Petunjuk Login

1. Isikan username dengan benar

Username untuk guru dan karyawan adalah nomer urut karyawan, sedangkan untuk siswa dan alumni adalah dengan nis siswa

2. Isikan Password dengan benar

Password untuk guru, karyawan , siswa dan alumni untuk pertama kali login adalah tahun, bulan dan tanggal lahir contoh : 19880130

Untuk login selanjutnya, lakukan pengubahan password demi keamanan akun Anda

Terima kasih

Login Anggota

Coretan Siswa


Senja yang Raib

Diposting pada : 2017-03-08 | 10:05:06
Oleh : Niswatul Hikmah Assaudiyah | Email : | Dibaca sebanyak : 111 kali

Senja yang Raib

"Niswa Assaudiyah" <niswa.assaudiyah@gmail.com> 

Senja telah hilang, awan telah pergi.

.

Tiba-tiba saja, hari itu, matahari yang biasa kemilau keemas-emasan tidak memunculkan diri. Langit selalu biru, tak berubah warna. Matahari yang biasanya menenggelamkan diri menampakkan bilur-bilur merahnya itu tidak lagi terlihat. Aku sedang menantikannya di sebuah pantai sepi penghuni, bersama debur ombak dan pasir yang basah. Kicau burung-burung yang sibuk ingin kembali ke sarang masing-masing, juga kelepak nyiur pohon kelapa bising terdengar, namun tak ada satu pun derap langkah manusia. Tapak kakinya saja tidak terlihat. Mungkin mereka segan menuruni gundukan pasir pantai yang landai.

Aku masih menunggu matahari, namun langit tetap saja biru. Biru itu semakin mengelam, dan aku tidak melihat matahari itu menenggelamkan diri di ujung pantai sana. Ke manakah matahari yang tadi pagi rasanya masih menyinari? Ke manakah bola raksasa yang biasa menghangatkan diri?

Aku beranjak dari pantai, menjejakkan kakiku pada pasir yang basah. Mataku mengarah ke langit, mencari ke arah timur kembali, mungkin saja ini waktunya matahari tak lagi jatuh ke barat? Semakin lebar tapak langkahku, semakin cepat aku berjalan.

“Tuan, mencari apa?” seorang wanita di pinggir kafetaria bertanya, memancingku menoleh.

“Senja,” jawabku langsung pada poin utama. Yang kucari bukan semata matahari. Tapi, matahari yang menguning keemasan atau menjingga kemerahan, biasanya ia selalu muncul bersama debur ombak dan diminati banyak anak-anak. Sayap-sayap jingganya adalah obat yang senantiasa kunantikan. Jadi, aku tak mencari matahari pagi, apalagi bola raksasa siang yang menyengat kepala membuat migrain.

“Siapa Senja?”  ia bahkan tak repot-repot menghampiriku, tetap berdiri di depan pintu, enggan menjejak pada pasir yang separuh basah.

“Bukan siapa,” jawabku frustrasi sedetik kemudian, “senja itu milik langit.”

“Apa itu? Apakah nama bintang?”

“Senja itu matahari yang kekuningan, kau bodoh atau apa?” sergahku tak sabaran. Wajahnya mengerut-ngerut bingung, membuatku muak seketika. Hendak kulanjutkan rajutan langkah ketika wanita itu menyela lagi.

“Maaf, Tuan, tapi kurasa pantai ini tidak pernah menyediakan matahari. Sudah lama sejak langit hanya bisa membiru dan menghitam, tidak ada yang kuning seperti apronku ini.” Dia menunjuk pada celemek yang dia gunakan. Kuning muda, cerah untuknya.

“Maksudmu aku mengkhayal?”

Aku mendengus saat dia menjawabnya dengan anggukan kaku. Tetap kulanjutkan rajutan langkah. Ketika tiba di jalan setapak, ada sebuah toko buku. Kumasuki hanya untuk mencari kamus besar yang biasa kugunakan untuk mencari arti suatu kata. Tidak peduli kondisi celana yang basah dan kaki berbutir pasir pantai, aku melepas plastik yang membungkus kamus itu.

