif dalam melaksanakan wewenang, tugas dan tanggung jawab dari bidang, bagian dan unit-unit yang ada. Struktur organisasi SMAMDA Sidoarjo selengkapnya sebagaimana tertera dalam lampiran 1.

B. Kepemimpinan SMAMDA Sidoarjo
Kepemimpinan SMAMDA Sidoarjo menggambarkan kepemimpinan bersama, bersifat kolektif kolegial, satu sama lain saling melengkapi dan menguatkan. Sebagai upaya untuk mewujudkan kesuksesan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kepemimpinan, maka di SMAMDA Sidoarjo mengembangkan kepemimpinan berparadigma TORSIE (Trust, Openness, Realization, Synergy, Interdependence, and Empowering).

Trust atau kepercayaan, menggambarkan suasana kehidupan yang saling percaya antar warga sekolah, dalam hubungan vertikal maupun horisontal. Di antara sesama pimpinan saling percaya, sesame guru dan karyawan saling percaya, sesama siswa juga saling percaya; pimpinan dipercaya dan mempercayai bawahannya, bawahan mempercayai dan dapat dipercaya oleh pimpinan, guru dipercaya dan mempercayai siswa, dan seterusnya. Openness atau terbuka, dalam batas-batas kewajaran dan menyangkut kepentingan bersama atau kepentingan institusi, keterbukaan ditumbuhkembangkan, implikasinya setiap warga SMAMDA Sidoarjo harus siap menerima dan memberikan saran/kritik. Realization atau perwujudan, pelaksanaan, apa yang sudah disepakati dalam pembicaraaan apalagi sudah menjadi rumusan untuk dilaksanakan, semua warga sekolah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk merealisaasikannya.

Sinergy atau kebersamaan, bahwa setiap orang yang terikat dan bekerja di SMAMDA harus mampu bekerja sama bukan sama-sama kerja, untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Interdependence atau ketergantungan, bahwa untuk bisa meraih sukses bersama, kita tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri atau bagian tertentu saja, kesuksesan diri kita juga bergantung pada orang lain, kesuksesan salah satu bagian juga bergantung pada bagian yang lainnya. Dan Empowering atau pemberdayaan, merupakan suatu usaha untuk melakukan pemberdayaan atas setiap warga atau bagian dari SMAMDA Sidoarjo. Jika masing-masing individu atau bagian betul-betul bisa diberdayakan maka akan lahir karya-karya baru yang kreatif dan inovatif yang menjadi kekuatan luar biasa bagi SMAMDA Sidoarjo, sehingga sangat bisa diandalkan untuk meraih kesuksesan nyata dan abadi.

Untuk membangun budaya TORSIE tidak cukup hanya dibicarakan dan diceramahkan, TORSIE itu bukan pengetahuan semata, ia bukan sesuatu yang diberikan atau diwariskan, ia bukan sesuatu yang sudah jadi, tetapi ia harus mempribadi pada setiap individu yang menjadi anggota /warga lembaga, ia harus lahir dari atas, tengah, dan bawah. Karena TORSIE itu harus mempribadi dan melembaga, maka untuk bisa mengarah ke sana masing-masing individu perlu difasilitasi dan dilatih untuk berproses secara bersama menemukan keseimbangan dan formulasi yang pas tentang TORSIE yang dimaksud.