Petunjuk Login

1. Isikan username dengan benar

Username untuk guru dan karyawan adalah nomer urut karyawan, sedangkan untuk siswa dan alumni adalah dengan nis siswa

2. Isikan Password dengan benar

Password untuk guru, karyawan , siswa dan alumni untuk pertama kali login adalah tahun, bulan dan tanggal lahir contoh : 19880130

Untuk login selanjutnya, lakukan pengubahan password demi keamanan akun Anda

Terima kasih

Login Anggota

Coretan Siswa


Tumpas Kuda Troya dengan Loyalitas Berbahasa

Diposting pada : 2017-03-20 | 14:58:26
Oleh : Niswatul Hikmah Assaudiyah | Email : | Dibaca sebanyak : 104 kali

Tumpas Kuda Troya dengan Loyalitas Berbahasa

Oleh: Niswahikmah

 

            Sudah berpuluh-puluh tahun Indonesia dijajah. Selama 71 tahun “kemerdekaan”-nya, hanya sedikit waktu Indonesia bisa berdikari dan mandiri. Selebihnya, justru negara ini dijadikan kuda troya korporasi asing yang menancapkan kukunya dengan semena-mena. Sementara rakyatnya sibuk dicekoki faham-faham yang menjerumuskan, atau malah dibungkam dengan gepok uang sehingga hanya bisa diam gigit jari. Di depan mata telah terjadi pengeksploitasian besar-besaran sekaligus pencemaran, tak terkecuali di bidang sosial-budaya. Protes dan usaha memperbaiki yang hanya datang dari segelintir golongan tidak membuahkan hasil yang berarti.

            Beratus-ratus tahun yang lalu, Indonesia masih bodoh dan mudah dibohongi. Kekayaan dikeruk semau penjajah. Wilayah mulai dibagi-bagi untuk kepentingan punggawa-punggawa asing. Apa bedanya dengan proyek reklamasi yang mulai digaungkan oleh pemerintah saat ini? Banyak suara-suara vokal mulai melawan saat itu, sehingga mulai timbul perlawanan-perlawanan dari berbagai daerah terhadap revolver milik Belanda. Namun, suara-suara kecil itu dengan mudah ditumpas habis. Nyawa-nyawa pun bertumbangan.

            Persatuan Indonesia menjadi jawaban paling ampuh untuk menghentikan kekejaman penjajahan. Salah satu yang memelopori kesadaran rakyat Indonesia adalah kesamaan bahasa ibu pada diri masing-masing. Bahasa Indonesia termasuk penentu utama, striker yang menggiring Indonesia ke masa persatuan dan mewujudkan kemerdekaan secara sempurna. Oleh sebab itu, bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda, dan ditetapkan sebagai bahasa negara dalam UUD 1945.

            Bagaimana bisa bahasa Indonesia menjadi salah satu faktor penentu dan ditempatkan di area sekrusial itu? Tentu rakyat Indonesia tidak boleh lupa pada jasa Pramoedya Ananta Toer, Multatuli, Ki Hajar Dewantara, dan tokoh-tokoh kepenulisan lain yang karyanya dibakar dan dirinya dikungkung jeruji besi hanya karena perlawanan mereka melalui bahasa. Seluruh warga negara Indonesia tidak boleh lupa bahwa segala tatanan dasar negara Indonesia mulai dari Proklamasi sampai Undang-Undang disusun dengan bahasa yang cermat dan dipikirkan masak-masak setiap pilihan frasanya. Inilah satu esensi penting dari keberadaan bahasa Indonesia.

Sayangnya, kaum kapitalis dari blok Barat juga sudah mengetahui tombak kekuatan bangsa ini. Seruan-seruan untuk lebih mencintai bahasa asing terus dilakukan. Propaganda bahwa bahasa asing lebih memudahkan individu mencari materi menjadi iming-iming lezat yang disuguhkan, terutama kepada kawula muda.            Dengan mudahnya propaganda tersebut tersebar melalui berbagai media.

Memang, tidak salah jika rakyat Indonesia memajukan pengetahuannya dan terbuka terhadap perkembangan dengan memelajari bahasa asing. Namun, tentu pembelajaran itu nantinya untuk memajukan bangsa Indonesia agar bisa menjadi pesaing bangsa asing. Bukannya justru orang-orang yang telah pandai itu dilucuti satu per satu dari bumi pertiwi demi pengabdian pada perusahaan asing, apalagi untuk memajukan negara mereka.

Ini semua adalah metode yang telah dibangun pelan-pelan. Ranjau yang disiapkan bagi generasi muda untuk mengikuti arus modernisme, westernisasi, globalisasi kelewatan, dan berakhir pada panggung bahasa asing sebagai bahasa keren. Bahasa Indonesia bukan lagi minat utama. Maka, tak heran jika pelajar-pelajar kita justru mendapatkan nilai buruk di mata pelajaran tersebut. Ketertarikan terhadap bahasa asing melejit tinggi, berbanding terbalik dengan kecintaan pada bahasa ibu yang luntur perlahan-lahan.

            Sering kita lihat dan dengar, tokoh Indonesia justru mencampur-campur bahasa ketika sedang berpidato, atau malah tidak benar ketika mengucapkan silabel-silabel dalam penuturan bahasa Indonesianya. Ini membuktikan bahwa anak bangsa tidak lagi menganggap penting kaidah-kaidah dalam berbahasa.

            Menyikapi hal ini, diperlukan kesadaran dari pihak pemerintah dan instansi pendidikan untuk merombak kebiasaan lama. Pendidikan Bahasa Indonesia dapat digalakkan dengan berbagai cara. Misal, pelajar dapat diwajibkan membaca sekian buku setiap bulan atau minggu. Selain itu, berbagai pelatihan bahasa dapat diadakan untuk menumbuhkan cinta pada bahasa sendiri. Pemerintah dapat menyokong kegiatan-kegiatan tersebut dan instansi pendidikanlah yang menyelenggarakannya.

            Dengan cara-cara tersebut, diharapkan para pemuda dapat menemukan identitasnya. Jati diri yang terpupuk dapat menyadarkan mereka dan membantu mereka untuk bersatu memprakarsai suara vokal menentang penjajahan. Ketika tiba saatnya nanti, Indonesia akan bangkit dari keterpurukan dan menjuarai berbagai sektor hanya dengan satu semangat berupa persatuan melalui sarana bahasa Indonesia. Di masa mendatang, budaya yang dirasa kecil—hanya sebagai alat ucap—akan berarti sangat besar untuk membentuk perubahan.

 

Komentar Artikel



Nama
Email
Website
Komentar
Masukkan Kode Verifikasi
 



 

Hubungi Kami :

SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, 61215
Jl. Mojopahit 666 B Telp. (031) 8921591, Fax (031) 8957099
Email : smam2.sda@gmail.com
Developed by ICT-team of SMA MUhammadiyah 2 Sidoarjo, Desember 2011

Layanan Konsultasi Website :

klik disini
Layanan Online Yahoo Messenger :