Detail Literasi

  • Johan Andi Luhung
  • 17 Februari 2021

Perpustakaan Sekolah Di Tengah Arus Digital Natives

Oleh : Johan Andi Luhung

            Seiring dengan berkembangnya teknologi, informasi, dan komunikasi di kalangan masyarakat secara tidak langsung akan membentuk kepribadian yang cenderung praktis dan cepat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti halnya membaca buku, surat kabar, artikel, berita, dan lain sebagainya melalui smartphone, tablet,  atau media lainnya yang terhubung dengan internet.

            Sementara itu beberapa fasilitas yang diperuntukkan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi seperti halnya perpustakaan belum bisa memenuhi kebutuhan tersebut, terutama perpustakaan yang berada di ruang lingkup sekolah. Hal ini bisa dimaklumi mengingat perpustakaan sekolah cenderung memiliki biaya pengembangan yang bergantung pada anggaran belanja yang diberikan oleh sekolah.

            Namun dengan perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi yang semakin berkembang, memunculkan generasi Digital Natives yang lahir dimana teknologi sudah berada di lingkungannya. Sehingga saat ini dapat kita jumpai di lingkungan sekitar banyak anak sekolah sudah mahir mengoperasikan smartphone untuk memudahkan kegiatan sehari-hari mereka.

            Istilah Digital Natives diciptakan oleh seorang konsulat pendidikan bernama Marc Prensky pada tahun 2001 dalam artikelnya yang berjudul Digital Natives, Digital Immigrants. dalam artikel tersebut Marc membahas kesenjangan yang terjadi antara siswa yang lahir sebagai Digital Natives dalam dekade terakhir abad ke-20 dengan pendidik yang menggunakan metode lawas untuk mengajar siswanya. 

            Selain itu dalam artikel ini, Marc juga menganalisis karakter generasi Digital Natives dan Digital Immigrant yang cenderung berbeda, seperti halnya Digital Immigrant lebih menyukai membaca buku cetak di bandingkan dengan buku elektronik menggunakan komputer, sedangkan Digital Natives merupakan kebalikan dari karakter Digital Immigrants.

Peran Perpustakaan Sekolah dan Pustakawan

            Pengertian perpustakaan sekolah menurut Suherman dalam bukunya yang berjudul “Perpustakaan sebagai Jantung Sekolah” berfungsi untuk melayani para peserta didik dalam memenuhi kebutuhan informasi. Perpustakaan sekolah dibentuk supaya tujuan pendidikan dapat dicapai secara lebih efisien dan lebih efektif dengan tindakan yang dilakukan secara kolektif.

            Seperti halnya tiga pilar utama dalam pendidikan di sekolah modern yang menggambarkan pola hubungan antara Kepala Sekolah, Guru, dan Pustakawan Sekolah, (Natadjumena, 2006)

 

       
   

KEPALA SEKOLAH

 
 

Reading Ability

Reading Habit

Information Literacy

 

 

           

                                Visi dan Misi                                                              Infrastruktur

 

 

 

 

                                                               Literatur + Bahan Ajar

GURU

PUSTAKAWAN

                                                                              (Sumber Informasi)

 

            Dari tiga pilar diatas saling berkaitan dalam perkembangan perpustakaan sekolah, Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab perpustakaan turut andil dalam menyetujui terkait pengembangan perpustakaan yang meliputi koleksi, fasilitas, sarana, dan lainnya. Bahan ajar yang disediakan perpustakaan atas persetujuan kepala sekolah dapat dimaksimalkan oleh Guru lewat pembelajaran yang dilakukan setiap hari aktif, dan Pustakawan mengelola perpustakaan lewat penyediaan koleksi cetak dan koleksi digital, fasilitas pendukung, sarana pendukung, dan lainnya untuk menarik minat baca siswa di sekolah.

            Pentingnya minat baca untuk siswa merupakan salah satu tugas bagi Perpustakaan sebagai salah satu sumber informasi yang berada di lingkungan sekolah lewat penyediaan koleksi yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka, di tengah perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi Perpustakaan dapat mengembangkan pelayanan manual dan penyediaan buku cetak dengan mengembangkan Digital Library.