Detail Berita

  • admin
  • 23 November 2020

LAZISMU SMAMDA BERBAGI KE WARGA LUMAJANG

Sehari setelah Milad Muhammadiyah ke-108, Kamis (19/11/2020), kami tim Lazismu SMAMDA Sidoarjo mengadakan Rihlah ke Lumajang. Rihlah ini bukan perjalanan biasa, karena tujuan kami ke Gedung Dakwah Muhammadiyah Lumajang, tepatnya di Jalan Brantas 36 Lumajang. Mungkin tidak berlebihan, bila dikatakan kami memperingati Milad Muhammadiyah dengan perjalanan ini. 
Tepat pukul 07.30 WIB, kami berangkat dari SMAMDA. Seragam Lazismu SMAMDA putih-orange  ikut menguatkan maksud kami dalam Gerakan Filantropi ini, berbagi daging kurban dalam bentuk jadi “RendangMu”  sebanyak 672 kaleng ke warga Lumajang. 
    Disambut penuh hangat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Lumajang oleh PDM, PDA, dan Lazismu, sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu kami bisa mengenal Bapak-Bapak Muhammadiyah dan Lazismu, serta ibu-ibu Aisyiyah yang penuh semangat ber-Muhammadiyah, seperti (Pak) Suharyo, Muari, Aminudin, (Bu) Lilik, Endang, Erna, dan Imas. Suguhan dari produk Aisyiyah  seperti jamu beras kencur, sinom, dan kunir asam dingin bisa kami nikmati. Terasa beda memang, kami menilai Muhammadiyah Lumajang benar-benar memiliki program kerja yang memperhatikan akar rumput. 
    Acara seremonial resmi pun dimulai, dua puluh menit kemudian. Dibuka oleh Pak Muari, ketua Lazismu  dan dilanjutkan sambutan-sambutan. Sambutan pertama, Wigatingsih, M.Pd., Kepala SMAMDA, dalam sambutannya menyampaikan  bahwa penyerahan RendangMu ini tak lain adalah bagian dari program kerja “Dakwah Terpadu”. Setiap tahun diadakan saat Idul Adha. Karena pandemi, kegiatan tersebut dirancang dengan memenuhi protokol kesehatan, yaitu dengan meniadakan massa yang berkumpul.
    “Dakwah Terpadu dilaksanakan di luar sekolah, tepatnya di tempat yang jumlah warga Muhammadiyah minim. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah buka puasa Arafah bersama, bersilaturahim, sholat Idul Adha, penyembelihan dan pembagian hewan kurban. Semuanya dilakukan bersama dan untuk warga setempat. Tahun 2020, program ini memang diperuntukkan warga Lumajang. Hanya saja dilakukan dengan cara berbeda. Sekolah bekerja sama dengan Lazismu PWM Jatim, yaitu dengan mengikuti program paket RendangMu dan saat ini kami serahkan. Mudah-mudahan tetap dapat memberi makna pada warga sekitar dan mendapat berkah dari Allah SWT, “ungkap Wigati lebih lanjut. Sesudahnya, Bu Wigati pun mengenalkan kami satu persatu. 
    Usai sambutan Kepala SMAMDA, detik-detik selanjutnya inilah kami seolah harus membuka mata lebih lebar tentang arti perjuangan amar makruf nahi mungkar sebagai bentuk pergerakan Muhammadiyah.
    Pak Muari memberikan informasi tentang Lazismu Lumajang. Sebagai kota kecil, Lumajang memiliki jumlah penduduk 1.300.000 orang dan 11% termasuk golongan miskin. Apalagi saat pandemik, jumlah masyarakat miskin bertambah. Alokasi zakat sebenarnya mencapai Rp 250 M yang dapat membantu masyarakat, tapi hanya lebih kurang Rp 10 M saja yang diserap. Kerjasama dengan Lazismu PWM Jatim juga dijalani, berupa order RendangMu sebesar Rp 85 jt yang sudah didistribusikan kepada warga.
    Sambutan Ketua PDM Lumajang, Pak Suharyo, juga membuat kami perlu meneladaninya. Bapak ini bercerita tentang B29 atau Ranu Pani, sebuah Kawasan yang paling tinggi dan dingin di Lumajang. Sebutan lainnya adalah desa di atas awan. Kalau berada di B29, seperti naik pesawat terbang karena dikelilingi oleh awan. Yang lebih penting adalah penduduknya masih muallaf dan masih perlu pembinaan berkelanjutan. Oleh sebab itu, Muhammadiyah di daerah tersebut dalam berdakwah juga menyesuaikan dengan kebutuhan. 
    “ Teman-teman Muhammadiyah di sana sampai membangun pipa air sepanjang 47 Km, agar penduduk bisa berwudlu. Masjid juga dibangunkan, agar penduduk dapat menjalankan ibadah salat dan lainnya dengan lancar. Lazismu juga lebih mudah berinteraksi dengan penduduk, “ungkap Pak Haryo.
    Pak Haryo menambahkan ceritanya tentang adanya fenomena di Gosari, selain Ranu Pani. Di daerah tersebut masih ada Kawasan hutan yang masih “perawan”, hanya bisa dilewati jalan setapak atau motor saja. Bila Khotib Jumat kehabisan bensin saat perjalanan ke desa tersebut, maka Salat Jumat pun libur. Untuk menjaga keberlangsungan Islam, khususnya terus ada Salat Jumat, pengurus Muhammadiyah dan Aisyiyah “urunan” bensin. Selain itu, masih ada warga yang tidak memiliki kartu keluarga.
    Patut diacungi jempol pergerakan Muhammadiyah-Aisyiyah Lumajang, sampai-sampai PP Aisyiyah memberikan penghargaan. Dakwah dilakukan dengan berbagai metode yang sesuai dengan medannya, untuk menjaga moralitas, mencerahkan mindset keagamaan, dan mendampingi dalam hal aplikasi pemahaman agama para warga. Amal usaha selain sekolah, juga diupayakan untuk melebarkan area dakwah, yaitu RS Muhammadiyah Lumajang, walau tipe D tapi sudah ditetapkan sebagai RS Rujukan Covid-19 dan SPBU. 
    Akhirnya acara seremonial diakhiri dengan serah terima RendangMu oleh Kepala SMAMDA kepada Ketua PDM Lumajang dan foto bersama. Kami pun pulang pukul 12.00 WIB.
    Rihlah ini benar-benar berkesan bagi kami. Selain bersilaturahim, kami memiliki pengalaman dari dekat tentang realisasi ber-Muhammadiyah. Ternyata masih banyak hal yang harus kami lakukan untuk membumikan QS. Al-Maun dan QS. Ali Imron: 104. 

Siti Agustini (Waka Humas dan PSDM SMAMDA)