Detail Literasi

  • Naily Zahrotul Fitriyani
  • 07 Desember 2020

Mengajar Bahasa Jawa kepada Siswa Jepang

Mengajar Bahasa Jawa kepada Siswa Jepang

             Saya kali ini ingin berbagi cerita tentang pengalaman di negeri sakura. Walaupun sudah dua tahun kemarin, saya berharap dapat menjadi inspirasi bersama. Bersama Japan Foundation, saya mendapatkan pelajaran berharga.

24 Februari 2018, Minami Urawa

Selama 6 bulan, saya dan peserta lainnya (kami) mengikuti program pelatihan guru bahasa Jepang bagi guru asing di Jepang.   Peserta dari program ini datang dari berbagai negara, dengan latar budaya dan ciri khas yang berbeda. Kami harus tinggal dan melakukan kegiatan pembelajaran selama enam bulan kala itu. Karena seringnya  melakukan semua kegiatan bersama, semua terasa begitu dekat.

Pembelajaran yang kami terima berisikan materi metode dan trik mengajar bahasa Jepang, tata cara penggunaan media pembelajaran bahasa Jepang, pendalaman bahasa Jepang untuk meningkatkan level bahasa Jepang kami, tes dan ujian akhir, serta pembelajaran budaya Jepang indoor dan outdor beserta praktiknya atau disebut dengan Bunka Taiken. Perkuliahan kami dilaksanakan dari hari Senin hingga Jumat. Jika ada pembelajaran luar kelas maka akan dilaksanakan di hari Sabtu. Perkuliahan dimulai pukul 09.00 – 16.30 waktu Jepang.

Ketika weekend,  saya juga mengisi waktu luang dengan berbagai kegiatan di luar kuliah. Misalnya mengikuti kelas memasak, kajian islami di masjid terdekat, perkumpulan mahasiswa asing, menonton pertunjukkan budaya, mengikuti kontes pidato bagi orang asing dan mengajar secara suka rela.

Apa yang saya ajarkan? Bergantung pada apa yang mereka butuhkan. Pernah Desember lalu, saya mengajar bahasa Jepang kepada beberapa tenaga kerja asing dari Vietnam. Kegiatan belajar tersebut diadakan oleh perkumpulan lansia daerah Osaka. Sebenarnya ketika itu saya sedang mengambil libur untuk berkunjung ke rumah teman di Osaka. Kegiatan sukarela tersebut didukung oleh pemerintah setempat dengan bukti pemerintah menyediakan ruangan kelas di Balai Wali Kota. Hal yang menarik ketika mengajar bahasa Jepang kepada para pemuda Vietnam adalah bahasa ibu kami berbeda. Ketika saya mengajar, biasanya bahasa pengantar saya dan murid sama, yakni bahasa Indonesia. Namun kali ini  berbeda. Bahasa pengantar apa yang bisa saya gunakan untuk mengajar? Bahasa Inggris? Mereka juga tidak bisa. Bahasa Vietnam? Saya tidak bisa. Pada akhirnya, kami berkomunikasi lewat isyarat, dan mereka mampu menangkap pembelajaran dengan baik.

Ada pengalaman yang tak kalah hebatnya. Pengalaman mengajar kepada siswa Jepang secara langsung. Kebetulan saya diperkenankan rekan saya, orang Jepang untuk datang ke sekolah tempat ia mengajar. Dia seorang guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah SMA Swasta di sekitar tempat tinggal kami. Dia ingin memberikan motivasi kepada siswa-siswanya yang belum terbiasa dengan orang asing. Mengapa harus demikian?

Jepang termasuk negara yang disorot dunia hingga saat ini. Perkembangan teknologi, budaya, dan tempat wisata, membuat negara lain berlomba-lomba datang ke Jepang untuk belajar atau berlibur. Oleh karena itu, dunia pendidikan di Negara Jepang, membutuhkan keterampilan untuk menghadapi orang asing.  Keterampilan tersebut sangat diperlukan bagi anak muda Jepang saat ini. Penggunaan bahasa, gesture, dan bersikap ketika menghadapi orang asing, diajarkan secara implisit oleh sekolah- sekolah  di Jepang.

