Detail Berita

  • admin
  • 24 September 2020

PENDIDIKAN KARAKTER DI SMAMDA SIDOARJO

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdikbud adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”.  Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.  Atau dengan melakukan Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) untuk menjadikan peserta didik berkarakter mulia.

Seseorang berkarakter mulia jika dia memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan serta mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Hal ini sesuai dengan Teori Pendidikan Moral; Elias (1989) beliau mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Teori inilah yang digunakan dalam proses pendidikan moral di sekolah-sekolah di Indonesia termasuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah termasuk yang diterapkan di Smamda Sidoarjo. Smamda Sidoarjo yang merupakan bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah dalam  bidang pendidikan mengemban misi dakwah Muhammadiyah dalam rangkah mencerdaskan masyarakat Indonesia.

Peserta didik di Smamda Sidoarjo diperkenalkan nilai-nilai pendidikan karakter di semua muatan kurikulum pada semua mata pelajaran yang memuat dan terumuskan dalam KI-1 untuk aspek spiritual dan KI-2 untuk aspek sosialnya, untuk mendasari KI-3 aspek kognitif dan KI-4 aspek psikomotor. Bahwa seorang peserta didik ketika dia memiliki sebuah pengetahuan tidak terlepas dari keyakinan nilai beragamanya yaitu ilmu adalah milik Allah maka ketika mau mempelajari suatu ilmu dia tidak lupa berdo’a. setelah berdo’a seorang siswa menyadari bahwa untuk meraih ilmu tersebut dibutuhkan kesungguhan, ketelitian, kesabaran dan kebersamaan dengan sesama peserta didik sebagai teman diskusi untuk memperdalam dan memperkuat pemahamannya dalam hal ini guru-guru di Smamda Sidoarjo ketika membantu anak-anak belajar memberikan tantangan yang harus diselesaikan secara kelompok agar anak-anak terbiasa ketika mendapatkan sebuah masalah tidak selalu diselesaikan sendiri akan tetapi bisa diselesaikan dengan ide-ide dari orang lain.

Nilai-nilai karakter yang ditanamkan kepada peserta didik di Smamda Sidoarjo diambil dari Al-quran dan Hadist Rosulullah SAW. Karena dalam Al-qur’an dan Hadist mengandung filosopi manusia dan keterkaitan dengan kemanusiaannya serta kandungan nilai moral universal (bersifat absolut) yang kita yakini datang dari sang Kholik (pencipta) manusia itu sendiri yaitu Allah SWT. Lebih khusus lagi nilai-nilai tersebut telah diuraikan dan dirumuskan oleh Muhammadiyah seperti Ideologi Muhammadiyah, Khittah dan Langkah Muhammadiyah, MKCH, PHIWM, HPT Muhammadiyah serta berbagai Pedoman Pengelolaan yang ada di Muhammadiyah.

Smamda ingin memperkuat gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan Pemerintah sejak tahun 2016. Seperti yang dituntut banyak pihak terkait pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, dalam bentuk perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya dengan berbagai program seperti pembiasaan berdo’a mengawali dan mengakhiri pelajaran, membaca Al-qur’an dan menghafal surat-surat pendek, shalat jamaah, pembiasaan infaq, Spiritual Camp dll.

Dalam pendidikan karakter di Smamda Sidoarjo, semua komponen (pemangku pendidikan) dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan.

Integrasi proses pembelajaran intrakurikulerkokurikuler, dan ekstrakurikuler di Smamda Sidoarjo dilaksanakan dengan berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan organisasi, Instansi, dan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan. Seperti dengan Kepolisian, BNN, Puskesmas (Kesehatan) kelompok difabel, Pecinta Alam, Pecinta Masjid, Lazismu dll.                        

Guru dan karyawan Smamda Sidoarjo membantu membentuk watak peserta didik dengan keteladanan; bagaimana perilaku guru dan karyawan, cara mereka berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana mereka bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Sebagai penutup penulis sebagai Waka Ismuba berharap banyak masukan dari berbagai pihak agar peran Ismuba di sekolah ini bisa lebih besar dalam memperkuat pendidikan karakter di Smamda Sidoarjo yang kita cintai ini.

