Detail Literasi

  • Wigatiningsih, M.Pd.
  • 16 Maret 2021

PERAN IBU DI MASA PANDEMI COVID-19

Pandemi COVID-19 yang sedang melanda belahan dunia ini, tidak hanya kita pandang dari sisi negatif tapi perlu juga kita melihatnya dari sisi positif. Dua sisi itu tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita. Setiap kejadian atau peristiwa, pasti mengandung dua hal yaitu positif dan negatif, baik dan buruk, dan sebagainya.

Saat ini Indonesia sedang memasuki era Bonus Demografi. Menurut para ilmuan, di era ini jumlah penduduk usia produktif lebih banyak daripada penduduk usia tidak produktif. Usia tidak produktif yaitu usia di bawah 16 tahun dan di atas 65 tahun.

Ada peran yang sangat penting yang menentukan akan dibawa ke mana para usia produktif itu. Mereka akan menjadi sesuatu yang menguntungkan dan atau merugikan, terdapat banyak peranan. Selain pemerintah dan pihak yang lain. Ada satu peranan yang tidak kalah penting untuk menentukan usia produktif itu menjadi suatu keuntungan. Dia adalah peran seorang ibu.

Al ummu al madrasatul ula (ibu adalah sekolah utama bagi anaknya (syair Arab). Hampir semua Ibu, saat menulis di status WA, IG, dan media sosial, menyatakan dan membenarkan bahwa Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Kita tidak bisa pungkiri, memang ibulah yang kali pertama memberi pelajaran dasar pada setiap anaknya, mulai dari  belajar bicara, makan, minum, berdiri, berjalan, dan seterusnya.

Tetapi karena keterbatasan kemampuan dan kondisi, seiring berjalannya waktu, yang akhirnya ibu tidak lagi bisa menjadi madrasah yang seutuhnya bagi putra-putrinya. Semua ibu membutuhkan bantuan orang lain. Orang lain itu adalah guru yang memberi pendampingan dan pengajaran dalam bidang tertentu. Guru biasanya lazim berada di sekolah atau lembaga pendidikan formal.

Di era pandemic COVID 19 ini, kita dihadapkan pada situasi yang serba sulit. Anak-anak tidak lagi berada di sekolah setiap jam belajar sebagaimana biasa. Setahun berlalu, semua belajar, mengajar,  dan bekerja dari rumah. Praktis peran orang tua menjadi lebih banyak. Terutama para ibu. Biasanya para ibu bekerja sama dengan para guru dalam hal pengasuhan anak secara proporsional.

Dibutuhkan satu kesadaran dan kesabaran yang tinggi bagi para ibu. Situasi ini memang tidak inginkan namun ternyata  harus kita terima. Tidak ada yang salah jika banyak dari ibu, yang mengeluh dalam mengasuh anaknya yang biasanya jam-jam itu berada di sekolah, karena tidak semua ibu memiliki kemampuan yang sesuai dengan yang ada di sekolah. semua memiliki bidang dan keahlian masing-masing.

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa ibu berikan kepada anak sebagai pembelajaran hidup. Pelajaran  yang mungkin itu tidak diajarkan di sekolah, misalnya mencuci pakaian sendiri, mencuci piring; mengepel lantai rumah, belajar memasak, menghias rumah, dan sebagainya. Ini adalah pelajaran yang nyata dan pasti akan dialami dalam kehidupan sehari-hari kelak.

Bahkan ada hal yang lebih penting dari itu. Bahwa dalam situasi ini, ibu bisa memberi pelajaran yang berharga pada anak-anak tentang pentingnya bersyukur. Ibu bisa lebih punya waktu memantau anak-anak dalam hal ibadah wajib dan sunnahnya. Punya waktu lebih untuk bertemu dengan seluruh anggota keluarga dan saling bertukar pikiran.

Di sinilah peran ibu sebagai madrasah pertama, sebagai orang tua, sebagai pendamping anak-anaknya diuji. Tentu saja dengan tetap bekerja sama dengan guru-gurunya di sekolah melalui media sosial. Saling memahami kelebihan dan kekurangan untuk saling melengkapi. Semoga peran ibu dalam mendampingi anak-anaknya di rumah menjadi lebih berkualitas. Terjalin hubungan yang harmonis di antara keluarga.

Semoga peran para ibu di era pandemic COVID -19 ini, mampu memberi warna dan menambah kualitas sumber daya para generasi muda. Mereka lah kelak yang akan memimpin negeri ini pada saatnya. Di era Indonesia Emas kelak anak-anak kita akan menjadi generasi yang membanggakan.