 Saya diminta untuk mengumpulkan 9 guru  asing termasuk saya, untuk hadir ke sekolahnya. Saya pun meminta bantuan kepada 5 teman saya dari Indonesia, seorang Laos, seorang Vietnam, dan seorang Srilangka. Sebelumnya, oleh pihak sekolah kami diminta menyiapkan perkenalan dalam bahasa negara masing-masing, budaya khas, peta negara, dan sistem pendidikan negara masing-masing.

            Bagaimana dengan nasib 6 orang Indonesia ini? Kami menggunakan bahasa yang sama, yakni bahasa Indonesia. Awalnya, saya pikir 6 orang Indonesia ini akan mengenalkan hal yang sama kepada siswa dan pasti tidak akan menarik. Namun sebenarnya, saya tak lupa bahwa Indonesia memiliki beraneka ragam suku bangsa. Kisah keanekaragaman Indonesia, itulah yang kami sampaikan kepada para siswa. Bagaimana Indonesia di mata suku Jawa, suku Sunda, suku Betawi, suku Minang, suku Toraja, dan suku Banjar. Itulah BHINEKA TUNGGAL IKA. Kami memang ber-6, tapi suku kami berbeda. 

Kami pun  mengenalkan bahasa suku kami masing-masing. Minang dengan bahasa Padang, Sunda dengan bahasa Sunda, teman Jakarta  mengenalkan bahasa Indonesia, saya dengan bahasa Jawa, Kalimantan dengan bahasa Banjar, dan Sulawesi Selatan dengan bahasa Toraja. Peta Indonesia  versi Jepang beserta pulau tempat tinggal kami, juga kami tunjukkan pada mereka. Ada juga yang membawa peta asli Indonesia yang sangat besar. Ada yang dengan tablet, dan ada yang dengan kertas berisi gambar. Kami sepakat menggunakan cara kami masing-masing.

Kami masuk kelas, ternyata kami akan bercengkrama dengan siswa kelas X. Di belakang ruangan kelas, sudah ada beberapa orang yang ternyata kepala sekolah, komite, dan beberapa guru sekolah tersebut.

Awal pertemuan, kami memperkenalkan diri satu persatu dalam bahasa Jepang. Menyadari mereka adalah orang penting, saya sempat  gugup saat itu. Ada banyak hal tak terduga kami lalui. Dari penampilan kami yang berbeda (berjilbab), siswa banyak yang kaget dengan jilbab yang saya dan beberapa teman Indonesia lain yang kami kenakan. Mereka memandang kami lekat-lekat dengan tatapan heran. Sayangnya  saat itu tak ada yang menanyakannya.

Setelah memperkenalkan diri, kami dipersilahkan masuk ke grup siswa yang telah ditentukan oleh teman saya yang sebagai guru bahasa Inggris di jam tersebut. Di sana saya kembali memperkenalkan diri dengan gugup. Ini kali pertama saya mengajar di depan murid SMA, setelah 6 bulan vakum. Apalagi bukan murid SMA yang saya tangani biasanya. Ya, murid yang bahasa negaranya saya jadikan lahan pekerjaan saya sehari-hari. Ternyata 4 siswa yang berhadapan dengan saya juga pemalu dan grogi. Muka mereka terlihat tegang dan serius ketika memperkenalkan diri. Saya mencoba mencairkan suasana dengan  mulai mengenalkan Indonesia kepada mereka. Karena ini kegiatan open class, maka guru dan petinggi sekolah yang datang berkeliling ke tiap kelompok dapat melihat proses pembelajaran siswa.

Hal tak terduga kedua, ketika saya melontarkan pertanyaan pertama tentang Indonesia, seperti “Apa yang kalian tahu tentang Indonesia?”, mereka menggeleng. Lalu saya bertanya kembali “Apakah kalian tahu tentang Bali?”, mereka serempak mengangguk. “Apa kalian tahu di mana Bali?”, mereka menunjukkan pulau Bali dengan benar. “Bali berada di Indonesia”. Salah satu guru yang melihat pembelajaran kelompok kami menyela, “Saya kira Bali itu sebuah negara,” ujar guru tersebut. “Tidak Bu! Bali itu bagian dari Indonesia,”  jelas saya. Selain itu,  saya juga menunjukkan pulau Jawa dan provinsi Jawa Timur.