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdikbud adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”.  Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.  Atau dengan melakukan Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) untuk menjadikan peserta didik berkarakter mulia.

Seseorang berkarakter mulia jika dia memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan serta mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Hal ini sesuai dengan Teori Pendidikan Moral; Elias (1989) beliau mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Teori inilah yang digunakan dalam proses pendidikan moral di sekolah-sekolah di Indonesia termasuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah termasuk yang diterapkan di Smamda Sidoarjo. Smamda Sidoarjo yang merupakan bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah dalam  bidang pendidikan mengemban misi dakwah Muhammadiyah dalam rangkah mencerdaskan masyarakat Indonesia.

Peserta didik di Smamda Sidoarjo diperkenalkan nilai-nilai pendidikan karakter di semua muatan kurikulum pada semua mata pelajaran yang memuat dan terumuskan dalam KI-1 untuk aspek spiritual dan KI-2 untuk aspek sosialnya, untuk mendasari KI-3 aspek kognitif dan KI-4 aspek psikomotor. Bahwa seorang peserta didik ketika dia memiliki sebuah pengetahuan tidak terlepas dari keyakinan nilai beragamanya yaitu ilmu adalah milik Allah maka ketika mau mempelajari suatu ilmu dia tidak lupa berdo’a. setelah berdo’a seorang siswa menyadari bahwa untuk meraih ilmu tersebut dibutuhkan kesungguhan, ketelitian, kesabaran dan kebersamaan dengan sesama peserta didik sebagai teman diskusi untuk memperdalam dan memperkuat pemahamannya dalam hal ini guru-guru di Smamda Sidoarjo ketika membantu anak-anak belajar memberikan tantangan yang harus diselesaikan secara kelompok agar anak-anak terbiasa ketika mendapatkan sebuah masalah tidak selalu diselesaikan sendiri akan tetapi bisa diselesaikan dengan ide-ide dari orang lain.

Nilai-nilai karakter yang ditanamkan kepada peserta didik di Smamda Sidoarjo diambil dari Al-quran dan Hadist Rosulullah SAW. Karena dalam Al-qur’an dan Hadist mengandung filosopi manusia dan keterkaitan dengan kemanusiaannya serta kandungan nilai moral universal (bersifat absolut) yang kita yakini datang dari sang Kholik (pencipta) manusia itu sendiri yaitu Allah SWT. Lebih khusus lagi nilai-nilai tersebut telah diuraikan dan dirumuskan oleh Muhammadiyah seperti Ideologi Muhammadiyah, Khittah dan Langkah Muhammadiyah, MKCH, PHIWM, HPT Muhammadiyah serta berbagai Pedoman Pengelolaan yang ada di Muhammadiyah.

Smamda ingin memperkuat gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan Pemerintah sejak tahun 2016. Seperti yang dituntut banyak pihak terkait pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, dalam bentuk perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya dengan berbagai program seperti pembiasaan berdo’a mengawali dan mengakhiri pelajaran, membaca Al-qur’an dan menghafal surat-surat pendek, shalat jamaah, pembiasaan infaq, Spiritual Camp dll.

Dalam pendidikan karakter di Smamda Sidoarjo, semua komponen (pemangku pendidikan) dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan.

Integrasi proses pembelajaran intrakurikulerkokurikuler, dan ekstrakurikuler di Smamda Sidoarjo dilaksanakan dengan berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan organisasi, Instansi, dan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan. Seperti dengan Kepolisian, BNN, Puskesmas (Kesehatan) kelompok difabel, Pecinta Alam, Pecinta Masjid, Lazismu dll.                        

Guru dan karyawan Smamda Sidoarjo membantu membentuk watak peserta didik dengan keteladanan; bagaimana perilaku guru dan karyawan, cara mereka berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana mereka bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Sebagai penutup penulis sebagai Waka Ismuba berharap banyak masukan dari berbagai pihak agar peran Ismuba di sekolah ini bisa lebih besar dalam memperkuat pendidikan karakter di Smamda Sidoarjo yang kita cintai ini.

Oleh : Drs. Hasanuddin, M.Pd.I (Waka Ismuba 2019/2023)