Detail Berita

  • Admin
  • 02 September 2019

Mendidik Dengan Hati

Wigatiningsih - Dunia pendidikan adalah dunia setiap orang. Semua orang yang terlahir di muka bumi ini tidak lepas dari pendidikan, baik formal maupun nonformal. Pendidikan itu berlaku seumur hidup. Di pendidikan formal, semua orang melawati dengan fase-fase sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.

Tujuan pendidikan adalah mematangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap anak didik. Sama dengan tujuan sekolah dan belajar, yaitu mengembangkan kecerdasan anak, di antaranya kemampuan bermusik, berbahasa, berhitung, menulis, berkomunikasi, menjalin hubungan, melukis dan berolahraga. Cerdas dan berkarakter adalah tujuan pendidikan; sehat jasmani dan rohani; keseimbangan jiwa dan raga.

Semua sepakat bahwa setiap anak adalah unik. Mereka terlahir dengan potensinya masing-masing. Tuhan menempelkan kecerdasan yang berbeda pada setiap makhluk yang bernama manusia, yang menurut ilmuwan Howard Gardner ada delapan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap anak. Delapan kecerdasan itu di antaranya adalah kecerdasan logika matematika, linguistik, musik, interpersonal, intrapersonal, naturalis, visual spasial, dan kecerdasan kinestetik.

Setiap anak berhak mengembang kecenderungan kecerdasannya itu sesuai dengan kemampuan yang mendominasi pada dirinya tentu dengan dukungan dari orang-orang dekatnya dan konsen pada anak tersebut. Maka diperlukan orang-orang atau sosok guru yang memahami anak tersebut. Melalui pendekatan dan pendidikan dengan hati yang tulus ikhlas. Sebagai seorang guru tentu sudah memahami secara teori, bahwa guru tidak hanya berkompeten  secara pedagogik tapi lebih dari itu, kompetensi guru juga meliputi  profesional, sosial, dan kompetensi kepribadian. Hal itu sesuai Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen.

Apapun yang kita lakukan untuk anak-anak kita maupun anak didik kita, semua  kita niatkan untuk beribadah. Karena mendidik itu bagian dari kita bekerja di lingkungan pendidikan yang kita setiap hari berada di sana. Berarti bekerja kita adalah ibadah.

Keberadaan kita di tempat kita mendidik dan mengajar itu bukanlah terletak pada sejumlah atau sederetan waktu, tetapi sejauh mana kita mampu memberi warna dan memberi makna di tempat itu. Maka status guru itu bukan terletak pada lamanya kita menjadi seorang guru di sekolah kita tetapi berapa banyak ilmu pengetahuan, nilai-nilai, teladan baik yang kita berikan kepada anak didik kita.

Agama Islam pada 14 abad lalu memberi ajaran kepada kita bahwa umat Islam harus bekerja dengan sungguh-sungguh dan disiplin diri. Di dalam Alquran surat Az-zumar ayat 39,  yang maknanya sarat pesan moral, yaitu

1. harus bekerja dengan sungguh-sungguh

2. bekerja secara dinamis

3. bekerja secara terus menerus, dan

4. melakukan  kegiatan yang positif.

 

Jika kita sebagai guru, maka pesan di atas berarti kita diperintahkan menjadi guru dengan mengajar secara sungguh-sungguh. Mengajar  dengan sungguh-sungguh itu sama dengan mengajar dengan hati. Guru juga  memiliki banyak ide kreatif, selalu menemukan  karya inovatif, dan menginspirasi banyak siswa dan teman sejawat yang lain.

Guru yang mengajar dengan hati selalu dinanti dan dirindukan anak didik… karena banyak cerita, pengalaman yang menginspirasi.

Melihat dinamika pendidikan saat ini sangat dipengaruhi oleh kondisi era ini yaitu era revolusi industri yang sarat dengan perubahan secara tiba-tiba. Kondisi ini semua siswa sangat dipengaruhi oleh keberadaan teknologi. Semua pengetahuan bisa didapatkan melalui teknologi, kapan saja, di mana saja. Maka di situlah pentingnya keberadaan seorang guru. Guru tidak bisa digantikan dengan teknologi sampai kapanpun. Pendekatan dan sentuhan-sentuhan dari hati ke hati hanya bisa dilakukan seorang guru kepada anak didiknya secara langsung. Maka di situ pulalah pentingnya mengajar dengan hati. Melalui pendekatan menggunakan dengan hati itulah semua bisa diklarifikasi manakala siswa mendapatkan kesulitan belajar, mendapat mis informasi, dan sejenisnya.

 

Semoga dengan semakin bertambahnya semangat guru mengajar dengan hati, akan semakin cepat karakter anak didik terbentuk. Karakter yang kokoh  inilah yang akan melahirkan generasi unggul di masa mendatang.

 

Artikel ditulis  Oleh Wigatiningsih,M.Pd