S. Senja. S-e-n-j-a.

M. Matahari. M-a-t-a-h-a-r-i.

Hampir gila aku ketika tidak menemukan kedua kosakata itu di dalam kamus besar. Apa bahasaku telah berubah? Apa aku salah menjejak pantai, atau berpindah negara tanpa sepengetahuan diriku sendiri?

“Maaf, tapi apa kautahu ke mana senja?” tanyaku pada pramuniaga toko. Ia menatap kamus besar yang ada di tanganku, kemudian mengerutkan kening heran.

“Saya tidak kenal orang bernama—”

“Maksudku bukan orang!” seruku, depresi. “Maksudku, matahari, ya, jingga sekali. Senja yang biasa muncul di pantai untuk dilihat wisatawan.”

“Tidak ada yang bernama matahari dan senja di sini, Tuan. Pantai pun tidak menyimpan itu. Wisatawan suka memotret, tapi itu sebatas ombak dan langit biru.”

Dia berlalu setelahnya, mungkin mengiraku orang gila. Aku terduduk, menatap ke luar pintu kaca toko buku itu. Langit sudah menghitam. Hitam sekali. Gelap secara keseluruhan. Lantas, aku jadi mengingat sesuatu.

Kubuka kamus itu di halaman awal.

A. Awan. A-w-a-n.

Benar sekali, tidak ada kosakata itu. Kamus ini aneh. Tempat yang kupijak juga aneh. Aku memutuskan keluar dari toko dan menggeletakkan kamus itu di lantai saja tanpa ada yang menaruh curiga. Tanpa ada yang berteriak minta aku membayar barang yang telah dibuka.

Di luar pintu, aku melihat langit gulita yang mencemoohku. Tidak berhasil kutemukan senja kemerahan sekadar untuk mengusir piluku. Begitu pula awan yang biasa berarak, sedikit terlihat di angkasa meski malam telah datang. Biasanya tidak segelap ini. Dan, aku tidak pernah merasa segelap ini.

Tiba-tiba, dari balik kegelapan itu, sebuah cahaya turun ... terus turun ....

Aku tidak sempat berpikir apakah itu bintang jatuh ataukah meteor yang hendak memeluk bumi, sampai visiku begitu terang benderang.

 

“Kau sudah tidur berapa lama, heh?”

“Senja?” gumamku.

Tawa menggema. Gadis berambut sebahu di sebelahku mengulurkan soft drink. Aku mengucek mataku, menerawang sekeliling. Awan berarak, langit memerah.

“Senja.” Aku tersenyum lebar sekali, hampir menangis.

“Jangan seperti orang bodoh. Ayo kita mulai pemotretannya. Kita sudah menunggu matahari itu tenggelam sampai kau ileran!”

Aku beranjak. Ingin rasanya memeluk senja—matahari yang kemerah-merahan, namun dia masihlah dipeluk awan putih berarak pelan-pelan. Dan, aku, cukuplah menjadi penggemar setianya dengan DSLR menggantung di leher. Memeluknya dengan jepretan demi jepretan.

 

end.

Komentar Artikel


2017-08-14 | 04:08:09
hasanuddin | - | hasanuddin_smamta@yahoo.com
Lanjutkan. Tekuni. Moga jadi novelis handal

Nama
Email
Website
Komentar
Masukkan Kode Verifikasi
 



 

Hubungi Kami :

SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, 61215
Jl. Mojopahit 666 B Telp. (031) 8921591, Fax (031) 8957099
Email : smam2.sda@gmail.com
Developed by ICT-team of SMA MUhammadiyah 2 Sidoarjo, Desember 2011

Layanan Konsultasi Website :

klik disini
Layanan Online Yahoo Messenger :