Selanjutnya, saya  memberikan kertas berisi perkenalan dalam bahasa Jawa untuk mereka pelajari. Isi kertas tersebut adalah “Sugeng Enjing, nami kulo …, matur suwun” dan bahasa Jawa lain yang singkat dan mudah. Semula satu persatu membaca teks yang saya berikan. Ada yang berkata “Sugun unjin”. Saya pun mengajari dengan pelafalan yang benar. “Bukan ‘U’ tapi e,” ucap saya yang terasa sampai gigi  terlihat jelas. Setelah agak lama, siswa mencoba lepas tanpa melihat teks. “Sugeng enjing, nami kulo Rika, matur suwun,” sembari malu salah satu murid lirih mengucapkan dengan lancar. “Ah, itu bagus!” puji saya.

Mereka belajar dengan keras, karena di akhir sesi, perwakilan kelompok diminta mempresentasikan hal yang sudah mereka pelajari. Walau lidah mereka masih kaku dan cadel, namun ketertarikan mereka dengan bahasa Jawa sangat tinggi. Buktinya dengan terus meminta saya untuk mengecek pelafalan mereka, ketika mengucapkannya. Senyuman mereka yang lepas, ketika berbicara bahasa Jawa mencairkan suasana. Kelompok kami berhasil memperkenalkan diri dalam bahasa Jawa dengan baik. Teman saya selaku guru pelajaran hari itu pun bertepuk tangan.  Dia juga bisa berbahasa Jawa, karena pernah mengajar bahasa Jepang di Jawa Timur beberapa tahun lalu. Dia bertepuk tangan sambil tersenyum mengangguk melihat siswanya berbahasa Jawa, menunjukkan dia paham apa yang diucapkan muridnya.

Tak terasa pembelajaran telah berakhir. Guru dan petinggi sekolah pamit keluar kelas. Kami pun ditarik dari kelompok. Tak lupa saya mengucapkan pesan pada mereka. “Kalau kalian main ke Indonesia khususnya ke Jawa, pakailah bahasa Jawa yang sudah kalian pelajari. Pasti akan banyak orang yang menyapa dan membantu kalian. Begitulah ciri khas masyarakat Jawa. Orang Jawa saling bantu. Sampai ketemu lagi. Matur suwun.” Mereka tersenyum dan melambaikan tangan. Kami pun keluar dari kelas tersebut.

Cuaca hari itu sangat cerah, namun dingin. Teman Jepang saya mengantar kami hingga sampai gerbang sekolah. Dia sangat berterima kasih atas bantuan kami. Kami pun pulang dengan rasa lega, walau tidak mendapat sepeser “yen” pun. Kami senang bisa mengajarkan kekhasan negara kami masing-masing kepada pemuda pemudi Jepang. Dan kami bangga akan hal itu.

Mimpi Terwujud

Tak pernah berpikir dalam benak saya dapat mengajar siswa Jepang. Tujuan besar saya hanyalah ingin ke Jepang sejak SMA. Memang mimpi tidak bisa begitu saja terwujud dengan mudah. Dari SMA, lomba Bahasa Jepang dengan hadiah ke Jepang coba saya ikuti, namun belum menjadi jalan saya untuk pergi ke sana saat itu. Pada masa perkuliahan, banyak beasiswa ke Jepang ditawarkan, namun persaingan begitu ketat untuk mendapatkannya. Saya terus bermimpi, dan berharap, semoga bisa terwujud. Ketika bekerja pun saya pernah ingin berhenti untuk mengejar mimpi ini. Namun sekali lagi, saya menoleh ke belakang dan meruntut usaha serta kerja keras saya untuk bisa pergi ke Jepang.

Saya lelah, tapi saya harus berusaha sembari berdo’a. Hingga tibalah kesempatan itu. Saya mewakili provinsi Jawa Timur pergi menuju Jepang dengan 7 teman dari berbagai wilayah di Indonesia. Maka, kesempatan ketika di Jepang tidak akan saya sia-siakan. Semua hal saya coba. Membuat banyak pengalaman. Melawan ketakutan. Menghilangkan keraguan. “Jauh-jauh dari Indonesia, jangan sampai sia-sia!” Itulah cambuk bagi saya , ketika saya mulai lelah dengan rutinitas perkuliahan.

Jika saat kalian lelah bermimpi, tidak apa-apa untuk istirahat sejenak mengambil nafas. Namun jangan lupa untuk bangkit dan berlari lagi mengejar mimpi Anda sekalian. Saya bisa mewujudkan mimpi saya. Saya yakin Anda semua juga bisa mengejar mimpi masing-masing.  Selamat mengejar mimpi untuk mewujudkannya!